25.7 C
Jakarta
Array

Qushay

Artikel Trending

Qushay
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Qushay

(Serial Leluhur Nabi Muhammad saw 4)

Qushay adalah kakek keempat Nabi Muhammad dari jalur ayah. Ia merupakan buah cinta dari pasangan Kilab dan Fatimah binti Sa’d bin Sayal. Sebagai anak kedua setelah kakaknya yang bernama Zahrah, Qushay sebenarnya diberi nama Zaid oleh sang ayah. Selanjutnya tetap disebut Qushay. Nama Qushay (anak kecil yang jauh) sendiri merupakan sebutannya semenjak ia diasuh di negeri Syam jauh dari Mekah oleh ayah tirinya dari klan Qudha’ah yang bernama Rabiah bin Haram setelah ayah kandungnya, Kilab meninggal dunia saat ia masih berusia dini. Mengingat Qushay masih balita, sang ibu memutuskan untuk mengikutsertakannya ke Syam. Sementara putra sulungnya, Zahrah tidak diajak karena sudah dianggap cukup dewasa untuk ditinggal.

Qushay mempunyai bakat memanah sejak kecil. Ia seringkali memenangkan pertandingan panah dengan usia sebayanya. Sampai-sampai satu waktu anak yang dikalahkannya –konon bernama Rafi’- tidak terima sehingga tersulutlah perkelahian antara mereka berdua. Saking geramnya, Rafi’ mengungkit-ungkit asal-usul Qushay yang bukan berasal dari klan Qudha’ah dan memaksanya untuk pulang ke negara asalnya, Mekah. Qushay yang memang belum tahu asal-usulnya mengadu kepada ibunya dan bertanya siapa sebenarnya ayah kandungnya. Fatimah dengan penuh kasih sayang menenangkan putranya dengan menjelaskan asal-usul putranya dari keturunan Bani Kinanah dan suku Quraisy yang kedudukannya lebih mulia dibandingkan dengan klan Qudha’ah yang ia tempati saat itu. Tanah suci Mekah adalah kampung halamannya, lanjut Fatimah. Dengan emosi yang masih memuncak, Qushay memutuskan untuk tidak lagi tinggal di Syam selamanya. Sang ibu kembali menenangkannya untuk tidak gegabah khawatir hal lebih buruk menimpa putranya. Ia diminta untuk tetap tinggal sementara sampai musim haji tiba. Baru kemudian dipersilahkan untuk ‘mudik’ ke Mekah. Akhirnya Qushay mengindahkan permintaan sang ibu hingga ia berangkat ke Mekah bersama para jamaah haji Qudha’ah.

Setibanya di Mekah, Qushay berjumpa dengan kakaknya, Zahrah. Namun sang kakak kini sudah berubah penglihatannya menjadi buta. Zahrah tahu kalau yang menjumpainya adalah adiknya dari kemiripan suara dan bulunya yang lebat. Serampung menjalankan ibadah haji, para rombongan haji Qudha’ah meminta Qushay untuk ikut kembali pulang ke Syam. Namun Qushay menolak ajakan tersebut dan lebih memilih untuk tetap tinggal di tanah kelahirannya, Mekah.

Di saat beranjak dewasa, Qushay menjadi pemuda pemberani dan penuh wibawa. Ia mempersunting seorang gadis bernama Huba, putri dari Halil bin Habasyiyah al-Khuzai seorang pembesar Bani Khuza’ah yang memegang kekuasaan di Mekah mulai pemerintahan hingga urusan Kakbah. Sebagai menantu Qushay melanjutkan kepemimpinan sang mertua sejak kewafatannya. Sebab Qushay dinilai paling tepat mewarisinya karena mempunyai bakat kepemimpinan yang unggul. Indikatornya adalah kemampuannya untuk mengumpulkan dan mempengaruhi banyak orang. Sehingga Qushay merupakan keturunan pertama dari kakeknya, Ka’b bin Luay yang memegang kekuasaan.

Di antara jasa Qushay adalah membangun Darun Nadwah, semacam pusat kegiatan masyarakat. Di bawah kepemimpinan Qushay, Kakbah mengalami renovasi besar-besaran yang tidak pernah dilakukan pada masa-masa sebelumnya. Kemampuan mengumpulkan dan mempengaruhi banyak orang, membuat Qushay orang Qurasy pertama yang disebut dengan Quraisy. Sebutan Quraisy sendiri berasal dari taqarrusy yang berarti mengumpulkan.

Ketika suku Quraisy menjadi besar di tangannya, Qushay mulai mengkader putra-putranya untuk menjadi penerusnya. Putra sulungnya, Abdu Manaf diberi kepercayaan untuk melanjutkan kepemimpinannya. Abdud Dar diamanahi untuk mengurus Darun Nadwah. Sedangkan Abdul Uzza diminta untuk meneruskan urusan logistik bagi para tamu Allah yakni jamaah haji. Qushay meninggal dunia dan dikebumikan di al-Hajun. (Ali Fitriana)

 

Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru