3 Cara Agar Anak Cinta Al-Qur’an

0

Sahabat Harakatuna.com, merupakan kebahagiaan yang tiada tara ketika Sang Buah hati kita terus-menerus membaca dan mencintai Al-Qur’an.

Ahsin Sakho Muhammad, Dosen Fakultas Ushuludin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam oase Al-Qur’an, mengatakan bahwa:  “seorang anak yang ahli Al-Qur’an, hafal Al-Qur’an, dan menghiasi dirinya dengan nilai-nilai Al-Qur’an adalah anak yang shaleh yang sangat didambakan oleh semua orang. Dia akan mendapatkan penghargaan oleh Allah atas keshalehannya dan pengabdiannya terhadap Al-Qur’an. Anak yang shaleh akan memberikan kemanfaatan kepada keluarga dan masyarakatnya. Anak yang tumbuh besar dalam ketaankepada Allah adalah termasuk satu dari tujuh kelompok yang akan mendapatkan pertolongan Allah pada hari kiamat. Anak shaleh adalah harta karun ukhrawi bagi kedua orang tuanya.”

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, lantas apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua? Harus diakui dan disadari bahwa tugas orang tua dalam mencetak generasi shaleh yang mencintai Al-Qur’an sungguh sangat berat. Meskipun demikian, tidak lantas menjadikan kita pesimistis. Yakin dan istiqomah merupakan kunci utama.

Setidaknya ada beberapa cara atau langkah guna mencetak generasi Qur’ani:

Pertama, yakin dengan kebenaran Al-Qur’an.

Tidak ada cara lain untuk dekat dengan kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad selain meyakini kebenarannya. Dari keyakinan ini akan membentuk pola pikir dalam memahami dan menggeluti Al-Qur’an.

Dengan keyakinan yang benar dan mantab, orang tua akan sungguh-sungguh dalam mengajarkan setiap kata yang ada di dalam Al-Qur’an.

Kedua, biasakan anak dengan Al-Qur’an.

Mengenalkan Al-Qur’an kepada anak dengan berbagai cara yang unik dan menarik menjadi langkah selanjutnya setelah meyakini akan kebenaran Al-Qur’an. Mulai mengenalkan Al-Qur’an dengan cara yang ringan seperti sering memperlihatkan kepada anak tentang asyiknya mendengarkan dan membaca Al-Qur’an. Mendengarkan murotal yang terdapat di Android merupakan cara paling efektif untuk menarik perhatian sang buah hati terhadap AL-Qur’an.

Ketiga, ciptakan suasana kondusif untuk belajar di rumah.

Para ilmuan sepakat bahwa iklim suatu lingkungan berbending lurus dengan semangat dan keberhasilan dalam belajar. Hal ini artinya, sebagai orang tua, perlu kita ciptakan suasana yang mendukung untuk terselenggaranya sebuah proses belajar yang nyaman di rumah. Rumah menjadi “sekolah” paling utama dan efektif. Tidak  cukup hanya dengan memasukkan anak ke sekolah Islam, atau menyediakan guru untuk privat belajar Al-Qur’an.

Selain itu, agar anak cinta Al-Qur’an, dia butuh contoh teladan, bukan sekedar retorika belaka. Banyak cara atau sikap dan perilaku yang mencerminkan pola hidup Qur’ani.

Sebagaimana dikutip persis dari ummuhabibah.com, rumah yang hinggar-binggar dengan suara bising , atau situasi lingkungan yang rusak, banyak orang nongkrong menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna, begadang, apalagi ditambah dengan pergaulan yang merusak, makin menjauhkan anak dari Al-Qur’an.

Biasakan mengenalkan anak dengan sumber-sumber ilmu seperti masjid, pesantren, toko buku, perpustakaan. Libatkan anak dalam kegiatan keagamaan, seperti shlat id, tarawih, ibadah qurban. Suasana ibadah yang nyaman akan membekas dalam diri anak kita. Meskipun dia masih dalam suasana bermain, namun nilai-nilai kebaikan yang didapatkan di masjid akan memberi manfaat dan menghujamkan ke dalam jiwanya, akan masa kecil yang indah pergi mengaji di surau, masjid, Taman Pendidikan Al-Qur’an dll. [n]