Dunia Tidak Baik-Baik Saja, Tapi Mukmin Tidak Boleh Panik

Harakatuna

02/04/2026

5
Min Read
Dunia Tidak Baik-Baik Saja, Tapi Mukmin Tidak Boleh Panik

Harakatuna.com – Sejak tahun 2020 hingga kini, berbagai artikel di situs web dan konten media sosial kerap memuat berita mengenai konflik global, ancaman perang, krisis energi, dan berbagai ketegangan internasional lainnya. Di media sosial, narasi tentang kemungkinan terjadinya Perang Dunia III juga sering muncul dan memicu kecemasan kolektif di tengah masyarakat.

Dalam pandangan sebagian ulama, umat manusia saat ini berada pada fase akhir dari perjalanan sejarah umat Islam. Fase tersebut dikenal sebagai Mulkan Jabariyyan, yakni masa ketika kekuasaan banyak diwarnai kepemimpinan yang otoriter serta meningkatnya konflik dan peperangan. Kondisi ini tentu menjadi ujian yang tidak ringan bagi manusia secara umum, terutama bagi orang-orang yang beriman.

Rasa cemas dan takut terhadap kemungkinan terjadinya konflik besar memang merupakan hal yang wajar. Namun, Islam memberikan pedoman agar seorang mukmin mampu menyikapi situasi global yang tidak menentu dengan sikap yang bijak dan penuh ketenangan.

Sikap Orang Mukmin di Tengah Konflik Global

Jika dicermati, potensi terjadinya konflik berskala besar memang selalu ada, terlebih pada era modern yang ditandai dengan kepemilikan senjata nuklir oleh sejumlah negara besar. Ketegangan antara negara-negara seperti Amerika Serikat dan Iran sering kali memunculkan kekhawatiran bahwa konflik yang lebih luas dapat terjadi sewaktu-waktu.

Situasi tersebut tidak jarang menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat dunia. Namun, bagi umat Islam, ajaran agama tidak mengarahkan penganutnya untuk larut dalam kepanikan. Sebaliknya, Islam mengajarkan sikap husnuzan (berprasangka baik) kepada Allah Swt. serta bertawakal kepada-Nya.

Walaupun berbagai narasi mengenai konflik global semakin sering muncul dan tanda-tanda akhir zaman kerap dibicarakan, seorang mukmin tetap dituntut untuk bersikap tenang, bijak, dan tidak ikut menyebarkan ketakutan di tengah masyarakat.

Al-Qur’an menegaskan bahwa orang-orang yang beriman memiliki keteguhan hati dalam menghadapi ancaman. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt. berikut:

الَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ ۝١٧٣

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang ketika ada orang mengatakan kepada mereka, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka,’ justru perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka berkata, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung.’” (QS. Ali Imran: 173)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa ancaman manusia tidak seharusnya menimbulkan ketakutan berlebihan bagi orang yang beriman. Sebaliknya, ancaman tersebut justru semakin menguatkan keyakinan bahwa Allah Swt. adalah sebaik-baik pelindung.

Berkaitan dengan hal tersebut, terdapat beberapa sikap yang dapat diterapkan oleh seorang mukmin ketika menghadapi situasi krisis global.

1. Tabayun

Seorang mukmin dianjurkan untuk membiasakan diri melakukan verifikasi terhadap informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Sikap ini penting agar tidak mudah terpengaruh oleh berita yang belum jelas kebenarannya, termasuk kabar tentang perang yang sering kali beredar sebagai hoaks.

Dalam konteks geopolitik modern, propaganda sering kali lebih kuat daripada fakta. Narasi yang memecah belah, seperti konflik identitas atau sektarian, kerap dimanfaatkan untuk memicu perpecahan di tengah masyarakat.

2. Menjaga Empati dan Nilai Kemanusiaan

Orang mukmin hendaknya senantiasa menyampaikan perkataan dan melakukan tindakan yang memberikan ketenangan serta rasa aman bagi orang lain. Sikap utama seorang mukmin adalah empati terhadap sesama manusia, terutama kepada mereka yang tertindas akibat konflik.

Oleh karena itu, perhatian terhadap kemanusiaan dan doa bagi para korban konflik jauh lebih utama daripada sekadar memperdebatkan analisis politik.

3. Tetap Tenang dan Tidak Larut dalam Kepanikan

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk larut dalam kepanikan. Sikap panik justru dapat membuat seseorang mudah terpengaruh oleh rumor atau informasi yang menyesatkan.

Karena itu, umat Islam diimbau untuk tidak ikut menyebarkan narasi sensasional seperti “Perang Dunia III pasti terjadi” tanpa dasar pengetahuan yang jelas.

4. Bersikap Realistis terhadap Dunia

Konflik dan peperangan merupakan bagian dari sejarah umat manusia yang sulit dihindari. Seorang mukmin diajak untuk bersikap realistis bahwa konflik dapat terjadi kapan saja.

Namun demikian, Islam tidak mengajarkan sikap putus asa. Sebaliknya, umat Islam dianjurkan untuk tetap bekerja, berkarya, serta memperbanyak amal kebaikan meskipun dunia menghadapi berbagai ketidakpastian.

5. Memperbanyak Doa dan Muhasabah

Dalam menghadapi berbagai fitnah dan ujian di akhir zaman, Rasulullah saw. mengingatkan umatnya agar memperbanyak amal saleh. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ

Artinya: “Segeralah beramal sebelum datang fitnah seperti malam yang gelap.” (HR. Muslim)

Hadis tersebut mengajarkan agar seorang mukmin memperbanyak amal kebaikan, memohon perlindungan kepada Allah Swt., meningkatkan kualitas ibadah, serta memperbaiki akhlak, bahkan ketika keadaan dunia terasa tidak menentu.

Pada masa yang penuh ujian ini, seseorang bisa saja mengalami perubahan dalam keimanannya. Karena itu, seorang mukmin harus senantiasa berpegang teguh pada ajaran agama Allah Swt.

Ujian Kehidupan bagi Manusia

Dalam situasi dunia yang penuh ketegangan, peran seorang mukmin adalah saling menenangkan, saling menguatkan, dan menebarkan kebaikan. Konflik mungkin terjadi di berbagai belahan dunia, tetapi kegelisahan dan permusuhan tidak seharusnya memenuhi hati orang yang beriman.

Dunia ini memang merupakan tempat ujian bagi manusia. Hal tersebut sebagaimana ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ ۝٢

Artinya: “Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Ayat tersebut menegaskan bahwa kehidupan dan kematian diciptakan sebagai ujian bagi manusia, untuk melihat siapa yang paling baik amalnya. Ujian tersebut dapat hadir dalam berbagai bentuk, termasuk konflik global yang terjadi di dunia.

Ancaman global bisa datang dan pergi kapan saja. Namun, apa pun bentuk ancaman tersebut tidak seharusnya membuat seorang mukmin tenggelam dalam kepanikan. Justru di tengah kondisi dunia yang tidak menentu, keteguhan iman tercermin dari sikap yang tetap tenang, bijak, dan beradab.

Kemampuan untuk menjaga ketenangan serta menebarkan empati tanpa menimbulkan ketakutan adalah salah satu tanda kekuatan iman. Meskipun dunia dipenuhi kegelisahan, hati seorang mukmin hendaknya tetap teguh dalam keyakinan bahwa Allah Swt. adalah sebaik-baik pengatur segala urusan.

Oleh: Muna Khansa Mufidah (Alumnus Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Salatiga. Guru di Planet Education Klaten, Article writer di Kumparan, Kompasiana, dan Geotimes).

Leave a Comment

Related Post