32.1 C
Jakarta
Array

Bung Karno, Keislaman dan Keindonesiaan

Artikel Trending

Bung Karno, Keislaman dan Keindonesiaan
image_pdfDownload PDF

Judul Bung Karno “Menerjemahkan Alquran”

Penulis : Mochammad Nur Arifin

Penerbit : Mizan

Cetakan : Mei 2017

Tebal : xvi + 266 halaman

ISBN : 978-602-441-028-5

Dalam beberapa kesempatan, Bung Karno mengatakan bahwa: “Aku dikutuk seperti bandit, dipuja bagai dewa.” Tak ayal jika sudah sejak lama berhembus narasi yang tak sedap bahwa Soekarno adalah sosok atau tokoh bangsa yang berideologi nasionalis-sekuler dan pro-PKI. Tidak hanya itu, bertolak dari sosok Soekarno, mencuat pula pendapat bahwa nasionalis dengan agami bagaikan air dan api. Artinya, kalau nasionalis tidak religius, begitu sebaliknya. Tidak hanya cukup itu, belakangan juga muncul bahwa ideologi Pancasila, yang salah satu pencetusnya adalah Soekarno, dituduh sebagai ideologi sekuler. Oleh karena itu, ideologi Pancasila harus diganti dengan sistem kekhilafahan.

Dalam bingkai itulah, buku Bung Karno Menerjemahkan Alquran karya Mochammad Nur Arifin menjawab berbagai tuduhan miring terkait Bung Karno yang oleh kelompok tertentu dilabeli sekuler.  Buku ini juga sebagai wawasan anak bangsa bahwa Islam dan Keindonesiaan (Pancasila) tidaklah bertentangan.

Arifin yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Trenggalek menveritakan bahwa buku yang secara garis besar memotret karakter religius, Pemikiran keislaman dan jalan nasionalis-religius Bung Karno ini lahir dari sebuah kegelisahannya dimana figur Soekarno dengan segala atribut yang melekat pada dirinya direndahkan, dinistakan, atau dalam istilah yang lebih “vulgar” de-Soekarno-isasi. Jika Soekarno bisa dinistakan, maka akan banyak pintu menistakan Pancasila, NKRI, dan lainnya (hlm. x).

Tidak sekedar omong kosong, buku ini secara gamblang menyadarkan orang yang selama ini tidak percaya akan keislaman Soekarno yang begitu kental. Hal ini tercermin melalui pidato-pidato-pidatonya. Misalnya, ketika Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 30 September 1960, di depan para kepala negara dunia, Soekarno membuat seisi ruang sidang PBB ke-15 itu terperangah. Kala itu Soekarno berpidato dengan judul: To Build the World a New (Membangun Tataran Dunia Bru). Adapun salah satu intinya pidato tersebut adalah pesan perdamaian dan toleransi, yang digali dari Alquran surat Al-Hujarat ayat 13. Uraian Bung Karno ini kemudian dicatat sebagai ucapan yang sangat religius dalam sebuah sidang PBB (hlm. 32).

Bukan hanya sekali itu saja Bung Karno mengusung pesan ayat Alquran dalam pidatonya. Dalam konteks global maupun nasional, dalam berbagai kesempatan digunakan Bung Karno untuk menunjukkan kepada dunia dan masyarakat Indonesia bahwa Alquran mengajarkan dan menekankan nilai-nilai kebangsaan, kemanusiaan, perdamaian, keadilan dan nilai-nilai universal lainnya. Dari sini muncul hipotesis: yang kenal ulama pasti kenal Soekarno, yang kenal Soekarno belum tentu kenal ulama.

Puncak perjalanan spiritualitas Soekarno mencari kepuasaan batin menemukan makna ketuhanan pada akhirnya bermuara pada Alquran. Banyak tokoh ditemui. Beragam buku dibacanya. Namun pada akhirnya, Alquran yang memberikan jawaban paling memuaskannya. Alquran menjadi titik akhir pengembaraan Bung Karno mencari Tuhan. Pada kitab suci itulah “dahaga” ruhani Bung Karno terpuaskan (hlm. 164). Jadi, buku ini sunnguh menampar kelompok atau pihak yang selama ini berkoar-koar mengatakan bahwa Soekarno komunis atau bahkan sekuler.

Sementara perjalanan nasioalisme Bung Karno tidak dapat diragukan lagi. Akan tetapi, sekali lagi, nasionalisme Bung Karno bukanlah nasionalisme yang berpangkal dari Barat, yang sekuler itu. Banyak hal atau fakta yang membuktikan akan hal ini. Dipaparkan secara gambalng dalam buku ini terkait perjalanan kebangsaan Soekarno. Mulai di Surabaya, Soekarno menemukan bibit cintanya kepada negaranya yang kemudian melarutkan dirinya dalam kolam cinta kepada Tuhannya. Dia selamat dari terkaman ghairah masa muda yang menggelora tidak tentu arah. Ia sadar sesadar-sadarnya bahwa tidak ada alasan bagi pemuda Indonesia untuk menikmati kesenangan dengan melarikan diri ke dalam dunia khayal. Sementara kondisi bangsa dan negara Indonesia kala itu miskin, malang, dan dininakan (hlm. 195).

Dari sinilah, Soekarno mulai terapnggil dan kemudian “mewakafkan” sebagian umurnya untuk Indonesia tercinta. Spirit membela Tanah Air menjadi visi dan misinya. Jiwa nasionalisme dan patriotisme begitu mengental dalam tubuh Soekarno, terlebih ia sejak kecil sudah bersinggungan dengan tokoh bangsa, yakni Tjokroaminoto. Baginya, nasionalisme adalah api pembakar perjaungan melawan kolonialisme. Dan Tjokroaminoto inilah yang kemudian mewariskan kematangan konsep nasionalisme-Islam Soekarno (hlm. 202).

Dalam testimoninya, prof. Mahfud MD mengatakan, menyatakan buku ini penting untuk masyarakat Indonesia secara luas, terlebih masih banyak yang salah paham terkait gagasan-gagasan keislaman Bung Karno. “Sebab, masih banyak yang salah paham seakan-akan Bung Karno adalah tokoh yang sangat sekuler yang tak peduli pada agama. Padahal pandangan dan langkah-langkahnya sangat agamis.

Sekali lagi, buku ini penting bagi kalangan yang selama ini merendahkan sosok Pahlawan revolusioner sebagai orang yang tidak religius. Justru Sosok Soekarno memberikan bukti bahwa keislaman dan keindonesiaan memiliki hubungan sangat strategis dan menentukan. Revolusi Indonesia, kata Soekarno, adalah kepanjangan revolusi Nabi Muhammad Saw ketika di Madinah.

*Muhammad Najib, Pegiat Literasi, Alumnus UIN Walisongo Semarang.

 

Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru