Dualisme Paham Keagamaan; antara Teosentris dan Antroposentris


0
6 shares

Dalam konteks politik, faktor utama munculnya berbagai gerakan radikalisme agama yang terjadi di dunia Islam, khususnya di Timur Tengah, adalah kegagalan para ulama dan pemimpin politik dalam menghadirkan suatu sistem pemerintahan yang tepat sebagai ganti dari sistem kekhilafahan yang dahulu pernah jaya dan menuai masa gemilang. Karenanya, sebagian umat Islam, katakanlah kelompok fundamentalis, memandang perlu menghadirkan sebuah model negara sendiri berbasis Islam.

Bassam Tibi, seorang pakar kajian Islam politik memandang bahwa kelompok fundamentalis Muslim pada dasarnya ingin membangun sebuah negara Islam yang totaliter, jadi bukan semacam negara demokrasi yang selama ini berkembang, atau kolaborasi antarkeduanya. Kekuasaan yang totalitarian itu akan mengambarkan sebuah pemerintahan Ilahi (negara Tuhan) sebagaimana banyak digagas oleh fundamentalis militan seperti Maududi dan Sayyid Qutb.

Cara berpikir mereka pun sangat khas bersifat dikotomis, yakni hitam-putih, benar-salah, dan baik-buruk. Artinya suatu pemerintahan Tuhan pastilah memungkinkan adanya masyarakat yang Islami, yang merupakan lawan dari masyarakat jahiliah (bodoh). Bagi kelompok yang berharap membangun negara Islam, mereka membagi masyarakat ke dalam dua golongan, yakni Muslim dan kafir, tidak heran misalnya jika mereka menolak seluruh landangan pemikiran modern, khususnya di bidang politik.

Di Indonesia sendiri, berbagai praktis kekerasan seperti bom bunuh diri dengan dalih agama, bukanlah khas gaya beragama orang Indonesia, ia sebetulnya bawaan dari Timur Tengah. Ia bukanlah gejala khas dunia Islam, apalagi Indonesia. Syafi’i Ma’arif sendiri menegaskan bahwa berdasarkan pengalaman sejarah, susunan kimiawi budaya Indonesia ternyata menolak berbagai bentuk ekstremisme.

Tetapi harus disadari bahwa ideologi ekstrem akan tetap muncul secara sporadis dan temporal, baik karena ia merupakan gejala khas yang mengiri modernitas, atau belum terpenuhinya keadilan sosial berbasis Pancasila. Memang, modernitas tidaklah sempurna, di dalamnya banyak ditemukan kecacatan,  tetapi harus diakui bahwa modernitas dengan seluruh ideologi di dalamnya, masih yang terbaik dan paling relevan di antara semuanya.

Baca Juga:  Nabi Yusuf, Kemuliaan, dan Dakwah yang Ramah

Begitu juga Pancasila, ia tak benar-benar seideal sebagaimana dipahami oleh Yudi Latif sebagai “the theory of everything”. Idealisme Pancasila tergantung siapa yang menerapkannya, dalam pengertian bahwa selama para pengakut Pancasila belum benar-benar bersikap secara Pancasilais, maka kemajuan pun terasa sulit dicapai. Jika hati nurani para elite bangsa sering tidak berfungsi, maka jangan heran bila menuai kegagalan dikemudian hari. Dan, tentu saja akan menjadikan ideologi ekstrem semakin tumbuh sumbur.

Kita pun dapat menyaksikan betapa gerakan-gerakan radikal mengalami perkembangan dan banyak warga Indonesia yang menerimanya. Jika ini ditarik pada logika di atas, maka jelas Pancasila belum benar-benar dijalankan secara maksimal, atau belum mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat yang lebih maju.

Namun demikian, kita harus tetap menyadari bahwa paham agamaisasi kekerasan dan menjadikan agama sebagai basis politik, telah sebegitu membahayakan bagi stabilitas keagamanan nasional, menganggu kerukunan hidup antarumat beragama, dan memperburuk citra Islam yang sebetulnya lebih mengedepankan cinta damai.

Menangkal paham radikalisme tidaklah boleh dilakukan dengan cara-cara yang keras, apalagi menggunakan militer, langkah semacam ini sama saja dengan mengajak mereka untuk berperang. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana sedapat mungkin menghadirkan ekspresi Islam yang rahmatan lil alamin, dan selalu mensosialisasikannya secara terus menerus.

Kekerasan atas nama agama yang seringkali menghantui keamanan masyarakat dan negara haruslah dihindari. Sebab, nalar kekerasan ini menjadi cikal bakal tindakan kekerasan perilaku seseorang. Tidaklah mungkin memaksakan kehendak dan mencari benarnya sendiri dalam kehidupan yang majemuk.  Jika faktornya adalah ketidakadilan sosoal dan kemiskinan, maka wilayah ini harus mulai diperbaiki.

Paham keagamaan berbasis teologi perdamaian juga harus lebih diupayakan secara maksimal. Sebab agama pada hakikatnya adalah memberi kedamaian bagi penganutnya. Jika para penganut agama tidak merasa damai dengan apa yang ia anut, maka keyakinannya perlu dipertanyakan. Yakni apakah ia sudah beragama secara benar atau hanya terprovokasi oleh keadaan-keadaan, apalagi kepentingan.

Baca Juga:  Islam Sontoloyo yang Masih Relevan

Perdamaian pada dasarnya adalah bagian dari implementasi iman yang mestinya harus terus diperjuangkan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kedamaian, sulit bagi siapa saja untuk menjalankan perintah agamanya, sebab ia akan dirundung rasa tidak aman dan situasi konflik yang memprihatinkan. Perdamaian, dengan demikian, harus diwujudkan dari keyakinan ke pratik kehidupan.

Buku ini memberi gambarakan penting bahwa betapa Islam, sebagai agama, tidak pernah bersifat monolitik. Karenanya, selalu ada konstelasi di kalangan internal penganutnya tentang tafsir kebenaran yang dianggap paling autentik. Penulisnya, Aksin Wijaya, mencoba menyodorkan fakta penafsiran agama yang bernuansa kekerasan versus penafsiran agama yang bernuansa perdamaian.

Model penafsiran agama yang bernuansa kekerasan direpresentasikan oleh figur-figur kelompok Salafi-Wahabi dan Islamis (al-Maududi dan Sayyid Qutb). Selain mengedepankan absolutisme dan kekerasan, karakteristik dasar dari corak beragama model ini adalah bersifat teosentris, yang berorientasi pada melayani Tuhan secara mutlak.

Di lain pihak, ada figur-figur muslim yang menyerukan model keberagamaan dengan jalan damai dan mengedepankan antroposentris. Yakni model kberagamaan yang bertumpu pada nilai-nilai kasih sayang, perdamaian dan visi rahmatan lil alamin. Model keberagamaan kelompok kedua ini diwakili oleh tokoh-tokoh pembaharu seperti Muhammad Sa’id Al-Asymawi, Abu Al-Qasim Haj Hammad, dan Muhammad Syahrur. Paling tidak, tokoh-tokoh ini merasa gerah dengan sepak terjang kelompok Islamis yang berusaha menunggalkan paham agama yang absolut.

Dalam perspektif penulis buku ini, harus ada upaya pengarus-utamaan tafsir keagamaan yang antroposentris agar nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan universal dapat ditegakkan. Ketika model penafsiran kegamaan yang mengedepankan perdamaian ini ditegakkan dan diaktualisasikan ke dalam realitas empiris umat Islam, maka peradaban yang lahir dari rahim Islam tidak diwarnai oleh berbagai bentuk konflik dan kekerasan.

Baca Juga:  Menyoal Ideologi Khilafah

Tafsir antroposentris akan melahirkan wajah Islam yang menjujung tinggi nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan universal karena lebih menempatkan manusia sebagai subjek, bukan objek. Inilah kiranya yang menjadi kontribusi penting buku ini daam menciptakan model keberagamaan baru yang relevan dengan kebutuhan zaman yang bergerak semakin maju dan beradab.

Judul               : Dari Membela Tuhan ke Membela Manusia; Kritik atas Nalar Agamaisasi Kekerasan

Pengarang       : Aksin Wijaya

Penerbit           : Mizan

Halaman          : xxix + 262

Terbit               : Juni 2018

ISBN               : 970-602-441-067-4

Rohmatul Izad. Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Filsafat UGM Yogyakarta.


Like it? Share with your friends!

0
6 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.