DUA RUMAH TUHAN

DUA RUMAH TUHAN
Oleh: DR.  KH. Abdul Ghofur Maimoen*)
Ada dua macam rumah Tuhan, yg satu tampak merupakan fisik dan yg satu lagi bersifat non-fisik atau ma’nawi. Yang pertama terrepresentasikan oleh masjid. Memakmurkan masjid dgn demikian berarti memakmurkan Rumah-Nya. Untuk itu lakukanlah sesuai dengan keinginan-Nya, jangan sekali2 hanya sesuai dgn keinginan kita.
Apa yg Allah tidak sukai jauhkanlah itu dari rumah-Nya; Allah tak menyukai sifat dan prilaku yg berlebih2an, maka jauhkan masjid dari segala sesuatu yg berlebih2an; Allah SWT. tak membeda2kan umat manusia berdasarkan kelas sosial dan kelas ekonomi, maka bangunlah suasana masjid yg bisa mengakrabi semua. Jangan sekali2 menjadikan masjid terasa asing bagi (sebagian) hamba2nya.
Masjid meski tampak merupakan bangunan fisik namun sebetulnya ia adalah simbol terhadap nilai2 serta relasi2 non-fisik.
Rumah Tuhan tipe kedua yg non-fisik adalah HATI MANUSIA. Dalam sebuah riwayat Hadis Qudsi Allah mengatakan: “Bumi dan langitKu tak sanggup menampung Diriku, namun hati seorang hambaKu yg mukmin mampu menampung Diriku.” Atas dasar ini tak berlebihan jika disampaikan bahwa rumah Allah yg “sebenar2nya” adalah hati manusia ini.
Sebuah riwayat mengabarkan, Allah SWT. berkata kepada Nabi Daud:
“kosongkan untukKu sebuah rumah untuk Aku diami!”
Daud menjawab:
“Sesungguhnya Engkau terlalu agung untuk sebuah tempat dan rumah.”
Maka Allah SWT. menyampaikan wahyu kepadanya:
“Kosongkan hatimu untukKu!”
Sebagai rumah-Nya yang ada dalam diri kita, maka sudah semestinya ia dijaga kesuciannya. Hati yg tak suci bahkan malaikat pun enggan menghampirinya.
“Sesungguhnya para malaikat tidak akan memasuki rumah yg di dalamnya terdapat anjing dan gambar,” sabda Nabi Muhammad SAW.
Dalam salah satu pemaknaan, yg dimaksud “rumah” di sini adalah hati seorang manusia. Ia adalah rumah Tuhan di mana para malaikat singgah di sana saat menyapa seorang hamba. Sementara anjing adalah simbol mengejar duniawi dan menuruti hawa nafsu seperti firman Allah:
“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yg rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga) .” QS. Al-A’raf/ 7: 177
Adapun “gambar” dalam pemaknaan simbol memiliki dua makna. Pertama ia menampilkan kemuliaan sosok serta mabda’ atau prinsipnya yang agung; kedua ia menyimbolkan terhadap pengkultusan dan fanatisme sehingga membutakan mata hati dari melihat kebenaran. Makna yang kedua ini lah yg disimbolkan dalam Hadis.
Hati yg seharusnya adalah rumah Tuhan yg suci menjadi ternodai oleh penghambaan terhadap kehidupan duniawi serta pemujaan terhadap sosok yang sehebat apapun tetaplah seorang manusia yg serba lemah dan penuh kekurangan. Hati yg seperti ini bahkan malaikat pun enggan menyinggahinya.
Allaahumma thahhir quluubanaa fainnaka khairu man yuthahhiruhaa, wa zakki anfusanaa fainnaka khairu man yuzakkiihaa ..
Aamiin ya Mujiibassaailiin ..
*) Pengasuh Pondok Pesantren dan Ketua STAI Al-Anwar Rembang
Baca Juga:  Macam-macam Hati (Qalb) (4-Habis)