Telaah Kritis Akar Jihadisme Afrika di Tengah Krisis Geopolitik Global

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuTelaah Kritis Akar Jihadisme Afrika di Tengah Krisis Geopolitik Global
Judul Buku: Terrorism in Africa: New Trends and Frontiers, Editor: Glen Segell, Sergey Kostelyanets, dan Hussein Solomon, Penerbit: Institute for African Studies, Russian Academy of Sciences bekerja sama dengan University of Haifa, Kota Terbit: Moscow dan Haifa, Tahun Terbit: 2021, Tebal: 194 halaman, ISBN: 978-5-91298-268-2/ISBN-13: 979-8481522685, Peresensi: Zara Aprilia Saechan.

Harakatuna.com – Kematian Kopral Tebogo Edwin Radebe di Cabo Delgado, Mozambik, mungkin hanya satu nama di antara panjangnya daftar korban konflik Afrika kontemporer. Namun bagi Afrika bagian selatan, peristiwa itu menandai sesuatu yang lebih besar: jihadisme bersenjata tidak lagi menjadi ancaman jauh di kawasan Sahel atau Tanduk Afrika, melainkan telah bergerak semakin dalam ke wilayah selatan benua.

Di tengah ladang gas alam raksasa yang baru ditemukan, Cabo Delgado berubah menjadi arena benturan antara negara, kepentingan geopolitik, perusahaan energi, dan kelompok insurgensi Islamis yang terus berkembang. Ketika pasukan Southern African Development Community (SADC) dikirim ke wilayah tersebut, muncul kritik bahwa operasi itu dilakukan secara setengah hati, minim dukungan logistik, dan tanpa kesiapan strategis yang memadai.

Dalam konteks itulah buku Terrorism in Africa: New Trends and Frontiers hadir sebagai upaya membaca akar persoalan yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar perang melawan teror.

Buku yang merupakan kolaborasi antara Institute for African Studies Russian Academy of Sciences, University of the Free State Afrika Selatan, dan University of Haifa Israel ini mencoba memetakan wajah baru terorisme Afrika secara menyeluruh. Melalui dua belas kontributor, buku tersebut tidak terjebak pada penjelasan simplistis yang menganggap ekstremisme semata-mata lahir dari fanatisme agama.

Sebaliknya, jihadisme di Afrika dipahami sebagai gejala sosial-politik yang tumbuh dari kombinasi krisis tata kelola negara, ketimpangan ekonomi, korupsi, keterasingan sosial, lemahnya pelayanan publik, hingga eksploitasi sumber daya alam oleh elite lokal dan kekuatan global. Dalam pandangan para penulisnya, ideologi radikal memang penting, tetapi ia bukan akar tunggal. Terorisme tumbuh subur ketika negara gagal menghadirkan rasa keadilan dan masa depan bagi masyarakatnya.

Pandangan semacam itu menjadi penting karena selama ini Afrika kerap dipersepsikan secara reduktif dalam narasi keamanan global. Boko Haram di Nigeria, Al-Shabaab di Somalia, Islamic State in Greater Sahara di Sahel, maupun insurgensi Cabo Delgado di Mozambik sering dibaca semata sebagai bagian dari ekspansi jihadisme internasional. Padahal masing-masing konflik memiliki konteks lokal yang sangat kuat.

Boko Haram misalnya berkembang di kawasan miskin Nigeria utara yang selama puluhan tahun mengalami ketimpangan pembangunan dibanding wilayah selatan yang lebih maju. Demikian pula Al-Shabaab tumbuh di Somalia yang lama terjebak dalam keruntuhan negara dan perang saudara. Cabo Delgado sendiri memperlihatkan paradoks paling telanjang: wilayah kaya gas alam tetapi dihuni masyarakat yang tetap miskin dan terpinggirkan. Dalam ruang seperti itu, propaganda ekstremisme menemukan lahannya.

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah keberaniannya menempatkan persoalan terorisme Afrika dalam lanskap geopolitik global. Afrika digambarkan sebagai benua yang selama puluhan tahun diperlakukan hanya sebagai sumber bahan mentah dan pasar potensial bagi kekuatan besar dunia.

Perebutan minyak, gas, mineral langka, emas, dan jalur perdagangan telah menciptakan bentuk baru neo-kolonialisme yang memperkaya elite tertentu tetapi meninggalkan sebagian besar masyarakat dalam kemiskinan struktural. Negara-negara kuat datang membawa investasi dan kepentingan strategis, tetapi sering kali tidak sungguh-sungguh peduli terhadap pembangunan sosial masyarakat lokal.

Ketimpangan itulah yang kemudian melahirkan frustrasi kolektif dan membuka ruang bagi kelompok bersenjata untuk menawarkan identitas, solidaritas, bahkan penghidupan alternatif bagi generasi muda yang kehilangan harapan.

Namun buku ini juga tidak jatuh pada romantisme anti-Barat yang menyederhanakan seluruh persoalan Afrika sebagai akibat kolonialisme semata. Kritik diarahkan pula kepada elite politik Afrika sendiri yang dianggap gagal menerjemahkan semangat kemerdekaan menjadi tata kelola yang adil dan demokratis.

Banyak rezim pascakolonial berubah menjadi pemerintahan otoriter yang korup, represif, dan jauh dari rakyatnya. Pelayanan publik memburuk, angkatan bersenjata kekurangan dana, pengangguran anak muda meningkat, sementara ketimpangan sosial terus melebar. Dalam kondisi demikian, sebagian masyarakat, khususnya pemuda, mudah terseret ke dalam organisasi ekstremis yang menjanjikan rasa memiliki, solidaritas kelompok, tujuan hidup, bahkan pendapatan ekonomi meski dalam bentuk yang sangat terbatas.

Karena itu, Terrorism in Africa: New Trends and Frontiers pada akhirnya menunjukkan bahwa ancaman terbesar Afrika modern bukan hanya keberadaan kelompok teroris itu sendiri, melainkan kegagalan negara menghadirkan legitimasi sosial di mata rakyatnya. Buku ini menolak gagasan bahwa solusi militer semata dapat menyelesaikan persoalan ekstremisme.

Operasi keamanan mungkin mampu merebut kembali wilayah yang dikuasai insurgensi, tetapi tidak otomatis memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap negara. Ketika kemiskinan tetap berlangsung, korupsi terus mengakar, dan rakyat merasa diabaikan, maka ekstremisme akan terus menemukan ruang hidup baru. Dalam pengertian itu, jihadisme Afrika bukan sekadar persoalan agama atau keamanan, melainkan cermin dari krisis pembangunan dan krisis geopolitik global yang lebih dalam.

BACA JUGA  Radikalisasi di Rantau: Membaca Perjalanan Ideologis Anak Muda

Salah satu tesis terpenting yang muncul dari Terrorism in Africa: New Trends and Frontiers adalah kenyataan bahwa perang melawan terorisme tidak pernah benar-benar bisa dimenangkan hanya dengan operasi militer. Negara mungkin mampu merebut kembali desa, kota, atau ladang gas yang dikuasai kelompok insurgensi, tetapi kekuatan senjata tidak pernah cukup untuk merebut kembali legitimasi sosial yang telah hilang.

Di banyak negara Afrika, militer hadir sebagai simbol kekuasaan negara, tetapi negara itu sendiri gagal hadir sebagai pelindung kehidupan rakyat. Ketika aparat datang tanpa keadilan, tanpa kesejahteraan, dan tanpa perubahan nyata, maka operasi keamanan hanya menciptakan siklus kekerasan baru yang terus berulang.

Dalam situasi seperti itu, kelompok ekstremis justru memperoleh ruang untuk membangun pengaruhnya. Mereka tidak hanya menawarkan ideologi agama, tetapi juga identitas sosial bagi kelompok-kelompok yang merasa tercerabut dari negara. Banyak anak muda di kawasan konflik Afrika hidup dalam kondisi tanpa pekerjaan, tanpa pendidikan memadai, dan tanpa prospek ekonomi yang jelas.

Negara tampak jauh, korup, dan hanya hadir melalui aparat keamanan. Kelompok bersenjata kemudian datang membawa narasi persaudaraan, kehormatan, solidaritas, bahkan janji penghidupan. Ironisnya, bagi sebagian orang yang hidup dalam keterasingan sosial, organisasi ekstremis mampu memberikan sesuatu yang gagal diberikan negara: rasa dianggap penting.

