Benarkah Islam Terpengaruh Ajaran Zoroaster dari Sahabat Salman Alfarisi?


0
33 shares

Telah datang klaim dari “orientalis berkedok sejarawan” dalam beberapa buku dan artikel, bahwa Islam menjiplak agama Zorastrianisme. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam diduga menjiplak ajaran Majusi ini melalui Salman al Farisi radhiallaahuanhu, mantan pemeluk Majusi yang memeluk Islam. Klaim ini bertentangan dengan fakta sejarah dan interpretasi yang benar terhadap kelaziman yang berjalan dalam tabiat.

Pertama, Rasulullah diangkat oleh Allah ke Sidratul Muntaha dalam Isra Mi’raj. Di sana beliau menerima perintah shalat langsung dari Allah dan melihat langsung di antara Tanda-Tanda Kebesaran Allah. Ini adalah sesuatu yang mustahil diimitasi.

Kedua, Rasulullah tidak bisa membaca dan menulis dan tidak ada satupun bukti bahwa beliau mampu berbahasa Persia. Tulis-menulis bukanlah tradisi masyarakat Arab pada waktu itu. Keunggulan peradaban Arab Jahiliyah adalah syair dan daya intelektual yang menonjol bagi mereka adalah hafalan. Di Makkah dan Madinah tidak pernah ada bukti adanya copy dari teks-teks agama Majusi dan juga tidak ada bukti adanya pendeta Majusi yang menetap di Makkah atau Madinah.

Selain itu, tidak ditemukan bukti adanya pemukiman orang-orang Persia kecuali di Yaman. Raja Persia sendiri terhenyak ketika mendengar adanya seorang nabi di Mekkah. Oleh karenanya ia mengirim seseorang bernama Badzan untuk menemui nabi tersebut dan memperingatkannya agar berhenti mengaku sebagai nabi. Hal ini menandakan tidak ada perwakilan atau duta Persia dari Ctesiphon ataupun dari Yaman yang berada di Makkah atau Madinah. Sebab, jika terdapat kantung pemukiman sekecil apapun, maka Badzan tidak perlu bertolak dari Yaman ke utara menuju nabi tersebut untuk menyampaikan pesan raja Persia.

Ibnu Hisyam menuturkan dari Zuhri, Kisra menulis surat kepada Badzan [di Yaman] yang isinya adalah sebagai berikut:

Sesungguhnya telah sampai berita kepadaku bahwa seorang lelaki dari Quraisy telah muncul di Mekkah dan dia mengaku bahwa dirinya adalah seorang Nabi. Maka berangkatlah engkau ke sana dan suruhlah dia bertaubat, jika dia bertaubat biarkanlah dia hidup dan jika tidak maka kirimkan kepalanyakepadaku.Maka Badzan mengirimkan surat Kisra itu kepada Rasulullah.

Dan Rasulullah membalas suratnya:

Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadaku bahwa Kisra akan terbunuh pada hari demikian, bulan demikian.”Tatkala Badzan menerima surat ini, dia terhentak dan sedikit merenung seraya berkata: “Jikadia benar seorang Nabi, maka apa yang dia katakan akan menjadi kenyataan!” Maka Allah mematikan Kisra pada hari yang telah dikatakan Rasulullah.[1]

Ketiga, memang, setelah bertemu enam hingga belasan guru [meski pendapat terakhir kurang masyhur], Salman al Farisi – seorang sahabat yang dahulu menganut Zoroastrianisme kemudian Nasrani Ebionim atau kemungkinan juga Nestorian – akhirnya bertemu Rasulullah di Madinah dan memeluk Islam dengan keislaman yang begitu baik. Justru di sini-lah hujjah bahwa Islam tidaklah menjiplak Majusi. Sebaliknya, Madinah adalah sebagai tujuan akhir bagi mantan penganut Majusi taat semisal Salman yang mengelana demi menganut agama yang sesuai dengan fitrahnya. Salman-lah yang menimba ilmu kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Perlu dicatat, eksodus sebagian Yahudi ke Madinah juga ditengarai kabar diutusnya Nabi Terakhir di Madinah yang dikabarkan oleh nabi-nabi terdahulu semisal Nabi Musa, Nabi Daniel, dan selainnya. Oleh karenanya, kaum Yahudi di Madinah adalah dari kalangan rahib-rahib, bukan Yahudi jelata, bahkan sebagian dari mereka keturunan Nabi Harun langsung dan memang keturunan Nabi Harun menjabat sebagai imam-imam besar Yahudi.

Baca Juga:  Uhibbuka Li Politik 

Apa yang membawa Salman kepada Rasulullah, dengan Karunia Allah, adalah kabar-kabar para pendeta  Ebionim[2]tentang kemunculan Nabi Akhir Zaman. Salman sendiri dahulu seorang penganut Zoroastrianisme taat. Ia bahkan ditugaskan menjaga kuil api dan hanya tinggal menunggu waktu saja ia akan diangkat menjadi pendeta Majusi. Salman al Farisi tidak akan mengembara belasan tahun meninggalkan kampung halamannya dan ayahanda yang begitu mencintainya, serta kenyamanan hidup di Isfahan hanya untuk kembali menjadi Majusi lagi ketika di Madinah. Sebagaimana para sahabat lainnya, Salman-lah yang belajar dan beribadah serta berjihad di bawah komando dan pimpinan Rasulullah, bukan sebaliknya.

Selain itu, Salman bertemu Rasulullah ketika Rasulullah berada di Madinah. Lantas, Al Quran yang diturunkan di Makkah selama lebih dari sepuluh tahun itu menjiplak dari siapa? Jika ia adalah jiplakan dari ahli kitab maka bagaimana kedua versi jiplakan itu ketika disatukan memiliki alur, keterkaitan, dan makna-makna yang selaras dan tidak bertentangan? Perlu dicatat bahwa jumlah ahli kitab di Makkah sedikit sekali, sementara ahli kitab di Madinah adalah dari kalangan Yahudi, mereka cenderung menjauhi Makkah karena adanya penyembahan berhala.

Keempat, ketika kaum muslimin menaklukkan Ctesiphon, ibukota Sassaniyah-Persia, Islam telah sempurna syariatnya. Rasulullah pun telah wafat dan beliau telah menjelaskan segala sesuatu yang dapat membawa seseorang ke Surga dan segala sesuatu yang dapat membawa seseorang ke Neraka. Negeri yang ditaklukkan lazimnya tunduk pada negeri yang menaklukkan, bukan sebaliknya, dan Persia tidak terkecuali.

Memang ada sebagian kasus ketika negeri penakluk mencampur-adukkan sesembahan mereka dengan sesembahan penduduk negeri yang ditaklukkan, sebagaimana terjadi di Mesir kuno dan pada bangsa Romawi Barat. Namun jika itu terjadi, maka seharusnya tidak ada proses Islamisasi di Persia. Fakta membuktikan sebaliknya, Islam berjaya di Persia. Seluruh negeri bekas Persia memeluk Islam dan tidak hanya itu, di abad-abad berikutnya Persia adalah salah satu provinsi Islam yang berkontribusi terhadap perluasan wilayah Islam ke timur.

Baca Juga:  Harlah, Natal dan Maulid

Di negeri bekas Persia itulah muncul para ulama hadis, para ahli tarikh, mufassir, para mujahidin, para ilmuwan dan saintis muslim, para ahli ilmu muslim yang masyhur. Di bekas negeri Persia itulah kerajaan Abbasiyah, mercusuar ilmu pengetahuan dunia abad pertengahan berdiri, serta beberapa kerajaan dan dinasti muslim lainnya sebelumnya belakangan agama Syiah mendominasi. Adapun Zoroastrianisme tenggelam oleh lumpur Tigris dan Eufrat, dan pemeluknya pun berbondong-bondong memeluk Islam. Sebagian dari mereka yang bersikeras memeluk agama nenek moyangnya mengungsi ke wilayah barat India untuk melestarikan agamanya dimana pada hari ini mereka masih dapat ditemui. Sebagian kecil bergerilya untuk melakukan makar, sebagaimana makar Abu Lu’lu’ah yang menikam amirul mukminin Umar radhiallahuanhu. Dari fakta sejarah ini, sulit membayangkan masih ada anggapan Islam menjiplak Majusi sementara bukti sejarah menunjukkan dominasi yang sebaliknya.

