32.1 C
Jakarta

Eks Napiter di Wonosobo Ungkap Proses Radikalisasi Saat Saresehan dengan Tokoh Pemuda

Artikel Trending

AkhbarDaerahEks Napiter di Wonosobo Ungkap Proses Radikalisasi Saat Saresehan dengan Tokoh Pemuda
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Wonosobo – Mantan narapidana terorisme (napiter), Khoirul Ihwan, banyak bercerita tentang pengalamannya terkait masalah gerakan terorisme saat masih terlibat dalam kelompok garis keras itu.

Dia mengaku masuk organisasi radikal, dan melakukan gerakan teroris sejak 1998. Namun tidak langsung melakukan aksi, tapi butuh waktu dan proses yang cukup panjang.

“Semula saya mondok atau masuk pondok pesantren (ponpes). Di ponpes itu saya dikenalkan partai politik (parpol) berideologi Islam dan politik Islam. Kemudian masuk dan aktif di ranah intoleransi,” akunya.

Kisahi tu dia ceritakan saat menjadi narasumber dalam ‘Sarasehan Bersama Ormas dan Tokoh Pemuda Guna Menangkal Paham Radikalisme di Wilayah Wonosobo’, yang digelar Sat Intelkam Polres setempat, di Pibee Resto, baru-baru ini.

Ihwan mengaku, seiring pemahaman yang meningkat, dia lalu mulai masuk ke gerakan radikalisme. Ketika aktif di beberapa ormas Islam, sikapnya semakin fanatik. Bersamaan dengan itu, dia juga menarik diri dari parpol.

BACA JUGA  BNPT Lakukan Pra Audit Standar Minimum Pengamanan di Kantor KPU dan Bawaslu Provinsi Jabar

”Demokrasi adalah perbuatan syirik dan saya keluar. Kemudian saya aktif di Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dan organisasi terlarang lainnya. Masuk ranah terorisme ketika saya jihad. Waktu itu masih berani berontak belum ada UU-nya,” tegas dia.

Pada 2008, lanjut Ihwan, dirinya aktif di Jamaah Tiban Melayu, generasi ini yang paling awal memiliki paham radikal melalui medsos, lalu di blow-up ISIS pada 2015an. Kemudian menyusun strategi, mulai dari amaliah 2009 di Aceh, Jakarta dan Cirebon.

“Ke Sulawesi membuat pelatihan jihadis militer bersama Santoso. Saya dan teman saya ada banyak clash sehingga pecah. Saya menghalalkan darah dan harta semua orang termasuk keluarga saya,” bebernya.

Ihwan lalu melepaskan diri dari keluarga. Dia mengaku butuh proses panjang sembuh dan kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mencari banyak sumber untuk kembali, tidak berada di gerakan radikalisme lagi.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru