Harakatuna.com. New Delhi — Kelompok teroris yang beroperasi di India disebut menerapkan strategi ganda dalam merekrut anggota baru, yakni melalui penyebaran paham radikal dan pemberian imbalan finansial. Pola tersebut dinilai menyasar kalangan muda yang dianggap rentan terhadap pengaruh ideologi ekstrem maupun bujukan ekonomi.
Berdasarkan keterangan sejumlah pejabat keamanan India, terdapat perbedaan pola operasi antara wilayah utara dan selatan negara tersebut. Di India bagian utara, jaringan yang diduga mendapat dukungan dari badan intelijen Pakistan, Inter-Services Intelligence (ISI), lebih banyak berfokus pada pelaksanaan aksi teror. Sementara itu, negara-negara bagian di India selatan dinilai lebih banyak menjadi lokasi penyebaran paham radikal dan perekrutan anggota.
Hasil penyelidikan terbaru oleh Maharashtra Anti-Terrorism Squad (ATS) dan Special Cell Kepolisian Delhi menunjukkan bahwa sejumlah anggota jaringan teror direkrut melalui janji imbalan uang. Aparat keamanan menyebut jaringan dunia bawah (underworld) diduga dimanfaatkan untuk mengelola proses perekrutan tersebut. Menurut penyidik, rekrutmen pada jaringan tersebut tidak didasarkan pada latar belakang agama, melainkan lebih banyak memanfaatkan motif ekonomi.
Seorang pejabat dari Intelligence Bureau mengatakan bahwa fokus kelompok ekstrem di India selatan lebih diarahkan pada proses radikalisasi dibandingkan pelaksanaan serangan. “Kaum muda dinilai lebih mudah dipengaruhi untuk mengubah cara pandang masyarakat dibandingkan dilibatkan langsung dalam aksi kekerasan. Fokus mereka lebih kepada penyebaran ideologi dan upaya membangun penerimaan terhadap penerapan syariat serta paham Islam yang bersifat ekstrem,” ujarnya.
Menurut aparat keamanan, jaringan yang diduga didukung ISI juga memanfaatkan hubungan erat sejumlah negara bagian di India selatan dengan kawasan Teluk. Selama bertahun-tahun, sejumlah penceramah berhaluan Wahabi disebut datang ke negara bagian seperti Kerala dan Tamil Nadu dan diduga berupaya menyebarkan paham radikal.
Saat ini, berbagai lembaga keamanan India tengah menyelidiki kasus radikalisasi yang melibatkan belasan orang di Vijayawada, Andhra Pradesh. Menariknya, para individu tersebut disebut tidak memiliki hubungan langsung dengan organisasi teroris tertentu. Penyelidikan mengungkap bahwa dalam sesi radikalisasi secara daring, mereka menyebarkan ideologi yang dikaitkan dengan kelompok ISIS maupun Al-Qaeda.
National Investigation Agency (NIA) menyebut kelompok tersebut memang dibentuk khusus untuk melakukan radikalisasi. Sebanyak 13 orang yang menjadi tersangka diduga direkrut melalui media sosial sebelum kemudian ditugaskan merekrut orang lain melalui saluran komunikasi daring yang terenkripsi, dengan sasaran utama wilayah India selatan.
Di sisi lain, aparat keamanan di India utara terus mengungkap jaringan teror yang memiliki keterkaitan dengan kelompok kriminal bawah tanah. Hasil penyelidikan menunjukkan hampir seluruh anggota jaringan tersebut direkrut menggunakan iming-iming uang. Seorang pejabat keamanan mengatakan bahwa jaringan tersebut tidak mengandalkan proses indoktrinasi ideologi, tetapi menjadikan faktor ekonomi sebagai alat utama perekrutan.
Modus operandi itu terungkap setelah penangkapan Hufaiza Farooq Ahmed Hashmi di Bhayandar, dekat Mumbai, dalam operasi gabungan Maharashtra ATS dan Special Cell Kepolisian Delhi.
Hashmi diduga bertugas membentuk kelompok pemuda yang akan dikirim ke Delhi untuk melakukan pembunuhan terhadap target tertentu. Para pemuda yang direkrut mengaku hanya akan diberi identitas dan lokasi target setelah tiba di ibu kota. Penyelidikan juga menemukan bahwa Hashmi menyasar anak-anak muda yang memiliki ketergantungan terhadap narkoba. Mereka kemudian ditawari sejumlah uang agar bersedia bergabung dengan jaringan tersebut.
Menurut aparat, pola tersebut menunjukkan bagaimana kelompok teror memanfaatkan kerentanan ekonomi maupun kondisi sosial generasi muda sebagai pintu masuk untuk melakukan perekrutan anggota baru.

















Leave a Comment