Kelima, meski Salman al Farisi memeluk Islam, hal itu tidak lantas menjadikannya dekat kepada Rasulullah di awal-awal keislamannya. Salman tidak dapat langsung duduk bersama para sahabat lainnya untuk mendengarkan pengajaran dari Nabi. Salman juga tidak dapat turut serta berjihad dalam Perang Badar dan Uhud. Sebab, status Salman kala itu masih sebagai budak. Syarat pembebesan dirinya adalah menanam 300 pohon kurma dan sejumlah perak. Ini berarti, Salman membutuhkan waktu beberapa lama lagi agar ia dapat menyertai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Barulah ketika menjelang Perang Khandaq, Salman benar-benar menjadi seorang yang merdeka dan turut serta bersama kaum muslimin berjihad dalam perang tersebut di bawah komando Rasulullah. Jika tuduhan bahwa Nabi menjiplak ajaran Zoroastrianisme dari Salman, maka hal itu baru dapat dilakukan di akhir-akhir saja ketika Salman bebas dari statusnya sebagai budak keluarga Yahudi. Lantas bagaimana dengan syariat yang telah diturunkan Allah sebelumnya, serta ayat-ayat Al Quran yang diwahyukan kepada Nabi sebelum Salman benar-benar dapat menyertai Nabi sebagai muslim yang merdeka?

Keenam, menjiplak ajaran lain membutuhkan waktu, yakni waktu untuk adopsi, modifikasi, pemilahan, dan naturalisasi. Islam juga pernah tertuduh menjiplak dari agama Yahudi melalui pendeta-pendeta Yahudi di Madinah, dan juga tertuduh menjiplak agama Nasrani melalui Waraqah bin Naufal di Makkah dan pendeta Buhairah. Kemudian datang lagi tuduhan serupa bahwa Islam menjiplak Majusi melalui Salman al Farisi.

Baca Juga:  Jangan Khilafah, Berat. Kamu Tidak Kuat. Biar Pancasila Saja

Penting untuk menyegarkan ingatan kembali bahwa Rasulullah bukanlah seperti raja-raja Mesir, Romawi, atau Persia yang banyak memiliki keluangan waktu untuk bersenang-senang dengan gundik dan selir, duduk di singgasana memakan buah anggur dan meminum sari perasan buah, menikmati waktu berkuda dan berburu sebagaimana hobi para raja, atau menghabiskan banyak waktu di istana megah dimana para menterinya-lah yang sibuk menjalankan pemerintahan. Seseorang yang membaca sirah Nabi meski sekilas pun akan mengetahui bahwa Rasulullah benar-benar manusia biasa dan menempatkan dirinya sebagai manusia biasa dan ia membaur dengan rakyat jelata serta terlibat dalam urusan umat secara langsung apabila memungkinkan.

Ia selalu dalam kesibukkan sebagai seroang guru bagi para murid-muridnya, suami bagi istri-istrinya, panglima bagi para pasukannya, sahabat bagi para sahabatnya, kepala negara bagi negara dibentuknya, mufti bagi para kaum muslimin, seorang Nabi bagi umatnya, dan seorang hamba yang taat dan patuh kepada Rabbnya. Wahyu secara kontinyu turun dari langit dan beliau dituntut untuk menyampaikan seluruhnya serta menjelaskan maknanya kepada umatnya sehingga beliau bukan saja manusia paling bertakwa namun paling sibuk dalam kebaikan.

Terkadang beliau disibukkan oleh peperangan, di lain waktu disibukkan oleh ujian berupa fitnah yang dihembuskan orang-orang kepada keluarganya, di lain waktu beliau sibuk beribadah hingga bengkak kakinya, di lain waktu beliau menunaikan haji, di lain waktu beliau sibuk berdakwah, mengirim utusan ke negeri-negeri. Dengan kehidupan yang dinamis dan harmonis, menjiplak suatu agama lain di perabadan lain dan memasukannya agar kompatibel dengan peradaban dan worldview yang berbeda membutukan tim ahli dan tim sukses. Di antara tim-tim tersebut hendaknya terdiri dari pakar peradaban Perisa dan agama Zoroastrianisme dan seorang alih bahasa. Plagiarisme mungkin dilakukan jika tim sukses itu didukung oleh riset yang kuat, dana yang besar serta koneksi internet yang cepat.

Masih banyak anekdot yang dapat kita paksakan masuk demi melegitimasi anggapan bahwa Islam menjiplak Zoroastrianisme. Meletakkan sesuatu pada tempatnya adalah di antara anjuran yang baik, termasuk syubhat-syubhat “kelas teri” yang kurang layak ditanggapi dengan serius melainkan dengan sedikit anekdot.

Allahu A’lam


Like it? Share with your friends!

0
33 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.