Geliat Semangat Literasi


Ketika pertama kali membaca judul dari tulisan ini, apa yang terlintas dalam pikiran Anda? Dan mengapa judul yang diambil harus geliat semangat literasi?

Bagi dunia akademik, literasi merupakan sebuah budaya yang sudah mengakar sejak turun temurun perguruan tinggi berdiri. Seorang Mahasiswa, setiap harinya harus dipaksa bergelut dengan literasi. Mulai dari membaca buku, koran, membaca jurnal, membaca makalah, menulis makalah, membuat penelitian, membuat jurnal, dan lain sebagainya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca; pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa literasi berhubungan dengan baca-tulis. Baca-tulis dalam literasi, sama halnya dengan sekeping mata uang, yang apabila salah satu sisinya tidak ada, maka sama dengan ketiadaan keduanya.

Pertanyaannya, apakah semangat membaca dan menulis saat ini sudah kurang diminati lagi di Indonesia? Dan bagaimana geliat literasi masih tetap eksis ditengah merebaknya budaya copy-paste?

Menurut data United Nations Educational Scietific Organization (UNESCO), pada tahun 2012, indeks minat baca masyarakat Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya, dari setiap 1.000 orang Indonesia hanya ada 1 orang saja yang mempunyai minat baca tinggi (http://www.republika.co.id/berita/nasional). Selain itu, fakta menunjukkan bahwa jumlah terbitan buku di Indonesia tergolong rendah, tidak sampai 18.000 judul buku per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah.

Minat baca masyarakat yang  rendah, memiliki hubungan secara langsung dengan keterampilan menulis. Seorang penulis yang baik, terlebih dahulu menjadi pembaca yang baik. Seseorang dalam menulis sebuah karya, membutuhkan berbagai referensi yang dapat menunjang karyanya tersebut, baik berupa buku, jurnal, maupun referensi lainnya. Apabila budaya membaca tidak diprioritaskan seorang penulis, maka akan menimbulkan keinginan menghasilkan karya, namun dengan tidak banyak membaca referensi. Keinginan seperti ini akan menimbulkan kemungkinan terjadinya plagiarisme.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, plagiat diartikan sebagai pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dan sebagainya) sendiri, misalnya menerbitkann karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri; jiplakan. Sedangkan plagiarisme memiliki makna penjiplakan yang melanggar hak cipta. Plagiarisme merupakan tindakan yang paling buruk apabila dilakukan oleh seorang penulis dalam membuat karyanya. Plagiarisme sebagai bentuk usaha praktis seseorang dalam menciptakan sebuah karya. Padahal dengan menjiplak karangan orang lain, berarti membatasi kemampuan sendiri untuk berkarya dan membunuh karakter seorang penulis.

Plagiarisme seakan menjadi sebuah duri yang menusuk dalam tenggorokan. Bagi seorang penulis, sebuah karya tak ubahnya sesuap nasi yang begitu diharapkan. Keberadaan karya merupakan sesuatu yang urgen, bahkan bisa melebihi kebutuhan seorang penulis akan karbohidrat. Dan ketika karya yang dihasilkannya dijiplak/diplagiat orang lain, maka sama halnya penyerapan karbohidrat yang dilaksanakan oleh selain tubuh. Padahal tubuh memerlukan kandungannya untuk tetap menyuplai tenaga. Begitulah karya, karya ibarat oase atau makanan yang sangat dibutuhkan oleh seorang penulis, terlebih bagi mereka yang berkecimpung dalam civitas akademik. Lantas, bagaimanakah cara untuk membangkitkan semangat literasi?

Pertama, asosiasi budaya lain ke budaya membaca dan menulis. Kegemaran membaca dan menulis bukan menjadi prioritas seseorang dalam hidupnya, sebagian besar lebih menyukai kegiatan-kegiatan yang menimbulkan kesenangan. Misalnya bernyanyi, bermain game, menonton film, menonton televisi, atau hanya sekadar menghabiskan waktu untuk aktif di media sosial. Budaya membaca, seharusnya dibiasakan sejak usia dini. Keluarga, terutama orang tua mempunyai peran yang sangat menentukan. Fungsi keluarga bukan semata-mata memberikan kasih sayang dan mencukupi kebutuhan hidup anak, tetapi juga bertanggungjawab melakukan fungsi asosiasi termasuk di dalamnya mendidik anak agar memiliki perilaku gemar membaca dan menulis. Apabila budaya membaca dan menulis saat ini tidak menjadi prioritas, maka asosiasikan budaya lain yang kurang bermanfaat ke budaya membaca dan menulis.

Kedua, manfaatkan waktu luang untuk membaca. Semua orang memiliki waktu 24 jam dalam satu hari. Dalam waktu 24 jam tersebut, ada yang bisa melakukan segala aktivitasnya dengan baik, namun adapula yang membiarkan waktu yang berharga setiap detiknya berlalu begitu saja tanpa melakukan aktivitas yang berarti. Daripada waktu berlalu dengan tidak melakukan aktivitas, sebaiknya gunakanlah waktu itu untuk membaca. Meskipun membaca hanya dilakukan 15 menit dalam sehari, namun manfaatnya akan terasa hingga 15 tahun kedepan. Buatlah jadwal khusus untuk membaca setiap harinya, misalnya setelah mandi sore sambil menunggu waktu maghrib.

Ketiga, biasakan membaca terlebih dahulu sebelum menulis. Siswa, maupun mahasiswa tentunya memiliki banyak tugas yang harus dikerjakan. Tugas-tugas tersebut menuntut kita untuk  belajar secara mandiri dan bertanggungjawab. Setiap tulisan yang kita hasilkan harus berdasarkan referensi yang terpercaya. Dalam membuat tulisan, biasakanlah untuk membaca referensi berupa buku, jurnal, maupun referensi lainnya.

Semenarik apapun budaya lain yang ada saat ini, tetaplah untuk mengutamakan semangat literasi, agar terciptanya manusia yang berkualitas, dan bertanggungjawab terhadap hasil karyanya.

Baca Juga:  Menulis Itu Memulai

Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
M Arif Rohman Hakim
Bukan siapa-siapa. Hanya anak pasangan petani sederhana yang tidak ingin hidupnya berlalu saja tanpa makna. Terobsesi pada kata-kata yang cerah-gerakkan manusia. Senang mendengar dan berbagi cerita, namun tak pernah mau berbagi suaranya dengan yang lain. Sebab, menulis merupakan sarana yang digunakannya untuk berbagi.