27.7 C
Jakarta

Penggiringan Narasi Kelompok Radikal di Tengah Peristiwa Israel-Palestina

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanPenggiringan Narasi Kelompok Radikal di Tengah Peristiwa Israel-Palestina
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Habis Hari Raya Idul Fitri 2021 seluruh warga negara, termasuk Indonesia dikagetkan dengan peristiwa serangan Israel terhadap warga Palestina. Penting diketengahkan, karena peristiwa ini sangat mungkin dipolitisasi oleh kelompok radikal. Bahwa, bagi mereka, serangan Israel terhadap Palestina berkaitan dengan agama.

Pandangan kelompok radikal yang sangat sempit ini tidak bisa dibiarkan. Sebab, narasi yang mereka bangun akan menghadirkan masalah baru yang tak berkesudahan. Sebut saja, non-muslim dipersepsikan zalim karena telah merendahkan umat Islam. Sehingga, orang awam (yang belum mengerti duduk persoalan kasus Israel-Palestina) akan sangat mungkin terpapar paham radikal berwajah terorisme. Bahaya, bukan?!

Sesungguhnya peristiwa Israel-Palestina tidak ada kaitannya dengan agama. Itu semua hanyalah politik. Bila ditelusuri lebih jauh, orang Israel yang melakukan aksi-aksi kekerasan terhadap Palestina digolongkan dengan Zionis. Sederhananya, Zionis ini adalah gerakan radikal yang mencatut agama Yahudi–jika di dalam Islam, Zionis ini adalah kelompok radikal yang berlindung di bawah instrumen agama.

Siapapun yang menghubungkan peristiwa Israel-Palestina dengan agama tidak dapat diterima. Karena, semua agama, termasuk Islam dan Yahudi, tidak mengajarkan pemeluknya melakukan tindakan kejahatan seperti yang dilakukan oleh orang Israel dan kelompok radikal. Agama selalu mendorong pemeluknya melakukan perbuatan yang baik. Semisal, menghormati orang lain, meski berbeda; tidak merusak rumah ibadah agama lain; dan saling hidup rukun.

Perbuatan Israel terhadap Palestina termasuk tindakan yang tidak manusiawi. Semua agama jelas mengecamnya. Bahkan, beberapa tokoh di berbagai negara mengkritik perbuatan Israel yang keterlaluan. Presiden Turki Tayyib Erdogan menyebutkan, “Israel yang kejam. Negara teror Israel yang kejam dan tidak etis menyerang muslim di Yerusalem. Turki segera meluncurkan inisiatif yang diperlukan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa, Organisasi untuk Kerja Sama Islam dan semua lembaga terkait mengambil tindakan.”

Kritik yang disampaikan oleh Presiden Turki tersebut dapat menggambarkan bahwa tindakan Israel tidak dapat dimaafkan. Maksudnya, tindakan ini melangkahi nilai-nilai kemanusiaan yang semestinya dijaga dengan baik. Tindakan brutal Israel tak ubahnya tindakan teroris yang telah membunuh jiwa-jiwa yang tidak berdosa. Membunuh satu jiwa dalam Islam sama dengan membunuh semua jiwa. Beginilah pentingnya menjaga jiwa.

BACA JUGA  Idul Fitri, Hari Kemenangan Melawan Nafsu Radikalisme

Maka dari itu, kita hendaknya menyikapi persoalan Israel dengan cara pandang yang benar. Cara pandang yang benar akan melihat persoalan ini berhubungan dengan penghilangan nilai-nilai kemanusiaan. Menjaga nilai-nilai kemanusiaan menjadi sangat penting di benak manusia. Nilai-nilai mulia ini tidak dapat ditukar dengan apapun termasuk kepentingan politik, apalagi kepentingan pribadi.

Pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan berkaitan erat dengan sikap toleransi. Manusia yang toleran tidak akan tega mengganggu, apalagi membunuh orang lain. Karena, semua manusia bersaudara, meski tidak seiman, tidak setanah air, dan tidak sepemikiran. Sayyidina Ali bin Abi Thalib berpesan, “Jika kamu bertemu seseorang, sedang dia tidak seagama, maka dia tetap saudaramu sekemanusiaan.”

Pentingnya menjaga sikap toleransi beririsan dengan pentingnya menghadirkan perdamaian. Suatu negara yang warganya bersikap toleran satu sama lain, akan menghadirkan negara yang damai. Perseteruan terjadi tak lain dan tak bukan disebabkan oleh sebagian kecil warga negara yang tidak toleran, sehingga merasa paling benar. Lihatlah Nabi Muhammad yang hidup damai dengan umatnya, meski tidak seiman. Karena, Nabi menghargai toleransi beragama di antara beliau dan umatnya.

Setelah baru saja umat Islam bermaaf-maafan, mungkin juga umat di luar Islam di hari raya yang fitri, diharapkan peristiwa Israel-Palestina segera berakhir dan kelompok radikal segera musnah. Semua yang kejam berganti dengan kebaikan. Sehingga, mampu menghadirkan sikap yang dirindukan oleh semua insan. Tidak perlu mengecam satu sama lain. Cukup saling menasehati. Mungkin dengan cara itulah, Tuhan menghadirkan hidayah di hati makhluk-Nya.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru