Harakatuna.com – Kisah Nabi Ibrahim a.s. merupakan salah satu cerita yang sangat akrab di tengah umat Islam. Hampir setiap Idul Adha tiba, kisah pengorbanan dan keteguhan beliau kembali diperdengarkan dari mimbar-mimbar masjid. Namun di balik kisah yang sering kita dengar itu, tersimpan pelajaran besar tentang hakikat tawakal yang layak direnungkan sepanjang zaman.
Nabi Ibrahim a.s. adalah sosok yang menjalani setiap perintah Allah Swt. dengan keberanian hati yang luar biasa. Dalam setiap fase kehidupannya, beliau menunjukkan bahwa keimanan bukan sekadar keyakinan di dalam dada, melainkan kesiapan untuk bersandar sepenuhnya kepada Allah ketika logika manusia tidak lagi mampu menemukan jawabannya.
Penantian panjang akan hadirnya seorang anak tidak pernah menggoyahkan keyakinan beliau kepada Allah Swt. Justru sebaliknya, ujian itu semakin mendekatkannya kepada Sang Pencipta. Harapan beliau tidak pernah padam meski usia terus bertambah dan keadaan tampak tidak berpihak. Kesabaran dan tawakal Sang Khalilullah menjadi teladan yang melampaui batas kemampuan manusia pada umumnya.
Tidak mengherankan apabila Al-Qur’an berulang kali mengangkat sosok Nabi Ibrahim a.s. sebagai figur teladan. Salah satunya dalam firman Allah Swt.:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ
“Sungguh, benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu pada (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)
Menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim a.s. merupakan figur yang patut dijadikan panutan dalam menjalani kehidupan. Senada dengan itu, Imam Al-Baghawi dalam Tafsir Al-Baghawi menjelaskan:
أَيْ لَكُمْ بِهِمْ اقْتِدَاءٌ فِي الصَّبْرِ عَلَى الدِّينِ وَالثَّبَاتِ عَلَى الْإِيمَانِ
“Yakni kalian memiliki teladan pada mereka dalam kesabaran menjaga agama dan keteguhan dalam iman.”
Keteguhan tersebut tampak jelas ketika berbagai ujian datang silih berganti. Semakin berat cobaan yang dihadapi, semakin dalam pula munajat Nabi Ibrahim a.s. kepada Allah Swt. Al-Qur’an mengabadikan doa beliau:
رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100)
Doa ini menunjukkan bahwa ujian tidak menjadikan beliau putus asa. Sebaliknya, ujian melahirkan sikap tunduk, rendah hati, dan merasa sangat membutuhkan pertolongan Allah Swt. Inilah salah satu hikmah besar dari musibah yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin:
فَإِنَّ الْبَلَاءَ يُورِثُ التَّضَرُّعَ وَالِافْتِقَارَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، وَيَكْسِرُ سَوْرَةَ الْكِبْرِ وَالْغَفْلَةِ
“Sesungguhnya ujian akan melahirkan sikap merendah, merasa sangat membutuhkan Allah Ta‘ala, serta menghancurkan kesombongan dan kelalaian.”
Ketika Cinta dan Ketaatan Bertemu dalam Ujian
Setiap manusia tentu mendambakan keturunan. Terlebih bagi seseorang yang membawa misi besar dalam hidupnya. Demikian pula Nabi Ibrahim a.s. Beliau berharap memiliki anak yang kelak dapat melanjutkan perjuangan dakwah dan ketauhidan.
Namun harapan itu tidak segera terwujud. Puluhan tahun pernikahannya dengan Sayyidah Sarah belum dikaruniai seorang putra. Dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah dikisahkan bahwa pada akhirnya Sayyidah Sarah sendiri yang menawarkan kepada suaminya untuk menikahi Sayyidah Hajar, seorang wanita salehah.
Tentu keputusan tersebut bukan perkara mudah. Namun setelah melalui musyawarah dan pertimbangan yang matang, Nabi Ibrahim a.s. menerima saran tersebut. Tidak lama kemudian, Allah Swt. menganugerahkan seorang putra melalui rahim Sayyidah Hajar, yaitu Nabi Ismail a.s.
Kebahagiaan pun menyelimuti keluarga kecil itu. Harapan yang selama puluhan tahun dipendam akhirnya menjadi kenyataan. Akan tetapi, di tengah kebahagiaan tersebut datang ujian yang jauh lebih berat.
Allah Swt. memerintahkan Nabi Ibrahim a.s. membawa Sayyidah Hajar dan Ismail yang masih bayi menuju sebuah lembah tandus yang tidak berpenghuni. Tempat yang saat ini kita kenal sebagai Makkah.
Dengan penuh keimanan, beliau melaksanakan perintah itu. Berhari-hari perjalanan ditempuh melintasi padang pasir yang gersang. Panas matahari membakar tubuh di siang hari, sementara dingin malam menusuk hingga ke tulang.
Sesampainya di tempat tujuan, Nabi Ibrahim a.s. meninggalkan istri dan putranya yang masih kecil. Tidak ada sumber air, tidak ada penduduk, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Secara logika manusia, keputusan itu tampak mustahil dan sulit dipahami.
Namun di sinilah letak keagungan tawakal. Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan:
فَقَالَتْ هَاجَرُ: آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَتْ: إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا.
“Hajar berkata: ‘Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?’ Ibrahim menjawab: ‘Ya.’ Hajar berkata: ‘Kalau begitu Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.'”
Kalimat singkat dari Sayyidah Hajar tersebut menjadi gambaran indah tentang keluarga yang dibangun di atas fondasi iman dan tawakal. Tidak ada protes, tidak ada keluhan. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya.
Nabi Ibrahim a.s. membuktikan bahwa keimanan bukan sekadar ucapan, melainkan keberanian untuk melaksanakan perintah Allah meskipun tidak selalu dapat dijelaskan oleh logika. Tidak mengherankan apabila nama beliau diabadikan dalam bacaan shalawat yang kita lantunkan setiap hari dalam tasyahud.
Ketika Logika Berhenti, Tawakal Mengambil Peran
Kisah Nabi Ibrahim a.s. sesungguhnya bukan hanya cerita masa lalu. Ia adalah cermin bagi kehidupan kita hari ini. Sering kali manusia baru mau melangkah ketika semua perhitungan terlihat aman dan masuk akal. Padahal ada saat-saat tertentu dalam hidup ketika seluruh ikhtiar telah dilakukan, tetapi jawaban tetap belum tampak.
Pada titik itulah tawakal menemukan maknanya. Allah Swt. berfirman:
وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ
“Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS. At-Thalaq: 3)
Janji ini telah dibuktikan oleh Nabi Ibrahim a.s. sepanjang perjalanan hidupnya. Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba yang menggantungkan harapannya kepada-Nya. Tentu tawakal bukan berarti meninggalkan usaha dan berpangku tangan. Tawakal adalah mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah Swt. Sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali:
التَّوَكُّلُ عِبَارَةٌ عَنِ اعْتِمَادِ الْقَلْبِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
“Tawakal adalah penyandaran hati sepenuhnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
Karena itu, hakikat tawakal terletak pada hati, bukan pada berhentinya usaha. Seseorang tetap bekerja, berikhtiar, dan berjuang sekuat tenaga, tetapi hatinya tidak bergantung pada usaha tersebut. Hatinya tetap terpaut kepada Allah Swt.
Inilah pelajaran besar yang diwariskan Nabi Ibrahim a.s. kepada umat manusia: ketika jalan terlihat buntu, ketika perhitungan dunia tidak lagi mampu memberikan jawaban, dan ketika logika manusia mencapai batasnya, maka saat itulah tawakal sejati dimulai.
Oleh: Muhammad Rosyidi (Pengajar Pondok Pesantren Assholihiyah Santong, Terara, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat).
















Leave a Comment