Tips Mengajari Anak Menulis Rapi di Era Digital

Adib Muhammad

09/05/2026

4
Min Read
Menulis Rapi

Harakatuna.com – Di era perkembangan teknologi ini tentu banyak dijumpai anak zaman sekarang lebih suka mengetik di laptop, tablet atau smartphone dari pada menulis tangan. Ya, alasannya lebih efisien dan mudah disimpan dimana saja. Lantas dampak bagi perkembangan otak lebih bagus mana antara mengetik atau menulis tangan?

Penelitian menunjukkan bahwa saat kita menulis dengan tangan, bagian otak yang terlibat dalam pemrosesan memori dan pemahaman bekerja lebih aktif. Aktivitas motorik halus yang dibutuhkan untuk membentuk huruf satu per satu secara manual ternyata merangsang sirkuit saraf dalam yang penting bagi pembelajaran.

Ini termasuk area-area otak seperti korteks prefrontal, hipokampus, dan area motorik primer, yang terlibat dalam perencanaan, perhatian, dan penyimpanan informasi jangka panjang. Sementara jika mengetik, meskipun dapat dikatakan efisien tetapi proses mengetik hanya melakukan gerakan memencet tombol secara berulang. Hal ini kinerja otak kurang terlibat secara mendalam. Oleh karena itu penting kita ajarkan menulis pada anak sejak dini.

Belakangan ini muncul di media sosial tentang anak SMA tulisannya tidak bisa dibaca. Usia SMA yang bisa dikatakan sudah menempuh pendidikan lebih dari 9 tahun. Permasalahan tersebut bisa diatasi sejak dini. Sebagian besar orangtua menyerahkan proses belajar menulis pada instansi sekolah.

Sebenarnya sejak usia berapakah anak mulai diajarkan menulis? Anak mulai belajar menulis bisa dimulai antara umur 3-6 tahun. Sehingga orangtua bisa mengajari anaknya di rumah. Berikut tips mengajari anak menulis rapi.

Pertama, latih anak menggenggam. Proses menggenggam tidak langsung memakai pensil. Anak bisa dilatih bermain plastisin. Tentu anak kecil tertarik bermain plastisin dengan cara dipijat ringan, dibentuk seperti ikan. Kegiatan bermain ini dapat mengasah keterampilan motorik anak. Selain itu, bisa juga menggunakan jepitan jemuran baju. Anak diajak untuk buka tutup jepitan sambil diajak jepit baju.

Cara lain yaitu dengan menggunting kertas. Pada saat menggunting ini, kemampuan motorik anak akan terasah pelan-pelan. Namun, pastikan dalam pengawasan orangtua dan gunakan gunting khusus anak. Hal ini membuat kemampuan menggenggam anak terlatih dengan baik. Oleh karena itu, sebelum mengajari anak cara menulis yang rapi, latihlah kemampuan menggenggamnya lebih dulu.

BACA JUGA  Menulis Ekspresif: Jalan Alternatif Merawat Kesehatan Mental Kita Hari Ini

Kedua, ciptakan ruang belajar yang nyaman bagi anak. Saat belajar di rumah, orangtua perlu menyiapkan ruang belajar yang nyaman. Termasuk meja belajar, kondisi kebersihan ruang belajar, cahaya yang cukup. Sehingga anak bisa nyman dalam belajar menulis.

Ketiga, ajari anak menulis sesuai dengan tahap perkembangan usianya. Pada jenjang usia PAUD, anak bisa diajak untuk menebalkan garis lurus dilanjutkan menebalkan bentuk-bentuk bangun datar seperti lingakaran. Jika sudah lancar dalam menebalkan bangun datar, anak diajak untuk menebalkan huruf yang sudah ada titik-titiknya.

Proses menebalkan huruf ini bisa diawali dengan nama panggilan anak. Sampaikan pada anak, agar menebalkannya tidak keluar titik-tik yang telah dicontohkan. Agar menarik dan tidak membosankan, bisa juga disediakan pensil warna. Saat anak sudah memasuki usia TK, anak sudah mulai diajarkan menulis huruf dan kata. Pada usia ini anak sudah mulai stabil dalam memegang pensil. Perlu juga di usia ini, anak diajarkan duduk tegak saat proses menulis.

Selanjutnya, saat anak sudah memasuki jenjang SD terutama di kelas 1 dan 2 latihlah untuk menulis dengan rapi. Pada buku tulis bergaris, bisa ditekankan bahwa jika huruf kecil menulisnya setengah dari tinggi garis, kemudian untuk huruf kapital bisa ditulis garis penuh. Selama di jenjang usia ini perlu pengawalan dan pemantauan yang ketat.

Usia-usia ini mulai terlihat kerapian anak dalam menulis. Pada tahapan ini, jangan sampai mengejar kuantitas tetapi kualitas lah yang diutamakan. Anak tidak perlu menulis kalimat yang banyak, nanti dampaknya bosan dan kelelahan sehingga malah muncul stigma negatif dari dalam diri anak tentang menulis. Mulailah dengan satu sampai dua kalimat.

Sebisa mungkin langsung dikoreksi dan sampaikan evaluasinya jika menemukan kesalahan menulis pada kerjaan anak-anak. Mengajarkan anak menulis bukan hanya soal persiapan akademik. Kegiatan ini punya dampak besar pada perkembangan keseluruhan anak, di antaranya: mengembangkan motorik halus, meningkatkan konsentrasi dan ketekunan, membantu kemampuan membaca, mengekspresikan ide dan emosi.

Leave a Comment

Related Post