Di titik inilah jihadisme modern sesungguhnya bekerja. Ia tumbuh bukan hanya dari doktrin agama, tetapi dari kemarahan sosial yang menemukan saluran ideologis. Buku ini memperlihatkan bahwa ekstremisme di Afrika tidak lahir dari ruang kosong. Ia berkembang di tengah luka panjang pascakolonial, ketimpangan ekonomi global, dan kegagalan elite politik lokal membangun negara yang berpihak pada rakyatnya.

Karena itu, membahas terorisme semata sebagai persoalan keamanan sering kali justru menyederhanakan masalah. Banyak negara terlalu fokus pada penghancuran kelompok bersenjata, tetapi mengabaikan kondisi yang membuat kelompok-kelompok itu terus beregenerasi.

Yang juga menarik adalah bagaimana buku ini secara implisit menunjukkan bahwa konflik terorisme modern telah menjadi bagian dari ekonomi-politik global. Wilayah-wilayah yang dilanda insurgensi kerap merupakan kawasan kaya sumber daya alam: minyak, gas, emas, uranium, atau jalur perdagangan strategis. Cabo Delgado di Mozambik adalah contoh nyata bagaimana penemuan gas alam bernilai miliaran dolar berjalan beriringan dengan meningkatnya kekerasan bersenjata.

Di banyak kasus, konflik bahkan menciptakan ruang keuntungan bagi berbagai aktor: perusahaan keamanan swasta, perdagangan senjata, elite politik, hingga kepentingan geopolitik negara-negara besar. Terorisme akhirnya bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga bagian dari perebutan ekonomi global yang brutal.

Selain itu, buku ini terasa semakin relevan ketika dikaitkan dengan perkembangan teknologi informasi dan media sosial. Dunia digital telah mengubah wajah rekrutmen ekstremisme secara radikal. Jika pada masa lalu kelompok radikal membutuhkan ruang fisik dan jaringan tertutup, kini propaganda dapat menyebar lintas negara hanya melalui video pendek, platform media sosial, atau forum daring.

Narasi ketidakadilan, penderitaan umat, dan heroisme perjuangan dikemas secara emosional untuk menjangkau generasi muda yang sedang mengalami kegelisahan identitas. Afrika hanyalah salah satu contoh bagaimana ruang digital dapat mempercepat penyebaran ideologi kekerasan di tengah masyarakat yang rapuh secara sosial-ekonomi.

Dalam konteks itu, pelajaran dari Afrika sebenarnya sangat relevan bagi banyak negara berkembang lain, termasuk Indonesia. Memang kondisi Indonesia tidak identik dengan kawasan Sahel atau Mozambik, tetapi beberapa gejala dasarnya memiliki kemiripan: ketimpangan sosial, polarisasi identitas, alienasi anak muda, ketidakpercayaan terhadap elite politik, serta masifnya propaganda digital berbasis agama dan kemarahan sosial.

Ekstremisme tidak selalu tumbuh di ruang kemiskinan absolut, melainkan sering berkembang di ruang frustrasi sosial dan krisis makna hidup. Ketika negara gagal membangun rasa keadilan dan kedekatan emosional dengan masyarakat, maka berbagai bentuk radikalisme akan lebih mudah memperoleh simpati.

Buku Terrorism in Africa: New Trends and Frontiers adalah literatur tentang kegagalan dunia modern memahami akar kekerasan yang sedang tumbuh di banyak tempat. Buku ini mengingatkan bahwa terorisme bukanlah fenomena yang berdiri sendiri, melainkan gejala dari krisis yang lebih besar: negara yang kehilangan legitimasi, pembangunan yang tidak adil, ketimpangan global, dan generasi muda yang merasa tidak memiliki masa depan.

Afrika mungkin hanya memperlihatkan wajah paling telanjang dari krisis tersebut. Namun jika dunia terus mengabaikan akar persoalannya, maka ekstremisme akan terus menemukan rumah baru di mana pun ketidakadilan dan keterasingan sosial dibiarkan tumbuh.

Zara Aprilia Saechan
Zara Aprilia Saechan
Mahasiswi Magister Administrasi Publik Universitas Diponegoro Semarang

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru