31.4 C
Jakarta
Array

Asmaul Husna (1): Al-Razzaq Sang Maha Pemberi Rezeki

Artikel Trending

Asmaul Husna (1): Al-Razzaq Sang Maha Pemberi Rezeki
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Asmaul Husna (1): Al-Razzaq Sang Maha Pemberi Rezeki

Kata al-Razzâq terambil dari akar kata razaqa yarzuqu razqa[n] fa huwa râziq[un], yang bermakna pemberi rezeki. Kata ini (al-Razzâq) merupakan isim fâʻil mubâlaghah yang mengikuti wazn faʻâl[un] dan memiliki arti banyak atau sangat. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam Ibnu Malik dalam kitab Alfiyahnya:

فَعَّالٌ أو مِفْعَالٌ أو فَعُوْلُ   #   فِي كَثْرَةٍ عَنْ فَاعِلٍ بَدِيْلُ

Yang mana faʻâl[un] ini pengganti wazn fâʻil[un] yang digunakan untuk arti banyak melakukan. Maka al-Razzâq ialah Allah yang berulang-ulang dan banyak sekali memberi rezeki pada makhluk-makhluk-Nya.

Pakar bahasa Arab Ibnu Faris mengartikan kata rizq dengan pemberian untuk waktu tertentu. Kemudian arti kata ini berkembang menjadi pangan, kebutuhan, hujan, uang dan lain-lain. Menurut M Quraish Shihab rezeki didefiniskan dengan segala pemberian yang dapat dimanfaatkan baik material maupun spiritual. Kata al-Razzâq termaktub dalam Al-Quran hanya sekali saja QS al-Dzariyaat [51]: 58, namun banyak sekali kata pecahannya yang disebut dalam kitab suci itu.

 

Rezeki itu terbagi menjadi tiga; halal, haram dan syubhat. Sebagaimana firman Allah swt dalam QS Yunus [10]: 59:

قل أرأيتكم ما أنزل الله لكم من رزق فجعلتم منه حراما وحلالا

Adapun yang pertama, halal, harus sesuai dengan seizin Allah swt. Sementara yang kedua, haram, kebalikan dari yang pertama. Kemudian yang terakhir, syubhat, berada ditengah-tengah dari dua perkara tersebut. Tidak halal juga tidak haram. Al-Ghozali pernah mengatakan: Dialah swt telah menciptakan rezeki, dan menciptakan orang yang mencarinya, mengantarkan mereka kepadanya dan menciptakan sebab-sebab yang menjadikan mereka dapat menikmatinya.

Sedangkan kata pecahan yang berupa lafadz al-râziqîn disebutkan dalam al-Quran sebanyak enam kali, semuanya disandari dengan lafadz khairu. Semisal QS al-Jum’ah [62]: 11:

والله خير الرازقين

Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa selain Allah ada beberapa orang yang bisa memberi rezeki. Akan tetapi status mereka hanya menjadi perantara dan pengantar rezeki dari Tuhan Yang Maha Esa kepada orang yang mencari rezeki tersebut. Hanya Allah swt semata Dzat yang Maha pemberi rezeki dan membatasinya bagi makhluk di semesta alam ini. Setiap anak adam telah ditentukan rezekinya sejak ia berupa makhluk lemah dalam kandungan (HR. al-Bukhari & Muslim dari Ibnu Masud).

Tersebutlah seorang saleh yang ditanya oleh saudaranya. “Dari mana kamu makan?”.

Ia menjawab, “Semenjak aku mengenal Dzat Yang menciptakanku, aku tidak ragu siapa yang menghidupiku. Aku makan makanan dari ‘lemari’ yang tidak akan dapat direbut oleh para pencuri dan dimakan oleh ulat”.

Hikmah yang dapat kita ambil dari nama yang mulya ini ialah keharusan untuk mengetahui Dzat Yang telah membagi rezeki hingga bertawakkal kepada-Nya. Sebuah kemulyaan bagi kita, jika kita bisa menjadi perantara rezeki untuk sesama. Terakhir menukil ungkapan M Mutawalli al-Sya’rawi, yang harus kita ketahui bahwa orang kaya diberi kelebihan oleh Allah swt dengan diberi kelebihan rezeki melebihi dari kebutuhan. Sedangkan orang miskin diberi kelebihan dengan mengetahui siapa yang memberinya rezeki.  [Ali Fitriana]

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru