34.4 C
Jakarta

Perintah Bacalah dan Keutamaan Ilmu

Artikel Trending

KhazanahLiterasiPerintah Bacalah dan Keutamaan Ilmu
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Pertama kali yang dididik oleh Nabi Muhammad kepada umat adalah sisi tauhidnya. Sebuah hubungan dengan Tuhannya. Ketika wahyu pertama kali turun, manusia diberi pengertian siapakah dirinya? Siapakah Tuhanmu? Dan bagaimana laku dalam hidupnya? Wahyu pertama yang turun adalah ayat iqra’ biismi rabiika alladzi khalaq., bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Maha Menciptakan. Perintah membaca, bukan yang lainnya.

Dalam puisi Kang Maman Suherman;

Bukan
Sembahlah Aku!
Bukan
Sembahyanglah!
Bukan
Berpuasalah untukku!

Apalagi
Berkuasalah!
Saling menaklukanlah!
Saling mengkafirkanlah!

Bukan!
Bukan!
Bukan!

Bukan itu!
Ia mininta kita:
Bacalah
Bacalah
Bacalah

Dalam ceramah alm. K.H. Hasyim Muzadi menejelaskan bahwa dalam beberapa tafsir Al-Qur’an yang mu’tabar, perintah Tuhan apabila tidak disertai keterangan spesifik maka ia berlaku untuk semua hal.

Contohnya dalam konteks ayat pertama dalam surat Al –Alaq tadi kata iqra’ yang berarti bacalah tidak disertai dengan keterangan apa yang harus dibaca. Dalam hal ini, semua bisa dibaca dan menggunakan alat-alat yang diberikan Tuhan untuk membaca, serta didahului dengan menyebut nama Tuhan.

Perintah membaca yang pertama ditujuhkan kepada Al-Qur’an. Kitab yang berisi aturan-aturan, hubungan manusia dengan tuhan dan manusia dengan manusia, serta beberapa kejadian dan peristiwa.

Membaca Al-Qur’an membutuhkan ilmu. Oleh karena itu betapa pentingnya keberadaan madrasah atau lembaga pendidikan lainnya. Setelah mampu membaca, seorang akan naik kepada tahapan apa isi dari yang dibaca? Bagaimana tafsirannya? Dan mengamalkannya seperti apa? Tentunya untuk mencapai tahapan-tahapan tersebut diperlukan berbagai disiplin ilmu.

Kiai Hasyim menyebutkan bahwa para ulama berkata, barang siapa memiliki ilmu yang digunakan untuk bertaqwah kepada Allah, maka ilmu yang dimiliki akan bermanfaat, baik ilmu agama maupun ilmu dunia.
Orang yang memiliki ilmu tetapi tidak dilandasi dengan khosyatullah, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat, baik ilmu agama maupun dunia. Orang yang mengerti belum tentu dapat mengamalkan.

Antara keberadaan amal dan ilmu ada hal yang merekatkan keduanya, yakni rasa takut kepada Allah (khosyatullah). Contoh orang mengerti bahwa sholat sehari ada 5 waktu, tetapi karena tidak adanya rasa takut kepada Allah, ia memilih untuk sholat lima hari sekali. . “Siapa yang takut Allah ilmunnya akan menjadi amal dan amalnya akan dilandasi ilmu.” Dawuh Kiai Hasyim Muzadi. Jika demikian, maka yang terisi tidak hanya otak dan pikiran saja, tetapi juga hati. Karena ilmu yang diamalkan adalah amal yang dilandasi ilmu.

BACA JUGA  Mengarang Tidak Asal Mengarang-ngarang

Takut kepada Tuhan bisa dibentuk dengan beribadah, wirid atau mendengarkan nasihat. Kebiasaan-kebiasaan ini bisa meningkatkan rasa takut kepada Allah. Dengan takut kepada Allah ilmunya akan berubah menjadi ilmu amaliyah dan amalnya menjadi amal ilmiah. Jika sudah memiliki keduanya, maka seseorang bisa diisi dengan ilmu agama untuk jadi orang alim atau ulama. Diisi dengan ilmu dunia untuk menjadi berbagai ahli ilmu pengetahuan umum.

Apakah ilmu dunia juga bisa? Beberapa orang masih menganggap bahwa ilmu dunia tidak sebegitu penting ilmu agama, benarkah?

Baik ilmu agama maupun ilmu dunia sama-sama berasal dari Allah. Ilmu agama berasal dari ayat-ayat Allah sementara ilmu umum berasal dari dunia yang diciptakan Allah. Kemudian Allah memerintahkan untuk menyelediki sehingga muncul berbagai ilmu pengetahuan melalui penelitian-penelitian.

Contoh, dari kita menanam biji-bijian, tanpa kita menarik pohon itu sudah tumbuh Dari pekerjaan ini muncul ilmu pengetahuan biologi, gizi, pertanian, ekonomi, dan lain sebagainya. Bukti dari ilmu ini berasal dari Allah adalah hanya sedikit saja upaya dan usaha kita untuk menumbuhkan biji ini. Itupun tidak akan hasil tanpa kehendak Allah, semua berasal dari kehendak Allah.

Ilmu tanpa agama seperti rumah tanpa fondasi, agama tanpa ilmu seperti fondasi tanpa rumah. Sehingga keduanya begitu penting. Untuk menguasai ilmu-ilmu ini, tentunya diperlukan sebuah pekerjaan yang juga menjadi perintah pertama kepada Muhammad, yakni bacalah!

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru