31.4 C
Jakarta

Bisa Jadi Ulama Su’ itu yang Hobi Demonstrasi!

Artikel Trending

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Bullshit Para “Pembela” Islam

Sejak Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta, Rabu, 19 November 2014, para pembela Islam tidak bisa hidup tenang sampai hari ini. mereka semakin radikal. Radikalisme...

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Budaya Akademik dan Etos Kerja Dalam Islam

Islam sebagai agama yang kaffah tentu mengatur secara komprehensif segala aktifitas manusia dari mulai bangun tidur samapai tidur kembali. Sebagai agama yang kaffah, Islam...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Ada sebuah hadis yang bunyinya kurang lebih begini: Al-Ulama’ waratsah al-anbiya’ dan artinya ulama itu adalah pewaris para nabi. Pewaris ini dapat disederhanakan lagi dengan penerus para nabi. Nabi tidak mewariskan harta kepada generasi-generasi berikutnya, melainkan mewariskan ilmu. Sehingga, ulama itu secara tidak langsung dibentuk menjadi pendakwah (dai), orang yang menyampaikan ilmu.

Sebagai penerus perjuangan Nabi, ulama mendapatkan status sosial yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan orang awam. Ulama dimuliakan dan kehadirannya sangat dirindukan. Sehingga, kerinduan itu tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas. Karena, bertemu ulama seakan bertemu Nabi. Kerinduan itu melampaui segalanya.

Istilah ulama bila ditelaah lebih jauh ternyata bermakna orang yang berilmu atau dalam bahasa kerennya “ilmuwan”. Apakah semua orang yang berilmu baik? Benarkah luasnya ilmu dapat mengantarkan seseorang menjadi pribadi yang bijaksana? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini dapat diperhatikan pada uraian Dr. Moh. Syarif Hidayatullah yang sedikit banyak menyisir mana ulama yang baik dan mana ulama yang picik (su’).

Secara garis besar tidak semua ulama itu dapat dibenarkan. Hanya ulama yang terus belajar yang dapat dibenarkan. Ulama seperti ini yang patut menjadi penerus Nabi. Selain belajar ulama ini juga mengamalkan ilmunya. Ulama yang baik tidak bakal merasa pintar sendiri. Ulama ini selalu merasa bodoh, sehingga mereka menyesal kalau berhenti belajar. Karena, kata Prof. Nasaruddin Umar, orang yang suka menyalahkan orang lain pertanda orang itu perlu belajar, sementara orang yang tidak menyalahkan orang lain pertanda orang itu sedang belajar.

Ulama yang baik, sebut Dr. Syarif Hidayatullah, selalu menggunakan ilmunya untuk kebaikan dan kemaslahatan umat. Kemaslahatan ini bisa menyangkut pribadi orang tersebut atau pribadi orang lain. Tidak masalah ulama mendukung penguasa atau pemerintah selama motivasinya baik, menjaga keutuhan tanah air. Ulama yang semacam ini masih dapat dikategorikan sebagai ulama yang baik.

Ulama yang baik selalu menggunakan ilmunya pada kebaikan. Kebaikan ini erat kaitannya dengan moderasi (wasathiyyah). Ulama yang baik tentunya cara berpikirnya moderat. Ulama yang semacam ini disebut dalam Al-Qur’an dengan istilah ummatan wasathan, orang yang moderat yang dipercaya menjadi saksi atas perbuatan manusia. (QS. al-Baqarah: 143).

Sebaliknya, ulama yang buruk (su’), kata Dr. Syarif Hidayatullah, bukan diukur sedekat mana dengan penguasa, tetapi dilihat sejauh mana menggunakan ilmunya untuk kebaikan dan kemaslahatan. Termasuk ulama yang buruk yang gemar menebar hoaks, memfitnah, mencaci maki, dan mencari-cari kesalahan penguasa.

Ciri-ciri ulama yang buruk tersebut banyak ditemukan di era sekarang, apalagi sekarang era digital yang sangat membantu ulama yang buruk itu melakukan perbuatan tercelanya. Ulama semacam ini cenderung egois, merasa paling benar, dan cenderung menyalahkan orang lain, termasuk penguasa. Padahal, ulama yang baik selalu memaafkan kesalahan orang lain dan mendidik mereka menjadi orang yang benar.

Ulama tidak boleh dikit-dikit marah. Ulama harus menjadi oase atau telaga penyejuk bagi umat-umatnya. Ulama tidak boleh melampaui hak veto Tuhan. Ulama cukup menjadi muballigh atau penyampai pesan-pesan Tuhan yang termaktub dalam Al-Qur’an dan pesan-pesan Nabi yang tertulis dalam hadis. Sebagai muballigh ulama sadar, bahwa hidayah itu hak otoritas Tuhan, bukan ulama itu sendiri.

Banyak sekali ulama yang nekat melampaui tugas Tuhan. Maksudnya, ulama ini seakan-akan menjadi Tuhan yang merasa paling benar dan hobi menyalahkan, bahkan mengkafirkan orang yang lain yang tidak mengikuti dakwahnya. Ulama su’ ini biasanya ditemukan pada ustadz-ustadz amatiran yang baru hijrah tiba-tiba jadi pendakwah dan baru-baru belajar Islam dari google langsung menggurui umat.

Sebagai umat yang pasti dipertemukan dengan ulama su’ hendaknya lebih berhati-hati. Tidak langsung mengkonsumsi semua fatuwahnya. Teliti terlebih dahulu, apakah pesan-pesan yang disampaikan sesuai dengan spirit agama Islam yang menghendaki dakwah yang santun dan ramah serta pesan yang ditekankan selalu moderat.

Sebagai orang awam kita terus belajar. Tidak selalu menunggu fatuwah ulama. Sehingga, dengan semangat belajar itu kita dapat membedakan mana fatuwah ulama yang patut diikuti dan yang harus dihindari. Menjadi muslim yang baik tentunya harus berilmu. Menjadi orang yang berilmu tentu harus belajar. Belajarlah sampai kita merasa bodoh. Sehingga, kita terhindar dari ulama su’, karena bisa jadi ulama su’ itu hobi demonstrasi.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

BNPT Bentuk Gugus Tugas Pemuka Agama Tangkal Paham Radikalisme Terorisme

Harakatuna.com. Jakarta – Organisasi masyarakat (Ormas) Islam dan ormas keagamaan merupakan elemen penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Pemuka Agama dari berbagai ormas keagamaan ini...

Tanda-Tanda Diterimanya Sebuah Taubat, Apa Saja?

Sudah kita ketahui bersama bahwa manusia tidak akan lepas dari dosa. Supaya dosa diampuni, tentunya seorang hamba harus bertaubat. Lantas bagaimana tanda-tanda taubat  diterima?...

Khilafah Islamiyah ala ISIS Hanya Omong Kosong

Harakatuna.com. Surakarta-Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Syariah IAIN Surakarta menggelar Bedah Buku “300 Hari di Bumi Syam” di Gedung Fakultas Syariah, pada Jum’at (27/11)...

Menulis itu Melukis dengan Kata

Tulisan yang bagus adalah guratan yang mampu membangun emosi pembaca. Bahwa menulis tidak sekadar mengumpulkan kata, disusun menjadi kalimat; kalimat yang dihimpun menjadi paragraf....

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

HRW Tuntut Arab Saudi Putuskan Status Muslim Uighur Ditahan

Harakatuna.com. New York – Human Rights Watch (HRW) telah meminta pihak berwenang Arab Saudi untuk “segera mengklarifikasi” status Muslim Uighur dari minoritas etnis Uighur...