31.7 C
Jakarta

Bangsa Indonesia Perlu Belajar dari Iran

Artikel Trending

KhazanahTelaahBangsa Indonesia Perlu Belajar dari Iran
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Protes pasca kematian Mahsa Amini di Iran, terus berlanjut. Di Twitter, berbagai video pendek masyarakat Iran yang sedang berdemo, terus tersebar. Video atas sikap yang ditampilkan oleh pemerintah Iran terlihat sangat kejam. Peristiwa ini ditambah dengan kabar bahwa, ada banyak orang yang bergabung dalam protes tersebut, mulai dari anak sekolah, mahasiswa, perempuan, hingga kelompok masyarakat lainnya.

Terlihat dalam beberapa video, beberapa perempuan diinjak oleh polisi, dipukul hingga berdarah, dan beberapa anak yang merasakan kekejaman serupa. Kalau kitaa lihat dari protes tersebut, semestinya, anak-anak adalah kelompok yang harus dilindungi agar tidak merasakan kekerasan dan kekejaman aparat. Namun, kondisi tersebut tidak terkontrol. Di Iran, konflik semakin memanas, pertumpahan darah terus terjadi.

Pada hari sekasa (04/10), tersebar sebuah video pendek yang berisi aksi demonstrasi di Universitas Masyhad Ferdowsi, universitas terbesar kedua di Iran. Dalam aksi tersebut, para mahasiswa menyerukan pembebasan sesama rekan-rekan mahasiswa yang ditangkap.

Para mahasiswa yang ditangkap tersebut adalah mahasiswa dari Universitas Teknologi Sharif, setelah melakukan aksi protes damai di kampusnya. Akibat dari protes ini, Organisasi Hak Asasi Manusia Iran, mengungkapkan bahwa, ada 108 tewas dalam protes Iran yang sudah berlangsung lebih dari tiga minggu setelah kematian Mahsa Amini.

Kewajiban jilbab yang diterapkan oleh pemerintah Iran, bermula pada tahun 1979, ketika terjadi revolusi Iran. Pemimpin revolusi saat itu, Ayatollah Ruhollah Khomeini, didaulat menjadi pemimpin tertinggi di Iran. Pada 7 Maret 1979. Khomeini mengeluarkan peraturan untuk menertibkan cara berpakaian muslimah. Tepat setelah revolusi, terjadi fenonena para laki-laki dan perempuan di jalan yang membagikan kerudung gratis yang dibungkus kertas kado kepada para perempuan yang tidak berjilbab.

Melihat konflik yang semakin besar pasca kematian Mahsa Amini, perempuan yang ditangkap oleh polisi moral di Iran lantaran mengenakan jilbab tidak sempurna, adalah konflik yang cukup kompleks dan berkepanjangan. Dengan melihat protes besar-besaran yang dilakukan pasca kematian mahsa, Masyarakat Iran memiliki kejenuhan atas aturan yang sangat kaku. Protes atas aturan tersebut bukan pertama kali dilakukan. Sebab sebelumnya, protes pernah terjadi pada tahun 1998 dan 2009. Melihat peristiwa ini, apa yang perlu disikapi oleh bangsa Indonesia sebagai negara penduduk mayoritas muslim?

BACA JUGA  Keluarga: Pusat Gerakan Sosial dalam Disengagement Pelaku Teror

Bangsa Indonesia

Kita semua bangsa Indonesia, perlu belajar banyak pada tragedi yang menimpa di Iran. Protes besar-besaran yang menyebabkan pertumpahan darah kepada ratusan orang, patut untuk kita tanyakan, bagaimana urgensitas penerapan agama Islam dalam aturan negara. Menghadapi bangsa yang berasal dari berbagai latar belakang agama, pastinya aturan yang harus ditetapkan bisa mashlahah kepada semua kelompok, tidak hanya bagi 1 golongan saja.

Dalam konteks berbangsa dan berngara di Indonesia, tragedi yang terjadi di Iran adalah sebuah cerminan apabila kita memaksakan cara beragama dengan otoriter. Agama justru tampil sebagai aturan yang memaksa setiap orang melaksanakan semua perintahnya, sekalipun hal itu kepada orang non-muslim. Dampak yang timbul ketika hal itu diterapkan adalah, protes terjadi dimana-mana, pertumpahan darah semakin tidak terbendung, dll. Kasus ini pula menjadi peringatan keras kepada kita bahwa, wajib hukumnya untuk menutup ruang bagi kelompok khilafah yang terus mengkampanyekan khilafah. Bukankah kita tidak mau kondisi negara kita akan seperti Iran?

Semestinya, kita perlu bersyukur menjadi bangsa Indonesia yang memiliki konsesus khusus persoalan bangsa dan negara, untuk tidak menerapkan agama Islam secara otoriter. Perempuan muslim atau non-muslim, memiliki kebebasan untuk berpakaian sesuai pilihannya. Kalau kita tidak ingin menjadi negara seperti Iran, nasionalisme kita harus perkuat dengan tidak memberikan ruang kepada perusak negara yang selalu mengkampanyekan pendirian negara Islam. Sebab negara Indonesia, adalah negara yang memiliki mayoritas penduduk muslim, bukan negara yang memeluk aturan Islam. Semestinya kita harus bijak, untuk tidak menjadikan negara Indonesia (mayoritas muslim), sebagai negara melahirkan konflik, terutama tentang ajaran Islam. Belajar dari Iran merupakan refleksi pada bangsa Indonesia bahwa, penerapan negara Islam tidak selalu menjadi solusi bagi sebuah bangsa yang plural, justru menjadi ancaman bahkan faktor yang merusak keutuhan bangsa dan negara itu sendiri. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru