Belajar Islam Santun dari Bayu Skak

Saat fitnah, caci maki, adu domba dan berbagai macam serangan ideologi untuk menghapus nasionalisme dalam masyarakat. Bayu Skak mencoba memberi pemahaman.


0
271 shares

Bayu Skak yang memiliki nama asli Bayu Eko Moektito kelahiran Malang ini adalah seorang aktor, komedian dan personalia YouTube yang mana tentu tak asing ditelinga kita.

Dia selalu menghiasi you tube dengan konten-konten comedian dengan bahasa khas jawanya, yang sukses menjadi YouTuber sehingga membuat film yo wiss ben 1 dan 2 laris manis di masyarakat. Dari semua kesuksesannya kemudian dia menghilang dari YouTube cukup lama karena fokus pada pembuatan produk filmnya.

Pada 25 Mei lalu, Bayu kembali post video yang berjudul Makaryo Cok!, Di video ini, Bayu menjelaskan alasannya mengapa lama tak post video lagi. Kemudian pada tanggal 31 Mei Bayu mengupload video yang terbaru lagi yang berjudul Islam dan Bernegara. Di video ini bayu menyuguhkan sesuatu yang unik yang berbeda dari biasanya.

Dalam video tersebut, Bayu sedang santai sembari menunggu azan magrib yang juga menunjukan waktunya berbuka puasa dengan dua anak, membahas tentang sebuah arti kehidupan berislam dan bernegara dengan mencampurkan semua unsur seperti unsur Agama Islam, Toleransi, Nasionalisme, dan Sejarah.

Bayu memaparkan penjelasan tentang tujuan baik dari beberapa adat yang ada di Indonesia seperti slametan, tahlilan, dan adat makan-makan lainnya. Banyak sekali perdebatan masalah ini. Namun hal seperti ini sebenarnya tak perlu adanya perdebatan, adat seperti ini tak diwajibkan oleh agama. Boleh melakukan bagi siapa yang mampu dan bila tidak mampu boleh meninggalkan.

Indonesia memiliki cara sendiri dalam berbangsa dan beragama, dengan adanya adat seperti ini, maka akan menjadikan masyarakat sering berkumpul dan bercengkrama dengan tetangga sehingga semakin meningkatkan persaudaraan dan persatuan antar umat Islam lainnya.

Agama menganjurkan kita untuk bersedekah sehingga dengan memberikan makan kepada tetangga adalah sebuah amal sedekah. Tentu hal seperti ini tak diwajibkan hanya dianjurkan bagi yang mampu sebagai wujud penghormatan terhadap tamunya.

Baca Juga:  Di Balik Persekusi UAS: Adakah Agenda Politik Terselubung?

Makan-makan telah menjadi ciri khas bagi bangsa Indonesia, seperti saat agustusan, rapat, silaturahmi, dan acara formal umum lain yang tak mengandung unsur agama sekalipun.

Gus Dur pernah mengatakan bahwa kita ini, orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan di Indonesia. Maka kedua arti tersebut harus dibedakan.

Dalam sejarahnya agama Islam dalam penyebarannya selalu berhadapan dengan budaya yang berbeda. Maka dari itu jangan sampai antara agama dan budaya dibenturkan, namun diakulturasikan.

Islam adalah agama yang ramah dengan budaya selama tidak bertentangan dengan agama maka budaya atau adat itu bisa dilestarikan. Islam juga memiliki tujuan dalam penyebarannya yakni disetiap adanya Islam maka haruslah diwujudkan dengan adanya keamanan, kerukuran di sebuah bangsa tersebut.

Karena Islam itu membawa perdamaian dan ini akan tewujud dengan cara membiasakan diri untuk bersikap toleransi saling menghargai antar perbedaaan yang ada dalam sebuah bangsa, dan menjunjung tinggi akhlak. Sebagaimana yang dikatakan M. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Islam yang saya anut.

Walisongo saat menyebarkan Islam di Indonesia tak serta merta diterima oleh masyarakat namun mengalami penolakan-penolakan dari masyarakat, sehingga Walisongo menyebarkan Islam melewati adat dan apa yang disukai dari masyarakat sekitar sebagaimana Sunan Kalijaga memasukan Islam melewati seni seperti Wayang kulit, tembang, dll. sehingga Islam dapat diterima oleh masyarakat sekitar.

Begitupun dengan para Wali dan Alim Ulama lainnya juga menyebarkan Islam dengan berbagai cara pendekatan agar Islam bisa diterima oleh masyarakat dengan sedikit demi sedikit, membuang unsur jelek yang ada dalam adat dengan mengganti dengan unsur Islam dan melestarikan adat yang baik yang tak berlawanan dengan Islam.

Baca Juga:  Bahaya Laten HT (Indonesia): Koreksi Atas Tulisan Sesat Chaerul Anam

Bayu juga menjelaskan bagaimana pentingnya sebuah rasa cinta adat dan budaya yang ada di negeri tercinta ini, pentingnya mengingat sejarah dari bangsa ini, karena melupakan sejarah bangsa sendiri akan menjadi sebab dari hancurnya suatu bangsa.

Kemudian di video ini diakhiri dengan penjelasan tentang arti tembang yang dikarang oleh sunan kalijaga yang digunakan untuk mengingatkan Sultan Trenggono dalam memimpin. Tembang tersebut menerangkan tentang peran seorang pemimpin yang terkandung dalam tembang Gundul-Gundul Pacul yang yang berbunyi:

Gundul gundul pacul-cul, gembelengan

Gundul yakni kepala yang botak, dari kepala tersebut melambangkan seorang pemimpin dan di kepala terdapat mata, telinga, hidung, mulut. Yang mana kepala sangatlah bergantung pada 4 tersebut yang artinya seorang pemimpin harus menggunakan Indranya secara bijaksana.

Mata yang artinya harus digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.

Telinga yang artinya harus digunakan untuk mendengar nasihat.

Mulut yang artinya harus digunakan untuk berkata-kata yang adil.

Gembelengan yakni sombong atau main-main, artinya Indra tak digunakan dengan bijaksana yakni menutup mata, telinga, serta mulutnya sehingga tak menghiraukan rakyatnya.

Nyungi nyunggi wakul kul, gembelengan.

Nyunggi wakul’ yakni menopang sebuah tempat yang berisi nasi yang melambangkan sebagai pemimpin itu memiliki amanah dari rakyat menopang aspirasi rakyat. Namun, saat membawa wakul, sikapnya sombong dan main-main(gembelengan).

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

Wakul ngglimpang yakni wakulnya tumpah yang artinya amanah, harapan, aspirasi dari rakyat jika pemimpin sombong maka akan menjadikan kehancuran.

Segane dadi sak latar yakni nasinya tumpah ketanah yang artinya setelah semua hancur harapan dari masyarakat maka akan menjadikan sebuah kehancuran sebuah Negara. Rakyat akan menderita karena akibat dari sombong dan main-main yang dilakukan oleh pemimpin tersebut.

Baca Juga:  Polarisasi Islam Moderat vis a vis Islam Radikal

Tembang seperti ini sangatlah dalam arti yang terkandung didalamnya dan bisa dijadikan pelajaran bagi setiap pemimpin di sepanjang masa.

Banyak sekali kita dapati para pejabat Negara yang sombong dan main-main akan kekuasaan tak peduli rakyat menutup mata telinga untuk kepentingan diri sendiri. Sehingga tega untuk mencuri milik rakyat dengan cara korupsi, penyalahgunaan seperti ini sangat lah jauh dari akhlak orang Indonesia yang telah diajarkan nilai-nilai luhur dari para pendahulu kita.

Obrolan Bayu dengan anak-anak ditutup dengan nyanyi Lir-iIir bersama-sama damn tentu tembang ini juga memiliki arti yang sangat dalam pula. Sebuah tembang yang juga dikarang oleh Sunan Kalijaga.

Video ini tentu sangat cocok sebagai tontonan masyarakat milenial yang mana keadaan bangsa Indonesia mulai digoncang dengan berbagai serangan hoax, fitnah, saling hujat tak peduli siapa yang dihujat selam tak sepaham dengannya dan perpecahan atas nama agama sehingga Video ini dapat memberikan pengertian bahwa nasionalisme dan agama adalah suatu kesatuan. Bayu membuat video ini disandarkan dari rangkumannya terhadap ceramah Gus Muwafiq seorang mubalig dari Yogyakarta.


Like it? Share with your friends!

0
271 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
1
Tidak Suka
Lucu Lucu
2
Lucu
Sedih Sedih
1
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
2
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
14
Suka