Sosialisme-Marxisme dan Islam


0
4 shares
Dok. Pent.

Lahir dari kalangan rakyat jelata di Mazinan, sebuah desa dekat Masyhad, timur laut Khurasan, Iran pada tanggal 24 November 1933 tak lantas membuat nasib Ali Syari’ati ikut melarat. Orangtuanya Sayyid Muhammad Taqi’ Syari’ati dan Putri Zahrah adalah keluarga yang disegani di tengah-tengah masyarakat sebagai tokoh spiritual. Darah intelektual dan spiritual mengalir dari keluarganya. Ali Syari’ati kecil sudah berbeda dengan teman sebayanya. Pikirannya sudah jauh meningalkan teman sebayanya. Hal tersebut tak terlepas dari lingkungan keluarga yang mendukung ia untuk tumbuh di tengah suasana intelek. Buku-buku menjadi teman setianya dalam mengarungi waktu sepanjang hari.

Setelah lulus dari Universitas Masyhad, Ali Syari’ati hijrah ke Universitas Paris. Disana ia merasa bebas dari incaran penguasa Iran kala itu. Ia mulai berkenalan dengan berbagai aliran pemikiran yang berkembang di dunia Kajian-kajian yang dilakukannya mengarah pada tema Islam dan Sosiologi. Ia pun menelaah secara mendalam terhadap pandangan-pandangan Karl Marx. Ia menolak kesimpulan-kesimpulan dalam paham Marxisme.

Buku ini memberi gambaran terhadap pemikiran-pemikiran Ali Syari’ati terhadap Sosialisme dan paham sosialisme lainnya -seperti marxisme, leninisme, stalinisme, neo-marxisme dll- dan relasinya dengan eksistensi Tuhan melalui agama-agama yang pernah di turunkan-Nya, terutama Islam. Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah Sosialisme-marxisme, dapat diselaraskan dengan Islam ?

Sebelum mengajukan kritik atas marxisme, Ali Syari’ati mengidentifikasi karakteristik dari marxisme itu sendiri. Pertama, penolakan terhadap fenomena spiritual manusia yang bersifat non materi. Kedua, pembatasannya terhadap kebutuhan dan cita-cita ideal manusia pada kekuasaan dan pengagungannya terhadap kebutuhan ekonomi di atas seluruh kebutuhan manusia. Ketiga, filsafat materialisme dalam segi moral dansemangatnya. Keempat, marxisme berpijak pada mesin-mesin yang dipandang sebagai faktor yang menjamin kekuasaan dan pangsa ekonomi. Kelima, determinisme terhadap iman keagamaan atau aspek spiritual, karena dipercaya akan menghambat kemajuan dan legal untuk dibasmi (hal. 188).

Baca Juga:  Mensyukuri “Nikmat” Indonesia

Namun, Eko Supriyadi tidak sepenuhnya menelan bulat-bulat gagasan-gagasan yang dilontarkan Ali Syari’ati. Eko memiliki beberapa kriti atas kritik yang dilontarkan Syariati terhadap Marxisme. Pertama, Syari’ati menggeneralisasi terhadap marxisme itu sendiri tanpa adanya pembedahan pendahuluan antara pemikiran asli yang bersumber dai Karl Marx serta turunan-turunannuya yang dikembangkan oleh tokoh marxis lain yang mempopulerkan marxisme itu sendiri seperti Engels, Kautsky dll. Syari’ati pun luput dalam membedakan marxisme sebagai ideologi dan marxisme sebagai pedoman praksis.

Kedua, Ali Syari’ati dominan berktat dalam kritiknya atas materialisme dan doktrin anti-agama dari marxisme. Padahal, ketika Karl Marx dan penerusnys mengembangkan paham ini tidak hanya berfokus di dalam hal tersebut. Melainkan menjalar hingga ke ranah ekonomi, politik dll. Sehingga yang timbul adalah bahwa marxisme paham anti Tuhan.

Ketiga, materialisme yang dikritik Syari’ati adalah materialisme sebagai pandangan hidup. Sama halnya dengan Mochtar Pabotinggi yang mengatakan sebenarnya materialisme yang dimaksud Karl Max adalah posisi epistemologis sebagai suatu pendekatan ilmiah. …Ia hanya materialis dalam pemahaman intelektual, yakni dalam mempersaksikan dan memahami besarnya peranan dunia benda, yaitu dunia riil yang daoat dilihat, diraba, dan diukur, dalam menentukan kehidupan manusia (hal. 226).

Kempat, Syaria’ati banyak mencounter pemikiran Marx berdasarkan interpretasi tekstual. Padahal, marxisme lahir dengan muatan makna konteks, latar belakang, di mana, kapan dan dalam kondisi seperti apa yang menyebabkan ideologi itu muncul. Juga jika kita sadari bahwa Marxisme sendiri lahir setelah kematian Karl Marx sendiri melali generasi penerusnya. Eric Fromm bahkan mengatakan “cita-cita Marx sebenarnya untuk membebaskan manusia dari belenggu ketergantungan, alienasi, serta penindasan ekonomi” (hal. 227).

Kelima, Syari’ati menekankan bahwa Marxisme identik dengan ateisme. Padahal, baik Marx maupun Engels penrah memberi peluang ketika menyatakan bahwa iman dapat memainkan peranan sejarah. Bahkan Engels pernah menyatakan bahwa kristen primitif adalah agama revolusioner. Dngan demikian, kritik atas Marxisme sebagai ideologi ateis tidak bisa digeneralisasi. Perlu penegasan apakah yang ateis itu Marxisme sebagai ideologi atau kah Marx sendiri sebagai individu. Ataupun para pengikutnya yang terang-terangan menyatakan sebagai ateis seperti Lenin, Stalin dan kaum marxis lainnya.

Baca Juga:  Kembali Ke Khittah Perjuangan Bangsa

Marxisme dan Islam adalah dua hal yang sulit di pertemukan. Tuduhan marxisme terhadap agama yang mencandukan masyarakat dinilai oleh Islam sebagai kekeliruan yang fatal. Dalam garis besarnya, Islam berada dalam ranah yng lian dari pemikiran seperti Kapitalisme, Fasisme, Humanisme bahkan Marxisme. Jika aksi-aksi yang mengatasnamakan Islam memiliki akar yang sama dengan idealisasi Sosislisme maupun ideologi lainnya, adalah semata-mata nilai-nilai yang dikandung Islam bersifat universal. Dimana sesuatu hal yang bersifat universal di dalmnya terpadat substansi partikular. Seperti Islam yang universal di dalamnya terdapat nilai-nilai yang bersifat partikular seperti Sosialisme, Fasisme, Kapitalisme dan lainnya.

Judul               : Sosialisme Islam, Pemikiran Ali Syari’ati

Penulis             : Eko Supriyadi

Penerbit           : Pustaka Pelajar

Cetakan           : Kedua, Juli 2017

Tebal               : xvi + 285 halaman

ISBN               : 979-3477-32-6

Peresensi        :  Taufan Sopian RiyadiMahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, tinggal di Gedung 8 RT 01 RW 09 Desa Kertamulya, Kec. Padalarang, Kab. Bandung Barat 40553.


Like it? Share with your friends!

0
4 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.