Berikut Ini Tiga Tips Merawat Solidaritas Umat dalam Al-Qur’an

Harakatuna

12/05/2026

3
Min Read

Harakatuna.com – Dinamika makna mengenai konsep persaudaraan terus berkembang seiring proses sejarah dan konstruksi sosial, mulai dari era feodal hingga masa kontemporer. Persaudaraan lahir dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Nilai tersebut dibangun dari lingkungan masyarakat terkecil dengan dilandasi kasih sayang, perlindungan, serta internalisasi nilai-nilai kemanusiaan.

Urgensi pembahasan mengenai tips merawat solidaritas umat berangkat dari pemahaman bahwa persaudaraan merupakan proyeksi kesetaraan identitas manusia. Solidaritas umat dimaknai sebagai sikap dalam menjalin hubungan antarmanusia tanpa membedakan suku, ras, bangsa, profesi, maupun latar budaya. Dengan demikian, merawat solidaritas umat menjadi penting guna menghindari sikap eksklusivitas sosial.

1. Memelihara Ideologi Altruisme

QS. Al-‘Ankabut [29]: 35 menjelaskan pesan Allah Swt. tentang bekas kehancuran kaum Nabi Luth As. sebagai pelajaran bagi manusia yang mau berpikir dan mengambil hikmah. Keterkaitan ayat tersebut dengan QS. As-Saffat [37]: 137–138 menunjukkan pentingnya proses berpikir melalui pengamatan terhadap berbagai persoalan kehidupan.

Dalam konteks ini, memelihara ideologi altruisme berarti membangun kemampuan manusia untuk adaptif terhadap perubahan sosial. Aktivitas ‘aql menempati posisi sentral dalam melahirkan keyakinan kolektif yang mendorong kepedulian sosial. Ideologi altruisme dapat tumbuh melalui observasi serta kemampuan menarik kesimpulan dari realitas kehidupan secara dialektis.

Karena itu, merawat solidaritas umat melalui ideologi altruisme harus diwujudkan dengan menghubungkan proses berpikir terhadap kesejahteraan sosial. Aktivitas ‘aql menjadi tolok ukur perubahan sosial yang berorientasi pada kebermanfaatan hidup bersama.

2. Kesadaran Melakukan Aktualisasi Diri

QS. Al-Hasyr [59]: 18 membahas larangan Allah Swt. agar manusia tidak menjadi seperti kaum yang meninggalkan perintah-Nya. Ayat tersebut berkaitan dengan peringatan terhadap perilaku fasik, yakni keluar dari jalan ketaatan kepada Allah Swt.

Makna ayat ini menunjukkan bahwa aktualisasi diri merupakan bagian dari upaya manusia untuk menempuh jalan kebaikan dan menaati perintah Allah Swt. Dalam konteks sosial, manusia dipahami sebagai makhluk sosial-politik yang memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki lingkungan sekitarnya.

Solidaritas umat akan tumbuh ketika manusia memiliki kesadaran untuk terlibat dalam memperbaiki berbagai kerusakan sosial. Sikap tersebut memiliki konsekuensi moral yang berkaitan dengan kualitas amal dan pahala.

Oleh sebab itu, merawat solidaritas umat melalui aktualisasi diri mencakup dua hal. Pertama, manusia harus mampu mengembangkan potensi dirinya. Kedua, manusia harus mampu mengekspresikan kebaikan yang dimilikinya untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Kedua hal tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun solidaritas umat.

3. Komitmen terhadap Sikap Inklusif

QS. Al-Hujurat [49]: 13 menjelaskan tentang persamaan manusia, pentingnya saling mengenal antarsesama, serta kemuliaan yang diukur berdasarkan ketakwaan dan amal saleh. Ayat ini menegaskan bahwa kebanggaan terhadap nasab, etnis, maupun ras bertentangan dengan prinsip kesatuan dan kesetaraan hakikat manusia.

Keterkaitan ayat tersebut dengan sikap inklusif menunjukkan pentingnya menciptakan lingkungan sosial yang dinamis tanpa diskriminasi. Solidaritas umat dapat tumbuh melalui kecenderungan manusia untuk bersikap toleran dan saling menghargai.

Dengan demikian, merawat solidaritas umat melalui sikap inklusif menempatkan manusia sebagai makhluk sosial yang bebas berekspresi dalam keberagaman budaya. Kebebasan tersebut tidak boleh terikat pada sistem yang mengekang dan membatasi perkembangan manusia akibat fanatisme ideologi tertentu.

Karena itu, solidaritas umat dapat dirawat melalui keterbukaan masyarakat dalam menerima dan menghargai perbedaan.

Tulisan ini perlu mengetengahkan tiga langkah penting dalam merawat solidaritas umat, yaitu memelihara ideologi altruisme, membangun kesadaran aktualisasi diri, dan memperkuat komitmen terhadap sikap inklusif. Ketiga langkah tersebut mengarah pada upaya merefleksikan konsep persaudaraan sebagai bentuk kesatuan antarmanusia.

Untuk menghindari eksklusivitas sosial, solidaritas umat harus terus dirawat melalui kepedulian, keterbukaan, dan penghormatan terhadap keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat.

Oleh: Muhammad Zulfikar Nur Falah.

Leave a Comment

Related Post