Gaya Bahasa Al-Ijaz (Elipsis) Kalimat


0
12 shares

Hari-hari ini, kita diramaikan oleh berita pernyataan Kyai Said Agil Siradj yang menghebohkan. Dalam berita itu disebutkan bahwa Kyai Said mengatakan Selain NU salah. Kontroversi berkembang karena kita tidak mendapatkan informasi utuh dan tidak mengerti gaya bahasa yang sedang beliau gunakan dalam pidato itu.

Dalam kacamata Ilmu Balaghah atau Susastra Arab, Kyai Said sedang berpidato menggunakan gaya bahasa al Ijaz (ellipsis), yakni membuang bagian tertentu dalam kalimat. Sudah banyak yang menjelaskan bagian kata yang tidak disebutkan dalam pidato itu. Bagi dunia pesantren, gaya bahasa ini sudah akrab di telinga mereka. Dalam Al Quran pun banyak sekali digunakan pola gaya bahasa Al Ijaz ini.

Menurut Ilmu Balaghah, Al Ijaz adalah teknik meringkas makna dalam suatu ungkapan yang mencakup maksud yang dibicarakan. Dalam pengertian lain, Ijaz juga bermakna membuang bagian tertentu dari suatu kalimat. Pembuangan ini tentu saja mengandung maksud tertentu, misalnya untuk keindahan kalimat. Bisa juga pembuangan ini dilakukan karena si pembicara (al mutakallim) dan pendengar (al mukhatab) sudah sama sama maklum akan maksud dari pembicaraan (al kalam).

Al Ijaz dalam Bahasa Arab ada dua jenis, yakni Ijaz al Qashr dan Ijaz al Hadzf. Ijaz al Qashr adalah meringkas makna dalam suatu kata yang mencakup seluruh makna yang dimaksud. Contoh Ijaz al Qashr adalah Hadits Nabi SAW إنما الأعمال بالنيات. Hadits ini mengandung makna yang dalam tetapi dengan bahasa yang sangat ringkas, yakni Amal itu tergantung niatnya. Jika ini dijelaskan panjang maka hadits ini bermakna amal baik atau buruk, berpahala atau tidak, bisa diukur dari niatnya. Jika niat nya baik, maka akan dihitung kebaikan dan mendapatkan pahala….dan seterusnya.

Baca Juga:  Disinggung dalam Alquran, Ini Keistimewaan Kuda dan Unta

Sedangkan Ijaz al hadfz adalah pembuangan bagian tertentu dari kata atau kalimat. Yang dibuang bisa huruf, kata bahkan kalimat. Dalam Al Quran Surat Maryam Ayat 20, Allah Berfirman  قالت أنى يكون لي غلام ولم يمسسني بشر ولم أك بغيا . Kata ولم أك adalah bentuk Ijaz hadzf (membuang kata). Kata yang dibuang adalah ن di mana asli kata tersebut adalah ولم أكن.

Jenis Hadzf lain adalah membuang sebuah kata dalam kalimat. Kata yang dibuang bisa Na’at (sifat, modifier), man’ut (inti frasa, head), mudlaf, mudlaf ilaih, bahkan Mubtada’ atau khabar. Dalam Firman Allah وجاهدوا فى الله حقّ جهاده ada bagian kata yang dibuang sebelum kata الله, yakni kata  سبيل yang berposisi sebagai mudlaf dalam kalimat. Sehingga ayat itu jika tidak mengalami ijaz akan berbunyi وجاهدوا فى سبيل الله حقّ جهاد. Contoh lain, ولئن سألتهم من خلق السموت والأرض ليقولنّ الله. Pada ayat ini ada bagian yang dibuang, yaitu kata هو yang berposisi sebagai mubtada’ (subjek) sehingga kalimat lengkapnya adalah ولئن سألتهم من خلق السماوات والأرض ليقولنّ هو الله.

Yang lebih ekstrim lagi, disebutkan dalam Al Quran كان النّاس أمّة واحدة فبعث الله النبيّين. Terjemah potongan ayat ini adalah “Dulu, manusia itu merupakan umat yang satu, kemudian Allah mengutus para nabi”. Pemahaman awam terhadap terjemahan ini adalah bahwa  sebelum diutus nya para nabi, manusia itu bersatu. Setelah mereka diutus, justru manusia itu bertikai. Pemahaman literal seperti ini tentu tidak tepat. Dalam kajian Ilmu balaghah, ada kalimat yang dibuang dalam ayat ini, yakni فاختلفوا yang terletak sebelum kata فبعث sehingga ayat lengkapnya كان النّاس أمّة واحدة فاختلفوا فبعث الله النبيّين sehingga terjemahan yang tepat untuk ayat ini adalah “Dulu, manusia itu merupakan umat yang satu, lalu mereka berselisih/bercerai, maka Allah mengutus para nabi”. Dari sini kemudian kita mendapatkan pemahaman ayat yang berbeda dan lebih tepat, yakni misi nabi adalah mempersatukan umat yang sudah terpecah belah.

Baca Juga:  Pergesaran Kajian Orientalis atas Al Qur'an

Masih banyak contoh lain dalam Al Quran yang bisa diulas. Maka pemahaman ilmu gaya bahasa untuk mencerna perkataan seseorang itu menjadi amat penting. Apalagi memahami Kalam Ilahi yang berasal dari yang Maha Benar, tentu lebih dibutuhkan dan sifatnya adalah wajib. Berbahaya sekali memahami teks atau kalam tanpa memahami ilmu nya.

Muhammad Arwani


Like it? Share with your friends!

0
12 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.