Umat Beragama Melawan Intoleransi dan Radikalisme


Harakatuna.com. Manado-Pandangan bahwa ideologi dan gerakan radikal menjadi ancaman terpenting bukanlah hal yang berlebihan, mengingat rentetan aksi terorisme pada tataran internasional, regional dan nasional tetap menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

Dalam konteks Indonesia, terorisme yang terjadi ditengarai meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif setelah reformasi bergulir, dan tidak dapat diabaikan bahwa gerakan terorisme tersebut membawa serta ideologi radikal yang mengancam kesatuan bangsa.

Hal itu mengemuka dalam Training of Trainers (TOT)  yang bertajuk ‘Umat Beragama Melawan Intoleransi dan Radikalisme’ yang digelar Sinode Am Gereja-Gereja (SAG) di Sulawesi bagian Utara dan Tengah,  Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), dan Gereja Masehi Injili di Bolaang Mongondow (GMIBM) di Gedung Gereja Jemaat GMIBM Musafir Genggulung Kotamobagu,Selasa (12/3). Acara TOT diikuti oleh para peserta dari gereja anggota SAG  dan berlangsung selama dua hari (12 dan 13 Maret).

TOT menghadirkan pembicara dan fasilitator yaitu Pdt. Dr. Richard Daulay (Dosen Universitas Pelita Harapan dan mantan Sekum PGI) , Dr. Phil. Suratno (Dosen Universitas Paramadina) , dan Pdt. Jimmy Sormin, MA (Sekretaris Eksekutif Bidang Marturia PGI).

Hadir dalam acara pembukaan TOT Bendahara SAG Pdt. Fanny Wurangian, MTh,Wakil Ketua BPS GMIBM Pdt. John Rumondor, STh, Komisi Sinode GMIBM Pdt. Rolly Raintama, STh

Sormin mengatakan, ideologi-ideologi dan gerakan radikal dalam kenyataannya jelas telah mampu menggerakkan aktor-aktor dari masyarakat sipil menjadi pelaku teror dan radikalisme. Hal ini terlihat dengan semakin meluasnya praktek intoleransi yang semakin masif berlangsung. Berkembangnya aksi-aksi radikalisme dan terorisme ini pada akhirnya akan mengoyak kebinekaan, yang akibatnya, muncul ego sektarian, rasa curiga, bahkan aksi balas dendam. Jika ini terus dibiarkan maka dapat mengancam keutuhan NKRI.

Baca Juga:  Membawa 'pesan jihad', Dua Pelaku Berpakaian Hitam Membakar Kantor Polisi di Sumatera Barat

“Menyadari semakin meningkatnya radikalisasi melalui aksi-aksi kekerasan berbasis agama dan keyakinan di Indonesia, menjadikan hal ini juga sebagai sebuah keprihatinan tersendiri bagi Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). PGI tetap berkeinginan untuk berkontribusi terhadap penyelesaian persoalan-persoalan di tengah kehidupan bangsa, serta menjadi wadah bagi gereja-gereja di Indonesia dalam mendorong tercipta dan terawatnya kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai,”tegasnya.

Wurangian mengapresiasi kegiatan TOT ini sebagai upaya bersama gereja-gereja menghadapi intoleransi dan radikalisasi. Dijelaskan tujuan pelaksanaan TOT adalah untuk mengenal dan memahami berbagai gerakan radikalisme berbasis identitas primordial yang berkembang di indonesia dan memperlengkapi para pimpinan dan pelayan gereja dalam menghadapi isu-isu intoleransi dan radikalisme di sekitarnya terlebih pada masa kontestasi politik.

“Kami berharap dari TOT ini akan terbentuk komunitas lintas iman sebagai wadah kader-kader lintas iman agar bisa menjadi pioner dan penggerak perdamaian, khususnya di Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah,”tambah Wurangian.


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.