Dialektika Makna Surga: Pendekatan Tafsir Klasik dan Kontemporer terhadap Ayat-Ayat Eskatologis

Ahmad Fairozi, M.Hum.

05/05/2026

4
Min Read

On This Post

Harakatuna.com – Dewasa ini, muncul persoalan mengenai apakah gambaran sungai atau buah-buahan yang sering ditampilkan dalam Al-Qur’an merupakan realitas hakiki atau sekadar simbolik. Pertanyaan ini muncul karena Al-Qur’an diturunkan di kawasan Jazirah Arab yang dikenal gersang dan didominasi gurun pasir, sehingga gambaran tersebut dinilai sebagai cara untuk menggugah imajinasi dan perasaan masyarakat Arab saat itu.

Jika demikian, hal ini kemudian menimbulkan problematika dalam konteks geografis masa kini. Al-Qur’an merupakan pedoman bagi seluruh umat Islam di dunia, bukan hanya untuk masyarakat Arab pada masa Nabi. Lalu, bagaimana dengan realitas geografis saat ini yang berbeda, di mana sungai mengalir dan pepohonan tumbuh subur? Apakah kondisi tersebut akan mengurangi daya persuasif yang ditawarkan Al-Qur’an?

Lebih jauh lagi, tidakkah hal ini bertentangan dengan hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, di mana Allah berfirman: “Aku telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.” (HR Bukhari No. 3.244, Muslim No. 2.824).

Dari titik inilah tulisan ini berupaya menelusuri bagaimana perspektif ulama klasik dan kontemporer dalam memandang persoalan tersebut, serta mengaitkannya dengan konsep penting dalam ulumul Qur’an, yaitu amtsal (perumpamaan).

Tidak asing dalam Al-Qur’an ditemukan ayat-ayat yang menjelaskan berbagai kenikmatan surga bagi orang beriman, seperti sungai yang mengalir, buah-buahan, dan kenikmatan lainnya. Namun, tulisan ini akan fokus pada penafsiran dua ayat, yakni Q.S. Muhammad ayat 15 dan Q.S. Al-Baqarah ayat 25. Sebelum itu, penting untuk memahami konsep matsal menurut para ulama serta urgensinya.

Matsal dan Urgensinya

Al-Jurjani dalam At-Ta’rifat menjelaskan bahwa matsal adalah ungkapan yang digunakan untuk mengalihkan makna abstrak menjadi sesuatu yang dapat ditangkap oleh indera. Dengan kata lain, matsal tidak selalu dipahami secara literal, melainkan sebagai sarana pemahaman.

As-Suyuthi menambahkan bahwa matsal berfungsi sebagai alat pengajaran, peringatan, dan penguat makna. Menurutnya, perumpamaan lebih mudah memengaruhi manusia dibandingkan perintah langsung. Dari sini dapat dipahami bahwa matsal menjadi jembatan antara realitas spiritual dan realitas fisik.

Al-Qur’an menggunakan pendekatan ini agar manusia dapat memahami hal-hal metafisik. Melalui matsal, gambaran kenikmatan surga yang tidak terjangkau oleh indera menjadi lebih mudah dipahami secara empiris. Dengan pendekatan ini, deskripsi tentang sungai, buah-buahan, dan kenikmatan lainnya menemukan relevansinya. Namun, tidak cukup hanya dengan pendekatan bahasa; perlu dilihat pula bagaimana para ulama menafsirkannya.

Dialektika Tafsir Klasik dan Kontemporer

Dalam kitab tafsir klasik seperti karya At-Tabari dan Ibn Katsir, ayat-ayat tentang kenikmatan surga cenderung ditafsirkan secara literal tanpa takwil, dengan merujuk pada hadis Nabi dan atsar sahabat.

At-Tabari, misalnya, dalam menafsirkan Q.S. Muhammad ayat 15, meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa frasa “fīhā anhārun min mā’in ghairi āsin” diartikan sebagai air yang tidak berubah rasa dan baunya. Sementara frasa “wa anhārun min khamrin ladhdhah lish-shāribīn” dipahami sebagai sungai khamar yang lezat bagi para penghuni surga.

Ibn Katsir juga menafsirkan frasa “tajrī min taḥtihā al-anhār” dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 25 dengan merujuk hadis Abu Hurairah, bahwa sungai-sungai di surga memancar dari bawah bukit atau gunung kesturi.

Dari penafsiran tersebut dapat disimpulkan bahwa ulama klasik lebih mengedepankan pemahaman literal. Mereka memandang kenikmatan surga sebagai realitas hakiki yang akan dirasakan secara nyata oleh penghuninya, meskipun hakikatnya berbeda dengan realitas dunia.

Sementara itu, sebagian mufasir kontemporer menawarkan pendekatan yang lebih rasional dan kontekstual. Dalam Tafsir Al-Manar, Rasyid Ridha menjelaskan bahwa jika Al-Qur’an hanya menyebut kata jannah tanpa deskripsi, maka maknanya dapat diserahkan sepenuhnya kepada Allah (tafwid). Namun karena terdapat penjelasan rinci mengenai pohon dan buah-buahan, maka deskripsi tersebut dipahami sebagai realitas, bukan sekadar perumpamaan.

Fazlur Rahman dalam Major Themes of the Qur’an juga menegaskan bahwa ayat-ayat tentang surga bukanlah metafora murni, melainkan pendekatan bahasa untuk menggambarkan pengalaman kenikmatan yang bersifat spiritual sekaligus fisik.

Melampaui Batas Empiris

Berbagai pandangan ulama tersebut pada akhirnya mengerucut pada satu kesimpulan: kenikmatan surga yang digambarkan dalam Al-Qur’an adalah sesuatu yang nyata, tetapi memiliki hakikat yang berbeda dari realitas dunia.

Dengan demikian, apakah di surga terdapat sungai, susu, khamar, dan kenikmatan lainnya? Jawabannya adalah ada. Namun, bentuk dan hakikatnya tidak sama dengan yang dikenal manusia di dunia.

Pada akhirnya, manusia hanya dapat membayangkan secara terbatas kenikmatan yang dijanjikan Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadis. Gambaran material dalam Al-Qur’an hanyalah pendekatan bahasa untuk memudahkan pemahaman (tashwir majazi), sedangkan hakikatnya bersifat trans-empiris dan melampaui realitas fisik.

Surga mungkin tidak dapat dibayangkan secara utuh oleh manusia. Namun melalui bahasa matsal, Al-Qur’an memberikan petunjuk bahwa di ujung perjalanan iman terdapat nilai yang jauh melampaui kenikmatan duniawi.

Karena itu, fokus utama bukanlah pada bagaimana bentuk kenikmatan surga, melainkan bagaimana usaha manusia untuk meraihnya. Wallahu a’lam.

Oleh: Moh. Zajil Aqil (Santri Annuqayah Latee, Mahasiswa Ilmu Quran dan Tafsir Universitas Annuqayah). 

Leave a Comment

Related Post