Pembantaian dan Industri Kebencian (Bagian I)


0
10 shares

Saya sedang berada di pesawat, dari Abu Dhabi menuju Jakarta, saat menonton siaran live CNN dan BBC tentang pembantaian terhadap kaum Muslim di Christchurch, Selandia Baru (SB). Baik host maupun narasumber yang ditampilkan, beberapa kali mengulangi kalimat yang sama: mengapa ini bisa terjadi di SB, yang terkenal sangat damai dan toleran?

Yang menjadi perhatian dunia pada hari-hari selanjutnya adalah respon warga SB yang luar biasa. Tak terhitung bunga yang diantarkan ke lokasi pembantaian. Tangisan orang-orang yang sesungguhnya tak mengenal para korban. Kaum perempuan, apapun agamanya, pada suatu hari sepakat ramai-ramai pakai jilbab. Warga non-Muslim bersama-sama menjaga kaum Muslim saat mereka sholat di masjid.

Bahkan anak-anak sekolah pun turut serta dalam gerakan empati massal yang luar biasa ini dengan beramai-ramai menarikan Haka secara amat khusyuk. Haka adalah tarian tradisional suku Maori, menyimbolkan duka cita sekaligus kemarahan pada kebiadaban itu. Terbayangkah Anda, anak-anak SMA kita bisa secara spontan melakukan gerakan empati seperti itu saat beberapa gereja Surabaya dibom oleh simpatisan ISIS?

Kemarin (21/4), saat umat Kristiani sedunia memperingati Jumat Agung, teroris melakukan aksi bom bunuh diri di gereja St. Sebastian, Sri Lanka. Belum ada yang menyatakan bertanggung jawab. Tapi melihat metode yang dipakai (aksi bom bunuh diri), sepertinya sudah banyak yang menduga, siapa.

Saat sholat Jumat sepekan setelah pembantaian di SB, Gamal Fouda, imam masjid Al Noor, memberikan khutbah, antara lain, mengecam ideologi ‘white supremacist’ (mengagungkan kulit putih, membenci non-kulit putih) dan menyebutnya sebagai ideologi jahat.

Dia menyatakan, “Politik ketakutan [terhadap Muslim] tidak terjadi dalam semalam. Ini adalah hasil dari [politik] anti-Islam dan anti-Muslim yang dilakukan sebagian pemimpin politik, media massa, dan yang lainnya.”

Baca Juga:  Akankah Teroris Terus Menghantui Kita?

Ya, saya setuju sekali dengan kalimatnya ini. Salah satu contoh teraktual adalah pernyataan-pernyataan Trump yang memfitnah kaum Muslim. Cara media massa dunia memberitakan pembantaian di SB pun terlihat berbeda: si pembunuh ditampilkan sisi ‘kemanusiaan’-nya, dicari-cari sebab psikologis, latar belakang keluarga, dll. Sebaliknya, sedikit yang membahas profil para korban secara detil, yang menampilkan sisi kemanusiaan korban, betapa mereka sama seperti manusia lainnya, berhak hidup, apapun agama dan rasnya.

Jika saja yang terjadi sebaliknya (orang Muslim yang jadi teroris), teknik pemberitaan media mainstream adalah sebaliknya.

Tapi… ada TAPI-nya ya.

Dengarkan pernyataan Ustadz Bakhtiar Nasir (UBN) pasca kejadian SB.

“Perisitiwa ini memberikan pesan kepada dunia bahwa keberadaan umat Islam yang berjumlah mayoritas selalu saja menjadi pengayom dan mengedepankan toleransi tapi sebaliknya jika posisi umat Islam sebagai minoritas selalu menjadi sasaran kezaliman.”

Siapapun yang mengikuti sepak terjang UBN selama perang Suriah dan Pilkada DKI, akan mengerutkan kening mendengarkan kalimatnya.

Toleransi?

UBN menggalang dana untuk Suriah yang kemudian ketahuan berada di gudang makanan yang dikuasai Jaish Al Islam, kelompok teror yang sangat keji di Suriah. Saat menggalang dana pun, UBN mengibarkan bendera FSA, juga kelompok teror [‘pemberontak moderat’, istilah yang dipakai AS dkk].

Tentu saja, UBN dkk tidak menyebut Jaish atau FSA sebagai teroris, tetapi ‘mujahid’ yang sedang berjuang melawan ‘Bashar Assad Syiah yang sedang membantai Sunni’. Apapun bukti dan data yang diberikan untuk membantah pernyataan UBN dkk, tak pernah digubris. Bahkan bantahan yang diberikan Dubes Indonesia untuk Suriah dan ulama-ulama asli Suriah pun tak mereka dengar.

Toleransi?

Omong kosong, dana (donasi) umat ratusan milyar dikeruk dengan menebar kebohongan soal ‘Syiah membantai Sunni’, sambil menciptakan ketakutan dan kebencian di negeri sendiri. Musuh politik akan dituduh Syiah (atau komunis, atau kafir, semua 1 paket).

Baca Juga:  Radikalisasi Indonesia Meng- copy-paste Radikalisme Suriah

Toleransi?

Omong kosong. Ratusan ribu orang (diklaim ‘jutaan’) dikerahkan untuk mendemo seorang politisi Nasrani yang salah ucap dan sudah meminta maaf. Alih-alih meneladani Rasulullah yang amat pemaaf, mereka terus berkeras, berdemo dengan kata-kata ‘penggal’, ‘bunuh’, ‘gantung’.

Setelah sang politisi dijebloskan ke penjara, mereka terus bergerak, karena tujuan akhir memang belum tercapai. Pilpres 2019 pun tiba. Mereka membawa klaim-klaim agama.

Toleransi?

Omong kosong. Di mana toleransi ketika mereka mengitimidasi pihak yang berbeda pilihan dengan mereka: disebut tidak taat ulama, bahkan kafir atau prokomunis?

Kini, mereka terus mengulang-ulang kata bohong, curang, dan bahkan perang.

Video seorang ustadz dari kelompok mereka baru-baru ini tersebar di medsos. Ustadz itu mengatakan, “…bila kalian curang, demi Allah, nyawa akan kami berikan untuk menegakkan keadilan.. darah akan kami tumpahkan.. bumi pertiwi akan kami merahkan dengan darah kalian…”

Mengerikan sekali.

White supremacist do kills. Supremasi kulit putih, Islamophobia, memang jahat dan telah membunuh banyak Muslim.

Tapi, kebencian yang diumbar oleh para ustadz Muslim pun membunuh. Siapa yang memprovokasi umat untuk bergabung dengan ISIS dan Al Qaida lalu membunuh diri mereka sendiri? Tak lain para ustadz itu.

Siapa korban terbanyak pembantaian ISIS, Al Qaida, Jaish Al Islam, FSA (dan afiliasi mereka di seluruh dunia)? Muslim. Bila mereka dengan bangga membantai lawannya di depan kamera, lalu mereka unggah ke medsos, lalu muncul Islamophobia, salah siapa? Bila sesama Muslim saja mereka bantai, salahkah bila non-Muslim ketakutan?

Kini, cara-cara perebutan kekuasaan dengan darah ala Timur Tengah dengan bebas dikoar-koarkan oleh sejumlah ustadz. Tidakkah ini mengkhawatirkan sekali?

Dina Y Sulaeman, analis Timur Tengah dan Islam

 

Baca Juga:  Pesan Dari Timur Tengah Untuk Indonesia

Like it? Share with your friends!

0
10 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.