Anak-anak Algoritma: Menelisik Kerentanan Gen Z dalam Evolusi Ekstremisme

Artikel Trending

Milenial IslamAnak-anak Algoritma: Menelisik Kerentanan Gen Z dalam Evolusi Ekstremisme

Harakatuna.com – Saya baru saja membaca sebuah paper berjudul Young Guns: Understanding a New Generation of Extremist Radicalization in the United States karya Isabel Jones, Jakob Guhl, Jacob Davey, dan Moustafa Ayad. Paper ini menarik karena menjelaskan ihwal bagaimana internet, medsos, dan kultur digital mengubah wajah ekstremisme secara fundamental. Radikalisme hari ini, menurut Jones dkk., relatif estetik, personal, dan susah dikenali. Dan ironisnya, Gen Z jadi tumbal.

Ini bukan fenomena yang terjadi di AS saja. Apa yang disebut Jones dkk. sebagai hybridized extremism mulai terlihat di mana-mana, bahkan di tanah air. Anak muda hari ini diradikalisasi melalui meme, video pendek, forum anonim, algoritma medsos, bahkan AI yang bekerja non-stop. Boleh jadi pertama kalinya dalam sejarah, ekstremisme datang sebagai tren, hiburan, identitas, bahkan gaya hidup digital.

Bagian paling menarik dari paper ini, menurut saya, adalah ketika Jones dkk. menjelaskan radikalisasi sebagai proses sosial-psikologis yang sangat kompleks. Selama ini, orang-orang membayangkan radikal-terorisme ujug-ujug terjadi karena menonton satu video, membaca satu buku, atau mengikuti satu kelompok tertentu. Padahal, faktanya, radikalisasi bergantung pada krisis identitas, kebutuhan akan rasa memiliki (sense of belonging), alienasi sosial, hingga kondisi psikologis.

Gen Z pun tumbuh di dunia paradoksal: mereka paling terkoneksi dalam sejarah manusia, tetapi juga paling kesepian. Mereka memiliki akses informasi tanpa batas, tetapi mengalami krisis makna. Mereka hidup di tengah hiper-konektivitas medsos, tetapi banyak yang kehilangan solidaritas. Identitas dan belonging merupakan faktor sentral dalam radikalisasi anak muda. Radikalisasi hari ini, yang dijual pertama kali adalah rasa diterima, rasa dianggap penting, rasa kekeluargaan.

Seperti yang saya katakan pada tulisan sebelumnya, algoritma mempelajari siapa yang sedang kesepian, marah, teralienasi, bingung terhadap identitasnya, atau frustrasi terhadap hidupnya. Setelah itu, sistem mempertemukan mereka dengan komunitas, simbol, narasi, dan konten yang seolah memberi jawaban instan atas keresahan tersebut. Generasi muda menjadi anak-anak algoritma, bukan anak sosial. Mereka pun berada dalam kerentanan atas ekstremisme.

Saya belajar pada Jones dkk. soal cognitive radicalization dan behavioral radicalization. Seseorang bisa saja mulai percaya gagasan radikal tanpa langsung jadi teroris. Ancamannya datang dari terbentuknya ekosistem psikologis yang membuat ekstremisme terasa normal, logis, bahkan heroik. Mereka, anak-anak muda, dibuat pro-kekerasan dan membenarkannya. Proses radikalisasi sudah berjalan jauh sebelum tindakan kekerasan muncul, alias teradikalisasi secara kognitif.

Yang membuat saya semakin gelisah adalah data yang dikutip paper Jones dkk. tentang tingginya keterlibatan anak muda dalam ekstremisme di AS. Dari 1.028 ekstremis yang aktif antara tahun 2000-2019, sebanyak 639 berusia di bawah 30 tahun, bahkan 24 di antaranya masih di bawah 18 tahun. Angka tersebut menegaskan satu hal penting, yakni bahwa ekstremisme global sedang mengalami regenerasi yang berlangsung lewat internet.

Indonesia harus membaca kerentanan Gen Z ini secara serius. Faktor krisis identitas, alienasi sosial, polarisasi, dan pencarian makna hidup juga tumbuh di sini. Sementara, masifnya penetrasi medsos, rendahnya budaya literasi, itu malapetaka yang sempurna. Ekstremisme tidak lagi membutuhkan organisasi besar untuk eksis dan survive. Cukup manfaatkan algoritma, dan anak-anak muda yang sedang mencari tempat untuk diterima akan siap menjadi teroris.

Non-Organisasi, Ancaman Baru?

Ekstremisme bergerak menuju fase post-organizational. Ini perubahan paling fundamental dalam sejarah. Selama puluhan tahun, dunia memahami ancaman ekstremisme melalui organisasi semacam Al-Qaeda, ISIS, JI, JAD, dan lainnya dengan hierarki, komando, dan mekanisme kaderisasi yang jelas. Namun pola tersebut sudah berubah. Ancaman kini semakin banyak datang dari orang-orang yang bergerak sendiri, teradikalisasi sendiri, dan jadi teroris sendiri.

