31.4 C
Jakarta
Array

Tangisan Pohon Kurma Kepada Rasulullah

Artikel Trending

Tangisan Pohon Kurma Kepada Rasulullah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Sepotong siang di hari Jumat. Seperti biasanya, penduduk kota Madinah beserta Rasulullah dan para sahabat-sahabatnya berkumpul untuk melaksanakan shalat Jumat di Masjid Nabawi. Namun hari itu, penduduk Madinah tengah digemparkan dengan isakan tangis yang tersedu-sedu, tak kunjung henti. Sayup-sayup dari kejauhan, suara itu seperti isakan bayi yang sedang merengek-rengek. Tak pelak, suara itu berasal dari tempat yang tidak jauh dari masjid. Para sahabat Rasulullah yang berada di masjid pun tampak kebingungan, siapakah gerangan yang menangis hingga tersedu-sedu.

Tangisan itu terdengar sesaat ketika Rasulullah menyampaikan khutbah Jumatnya. Tak lama kemudian, Rasulullah pun turun dari mimbar dan menunda khutbahnya, menghampiri asal suara itu. Rasulullah kemudian mendekati sebuah pohon kurma. Ternyata, si pohon kurma itulah yang menangis. Beliau mengelusnya dengan penuh kasih-sayang, dan kemudian memeluknya. Saat itu juga, pohon kurma yang tersedu-sedu dan hampir terbelah karena jerit tangisnya, perlahan mulai berhenti.

Diketahui, pohon kurma itu menangis lantaran ditinggalkan Nabi. Sebelum Masjid Nabawi dibangun, pohon kurma itu telah berada di sana. Tidak hanya menjadi tonggak, pohon kurma tersebut setia mendampingi dan menjadi sandaran Nabi setiap kali menyampaikan khutbah kepada umatnya. Si pohon selalu setia menanti datangnya hari Jumat. Bila Jumat tiba, si pohon selalu bahagia. Tak ada kesedihan dan tangisan yang ditampakkan sang pohon. Karena pada hari itu, ia akan mendampingi Nabi untuk memberikan nasihat-nasihat kepada umatnya.

Jauh-jauh hari sebelum Jumat yang pilu menimpa bagi si pohon, datang seorang wanita tua Anshar menjumpai Rasulullah. Ia bercerita kepada Rasulullah bahwa ia memiliki seorang putra yang berprofesi sebagai tukang kayu. Lantas si wanita itu, menawarkan sebuah mimbar kepada Rasulullah sebagai tempat untuk menyampaikan khutbah Jumatnya. “Wahai Rasulullah, jika Engkau berkenan, kami akan membuatkan sebuah mimbar untuk Anda?” tawarnya. Rasulullah pun menimpali tawaran itu, “Iya, tidak apa-apa,” ujar beliau dengan senang hati.

Setelah keesokannya, tibalah Jumat yang pilu itu bagi si pohon. Mimbar yang dibuatkan putra dari wanita Anshar telah siap digunakan Rasulullah. Mimbar itu pun diletakkan di dalam masjid. Saat Rasul menaiki mimbar, kemudian si pohon kurma itu menangis tersedu-sedu. Tiada hari yang paling sedih dan paling pilu sepanjang hidup si pohon kurma bersama Rasulullah selain di hari itu. Karena si pohon tidak lagi merayakan kebahagian bersama Rasulullah. Ia tidak juga menjadi pendamping setia Rasul dalam setiap khutbah Jumat seperti biasanya. “Pohon ini menangis karena ditinggalkanku. Ia tidak lagi menjadi sandaranku ketika aku menyampaikan khutbah Jumat seperti biasanya,” ujar Rasul kepada para sahabat dan jamaah Jumat waktu itu setelah memeluk pohon tersebut.

Setelah pohon tersebut dipeluk Rasulullah, tangisnya pun berhenti dan merasa bahagia seperti sediakalanya. Ia tidak lagi menangis dirundung kesedihan karena ditinggalkan Rasulullah. Meski pohon itu tidak lagi didampingi oleh Rasulullah, sebuah pelukan darinya cukup untuk mengobati rasa rindunya. “Kalau tidak aku peluk dia, sungguh dia akan terus menangis hingga hari kiamat,” kata Rasulullah kepada para sahabat-sahabatnya. [Ahmad Fathoni Fauzan]

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel SebelumnyaQushay
Artikel SelanjutnyaMelindungi Perempuan dari Ancaman Radikalisme

Artikel Terkait

Artikel Terbaru