Menulis sebagai Terapi: Ketika Jurnal dan Puisi Memeluk Hari-hariku

Margaretha Tinambunan

02/05/2026

4
Min Read
menulis jurnal

Harakatuna.com – Sedari kecil, setiap manusia sudah terlahir dengan berbagai tantangan. Mulai dari konflik keluarga, ekonomi, ataupun perihal yang lain. Menjadi manusia yang berpura-pura kuat bukanlah pilihan yang ideal bagiku, hanya saja menjadi lemah pun bukan hal yang baik.

Berpura-pura kuat akan membuat kita melupakan emosi yang kita rasakan, akibatnya kita hanya menyimpannya dan tidak mengekspresikannya. Manusia lemah adalah mereka yang hanya terus-menerus memikirkan masa depan dengan perdebatan di kepalanya sendiri. Hal ini juga lama-kelamaan akan mengikis umur panjangnya karena overthinking yang berkepanjangan.

Kegemaran menulis ini baru kusadari sejak duduk di bangku SMP. Awalnya aku hanya menulis puisi secara rutin di kertas-kertas diari di masa SD dahulu. Kutuliskan kata-kata cantik yang sewaktu-waktu juga bisa mengangkatku kembali di kala aku terjatuh. Bagi sebagian orang, menulis memang terasa melelahkan, tapi apa rasanya ketika mereka menekuni hal tersebut?

Mereka akan memahami makna menulis ketika sudah menekuninya. Menulis akan menjadi pilihan yang sangat tepat untuk terapi diri. Bukan hanya terapi sejenak dari gawai, tetapi benar-benar mengistirahatkan diri dari setiap sudut dunia yang sudah sangat sibuk. Hingga kita pun jarang memiliki waktu yang benar-benar hadir untuk diri sendiri. Kehilangan waktu karena banyak waktu yang dihabiskan hanya untuk menatap laptop ataupun handphone yang selalu ada di genggaman kita.

Ketika kita tidak menyadari keberadaan kita saat ini, proses yang sedang kita alami, maka kita tidak akan lebih menghargai usaha keras yang sudah kita lakukan. Karena ketika kita menulis, ini adalah sebuah memori yang kita tata dan simpan dalam bentuk tulisan. Maka menulis adalah perihal memindahkan emosi yang kita rasakan ke dalam tulisan. Baik emosi dalam rasa kecewa, rasa senang, rasa marah, rasa haru, dan masih banyak emosi lain yang bisa kita rasakan.

Terkadang hal-hal yang berkecamuk itu hanya menyempitkan isi kepala kita dan membuat otak terasa melebihi kapasitas serta lebih sesak. Karena itu, kurasa kita tidak perlu memaksa menyimpan semuanya itu, tetapi cobalah kita tata rapi kembali hal-hal tersebut di tempat yang aman dan nyaman. Menata semua perasaan yang kita alami melalui tulisan yang sudah berhasil kita buat.

Menulis bukan kegiatan untuk membuang waktu dengan sia-sia, akan tetapi menulis adalah salah satu cara untuk membuktikan bahwa kamu sedang berproses kala itu. Hari ini kamu sedang sangat sulit, namun tujuh hari ke depan ternyata harimu terasa sangat menyenangkan. Maka kamu akan sadar bahwa hidup bukan selalu tentang merasa “bahagia”. Memang semua manusia pasti mengejar “bahagia”, namun apa jadinya jika “bahagia” itu mudah dicapai? Maka tidak akan berharga lagi rasanya ketika kita sedang berbahagia.

BACA JUGA  Menjadi Sarjana Berkelas dengan Konsisten Mengasah Literasi

Ibarat sayur tanpa garam, hidup pun juga begitu. Jika hanya ada rasa bahagia saja, maka akan terasa berbeda dan aneh. Pada dasarnya, hidup harus memiliki rasa yang bermacam-macam. Mulai dari rasa bahagia, rasa sedih, rasa takut, rasa kecewa, rasa khawatir, dan masih banyak lagi lainnya.

Dengan rasa sedih, kita akan belajar dari hal yang membuat kita sedih itu. Lalu ketika khawatir, kita akan berusaha lebih hati-hati dalam menjaganya agar tidak satu pun pikiran kita benar-benar terjadi. Semua perasaan ini memiliki keterkaitannya masing-masing, dan ketika kita berhasil menata perasaan melalui tulisan, maka kita berhasil menyadari perasaan apa yang kita alami saat itu.

Menulis adalah jalan pilihanku, berawal dari hanya menulis puisi, tapi setelahnya aku juga sering menceritakan hari beratku pada setiap kertas di binder. Di sini aku sadar bahwa terkadang tidak semua manusia mau mendengarkan ceritaku. Tidak semua cerita patut untuk diberitahukan. Kadang juga ada beberapa cerita yang hanya perlu disimpan dengan rapi.

Entahlah anugerah apa yang diberikan Pemilik Semesta padaku, sehingga aku bisa berkata-kata pada beberapa carik kertas di hadapanku. Mungkin dalam keadaan tetesan air mata atau haru bahagia, apa pun akan kutuliskan di sana. Mereka tentu tidak akan menjawab tulisanku, tapi mereka mendengarkanku lebih baik daripada manusia. Jika kita menceritakan kepada manusia, mungkin ada beberapa ekspektasi yang sudah kita bayangkan. Ketika respons yang kita bayangkan tidak terjadi, maka kita akan kecewa dan sebagainya.

Melayangkan semua emosiku pada tulisan puisi dan jurnalku adalah jalan terbaik untuk menata perasaan-perasaan yang bahkan kadang masih sulit kumengerti. Jurnal dan puisiku tidak berbicara mengenai solusi, tapi mereka mendengarkanku tanpa menghakimi, tanpa memarahi, dan tentu tanpa menyalahkanku.

Karena dunia terlalu singkat dan terlalu sibuk, maka aku mulai menciptakan duniaku sendiri melalui tulisan-tulisanku. Bukan tentang seberapa indahnya tulisanku, hanya saja aku berusaha menyadari setiap perasaan atau emosi yang sedang kurasakan hari itu.

Di saat aku jatuh, aku menulis semua perasaan itu dalam setiap lantunan huruf-huruf yang menurutku cukup untuk melampiaskan emosiku saat itu. Mereka diam, tapi hangat mendengarkan apa pun kata-kataku.

Mereka memelukku lewat kehangatan penuh dalam mendengarkannya. Membuatku kembali bangkit untuk segera menulis cerita di bagian lain yang tidak kalah menyenangkan untuk kubaca ulang lagi. Mereka semua hadir secara utuh dalam hidupku. Karena mereka, aku bangkit lagi dan lagi untuk terus melanjutkan cerita hidupku pada bagian yang belum kubuka.

Leave a Comment

Related Post