Jones dkk. menunjukkan eskalasi 311% jumlah anak muda radikal di AS yang tidak memiliki hubungan formal dengan organisasi ekstremis selama satu dekade terakhir. Bahkan lebih dari separuh ekstremis muda di bawah usia 30 tahun tidak terafiliasi kelompok teror mana pun. Ini berarti ekstremisme tidak lagi membutuhkan struktur besar untuk berkembang, dan telah berubah jadi fenomena yang terfragmentasi dan sulit dipetakan.

Dulu, kelompok teror memerlukan ruang fisik untuk merekrut anggota. Mereka butuh pengajian tertutup, forum bawah tanah, atau jaringan distribusi propaganda yang kompleks. Hari ini, semua itu bisa digantikan oleh algoritma. Seorang anak muda yang kesepian di kamar kecilnya kini bisa mengonsumsi ribuan jam propaganda dan video glorifikasi kekerasan, tanpa pernah bertemu perekrut secara langsung. Mereka ingin ‘meneror’ tanpa menjadi ‘anggota kelompok teror’.

Di AS, kerentanan para Gen Z mereka datang dari lone offenders, anak muda yang teradikalisasi sendiri secara daring, lalu bertindak atas nama ideologi tertentu tanpa instruksi petingginya secara langsung. Dan inilah masalahnya. Aparat bisa membongkar organisasi, memonitor komunikasi kelompok, bahkan menangkap tokoh tertentu. Tetapi bagaimana negara mendeteksi jutaan generasi muda yang terpapar radikalisme melalui konsumsi konten digital sehari-hari? Tidak ada.

Di situlah saya merasa negara ini sedang memasuki fase ekstremisme yang relatif sulit dikendalikan dibanding era ISIS atau JAD. Internet menciptakan atmosfer psikologis yang membuat kekerasan dinormalisasi. Radikalisasi daring itu membentuk lingkungan sosial yang permisif terhadap ekstremisme. Ironisnya, ancaman terbesar sebenarnya bukan saja pelaku kekerasan, melainkan normalisasi cara berpikir ekstrem di ruang publik.

Dan gejala tersebut semakin nyata hari ini. Medsos dipenuhi narasi kebencian, glorifikasi kekerasan, identitas eksklusif, dan mentalitas perpecahan antarsesama. Anak muda yang terus-menerus mengonsumsi konten propaganda terselubung perlahan kehilangan sensitivitas terhadap ekstremisme itu sendiri. Mereka akan menganggap intoleransi sebagai keberanian moral, melihat polarisasi sebagai sesuatu yang wajar, dan kekerasan dipandang sebagai ekspresi politik yang sah.

BACA JUGA  Negara Gagal: Mengapa Dunia Muslim Selalu Jadi Medan Terorisme?

Sekali lagi, internet telah berubah menjadi ekosistem ekstremisme modern. Organisasinya boleh jadi mati, tapi ancaman datang kembali lewat algoritma. Dunia digital hari ini memungkinkan kelompok ekstrem menyebarkan doktrin, menyimpan arsip propaganda, menggalang aktivisme, bahkan menyiarkan kekerasan secara langsung. Artinya, internet telah menyediakan hampir seluruh infrastruktur yang dulu hanya bisa dimiliki organisasi besar di dunia nyata.

Kini tantangannya bukan lagi satu organisasi atau satu platform, tetapi jaringan ekosistem yang saling terhubung. Konten propaganda bisa lahir di forum kecil anonim, diperkuat di Discord, dipoles di TikTok, lalu menyebar ke Instagram atau YouTube. Anak muda yang terpapar bahkan tidak sadar sedang masuk ke dalam rantai radikalisasi yang paling meresahkan. Ekstremisme hari ini mengikuti migrasi demografis anak muda, sehingga non-organisasi pun ancamannya besar.

Ancaman Area Abu-abu

Ada fakta yang tak bisa dibantah hari ini: wujud radikalisasi tumbuh di wilayah abu-abu. Teori konspirasi, disinformasi, paranoia politik, hingga komunitas digital yang dekonstruktif tapi memantik mentalitas ekstrem adalah ancaman yang remang, abu-abu, tidak jelas, sehingga menuai pro dan kontra. Sebab, ancaman abu-abu tersebut tidak selalu dimulai dari niat kekerasan. Banyak Gen Z yang awalnya hanya merasa penasaran atau frustrasi terhadap keadaan sosial-politik.

Namun algoritma medsos bekerja dengan cara yang relatif licik: semakin seseorang tertarik narasi dekonstruktif, semakin ekstrem pula konten yang direkomendasikan kepadanya. Sedikit demi sedikit, mereka masuk ke dunia digital yang penuh ketidakpercayaan, paranoia, dan kebencian terhadap kelompok tertentu. Jones dkk. memberi contoh ihwal teori konspirasi yang menginspirasi berbagai aksi kekerasan, dengan QAnon sebagai bukti konkret di AS.

Algoritma menjadi titik tolak evolusi ekstremisme. Gen Z dengan segala kerentanan mereka pun terjerat karena akumulasi ketakutan, kemarahan, dan konsumsi disinformasi yang konstan. Ketika seseorang sudah kehilangan kepercayaan terhadap semua institusi, termasuk negara, maka ia akan mencari jawaban pada komunitas-komunitas alternatif yang menawarkan musuh bersama dan aksi heroik yang naif. Mindset ekstremisme merasuki Gen Z karena merekalah anak-anak algoritma.

Jones dkk. bahkan mengurai lebih dalam, membuat saya tambah mengernyitkan dahi. Ia membahas ihwal ekstremisme yang lahir dari campuran nihilisme digital, glorifikasi pembantaian massal, dan komunitas daring yang bahkan ideologinya tidak jelas. Ini penting, karena selama ini masyarakat memahami bahwa semua kaum ekstremis pasti memiliki manifesto politik atau agenda ideologis. Padahal tidak. Ekstremisme Gen Z boleh jadi tumbuh justru dari kultur digital yang absurd.

Kasus penembakan Highland Park tahun 2022 lalu menjadi contoh yang sangat menarik. Pelaku tidak memiliki ideologi spesifik: tidak cocok dimasukkan ke kategori jihadis, supremasis kulit putih, atau ekstremisme politik klasik lain. Tetapi, ia aktif di komunitas nihilistik online yang memuliakan kekerasan dan membangun persona digital yang terobsesi pada kematian. Bukankah itu evolusi ekstremisme yang mengerikan? Kekerasan tak butuh keyakinan ideologis untuk muncul.

Fenomena gore forum, dark fandoms, dan komunitas daring yang membangun semacam solidaritas melalui konsumsi konten brutal dan kekerasan grafis adalah biang keladinya. Ternyata internet telah mempercepat desensitisasi moral. Gen Z yang terus-menerus mengonsumsi video kekerasan, meme kematian, humor nihilistik, atau glorifikasi pelaku penembakan massal dibuat kehilangan sensitivitas terhadap penderitaan manusia dan memandang perilaku ekstrem sebagai estetika.

Dulu, propaganda ekstremisme berusaha meyakinkan orang bahwa kekerasan itu ‘benar’: jihad qital itu dibenarkan agama, itu misalnya. Hari ini, banyak komunitas daring bahkan tak peduli soal benar-salah. Mereka hanya terobsesi pada sensasi, kekacauan, kehancuran, dan atensi publik. Motivasi ideologis bercampur narsisme digital, alienasi sosial, depresi, dan fantasi menjadi viral. Pelaku kekerasan bahkan tidak memiliki keyakinan politik.

Paper Jones dkk. menyadarkan saya bahwa ekstremis Gen Z hidup di wilayah campuran algoritma yang relatif cair. Mereka mengonsumsi teori konspirasi, mendengarkan propaganda jihadis, aktif di forum nihilistik, dan pada saat yang sama ingin dikenal dunia melalui aksi kekerasan spektakuler. Menegakkan Daulah? Belum tentu. Mereka hanya ingin dilihat, diingat, atau menjadi legenda dalam komunitas tertentu. Dan algoritma medsos mengakomodasi konten ekstrem dan sensasional.

Kerentanan Gen Z dalam evolusi ekstremisme ialah karena mereka tumbuh dalam kultur internet yang memuliakan ironi, humor gelap, nihilisme, dan edgy culture. Sedikit demi sedikit, batas antara bercanda dan kekerasan tidak jelas. Anak-anak muda terbiasa melihat tragedi sebagai hiburan, pembantaian sebagai meme, dan teroris sebagai figur ikonik internet. Ini akan menciptakan generasi yang semakin kehilangan sensitivitas moral terhadap ekstremisme itu sendiri.

Semakin jauh saya membaca paper Jones dkk., semakin saya merasa bahwa dunia sedang menghadapi bentuk ekstremisme yang unik, menakutkan, sekaligus belum banyak dipahami, termasuk oleh pemerintah Indonesia. Ekstremisme hari ini hidup dalam algoritma, komunitas gaming, humor nihilistik, hingga membengkaknya rasa kesepian generasi digital. Proses radikalisasi pun tak lagi butuh rekrutmen langsung. Algoritma medsos telah mengambil alih fungsi itu.

Mungkin inilah ironi terbesar era digital. Teknologi yang semula dijanjikan akan membuat manusia terbuka dan rasional justru ikut melahirkan generasi yang mudah terseret paranoia, tribalitas, dan ekstremisme elastis yang sulit dikenali. Dan jika Indonesia gagal memahami evolusi tersebut, maka kontra-radikalisasi dan kontra-ekstremisme akan terus sibuk memburu organisasi-organisasi teroris lama, sementara bentuk baru ekstremisme tumbuh di layar ponsel Gen Z setiap waktu, nonstop.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khairi
Ahmad Khairi
Alumni Universitas Negeri Malang

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru