Pancasila; Role Model Anak Bangsa


1
73 shares, 1 point
Ist

Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi sendiri, dan aku menemukan lima butir mutiar yang indah.

Begitulah, petuh presiden pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia—Ir,. Soekarno—tentang penting dan relevannya Pancasila sebagai ideologi Indonesia, karena dihasilkan dari “saripati” tradisi bumi pertiwi. Pancasila menjadi ideologi yang sangat bagus dan cocok bagi Negara Indonesia, karena Indonesia yang notabene terdiri dari berbagai pulau dan rawan akan gesekan serta perpecahan, maka Pancasila hadir sebagai penengah dan pencegah perpecahan. Maka tak heran, jika Muhamad Azizul Ghofar dalam bukunya yang berjudul Jihad Fil Pancasila megatakan bahwa, Pancasila mimiliki kedudukan penting dalam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pokok kedaulatan Pancasila ialah sebagai  dasar negara Republik Indonesia.

Pancasila menurut Notonegoro merupakan dasar falsafah negara Indonesia, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa, Pancasila merupakan dasar falsafah ideologi negara yang diharapkan mamapu menjadi cara pandang hidup bangsa Indonesia sebeagai pemersatu, lambang persatuan dan kesatuan serta sebagai pertahanan bangsa dan negara Indonesia.

Di zaman millenial sekarang, kian hari kekuatan Pancasila terus diuji oleh berbagai ujian. Di antaranya adalah Bom yang melanda Suarabaya, penyerangan terduga teroris ke Mapolda Riau, dan pengeboman 3 gereja di Surabaya pada bulan Mei 2018 lalu. Peristiwa tersbut, mengindikasikan bahwa, masyarakat belum semuanya memahami akan pentingnya pancasila sebagai pemersatu bangsa, khususnya yang melakukan tindakan-tindakan senono tersebut.

Tidak cukup sampai di situ, pergerakan kaum berpaham radikal tersebut, kini sudah merambah ke dunia maya. Sebab dewasa ini, dunia maya menjadi teman sehari-hari masyarakat dalam menjalani ativitas, maka mereka memanfaatkan dunia maya untuk melancarkan misi-misi terselubungnya. Salah satu misi mereka adalah ingin mendirikan negara sendiri atau mengubah tatanan pemerintahan Indonesia sesuai dengan apa yang mereka inginkan dengan mengatakan bahwa “Pancasila produk orang kafir” dll.

Baca Juga:  Kalimat Tauhid sebagai Kesadaran Multikultural

Kembali ke Khittoh

            “Pancasila harga mati!” kata tersebut merupakan kata yang cocok untuk mewakili, bahwasanya Pancasila sudah final tidak bisa diganggu gugat. Pancasila memiliki nilai-nilai yang sangat komprehensif dalam menjadi sebuah dasar negara. Nilai-nila tersebut meliputi, nilai ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebjaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Namun, minimnya kesadaran dan pengetahuan akan hakikat nilai Pancasila tersebut akan berimplikasi pada runtuh dan hancurnya bangsa ini. Contoh jika, prinsip keadilan sosial tidak dipegang dalam berkehidupan sehari-hari, maka rentang jarak antara si-kaum miskin dengan si-kaum kaya akan kian jauh, karena si-kaya tidak mau memberikan sebagian hartanya untuk membantu si-miskin.

Senada dengan itu, banyaknya kaum yang berpaham radikal dan melenceng juga mengancam persataun dan kesatuan NKRI. Maka dari itu, perlu adanya penanaman nilai-nilai Pancasila sejak sedini mungkin, dari lingkup keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sebab, jika penanaman tersebut sudah gencar didengungkan, maka Indonesia akan lebih mudah menggapai cita-citanya.

Di samping itu, pergerakan kaum yang berpaham radikal di dunia maya juga harus dibendung. Salah satu caranaya adalah terus membanjiri dunia maya dengan konten-konten positi dan perdamaian. Sebab, dengan kita membanjiri dunia maya dengan adanya konten positif di dunia maya akan menjadi filter bagi masyarakat dalam mengakses setiap informasi, sehingga meminimalisir penyebaran paham radikal di dunia virtual.

Maka dari itu, mari kita kembali ke khittoh (garis) Pancasila untuk memperkokoh dan menjaga perdamaian negara kita tercinta. Sudah saatnya kita bergerak untuk meminimalisir para kaum yang berpaham radikal di bumi pertiwi dalam mempengaruhi masyarakat lain, agar tidak terjerumus dalam lingkaran setan tersebut. Dengan demikian, perlu adanya kerjasama antar semua elemen masyarakat, agar perdamian dan persatuan Indonesia tetap terjaga. Wallahu a’lam bi al-shawaab.

Oleh: Ahmad Asrori, Ketua Umum GPII di Lngkup Jawa Tengah dan Peneliti di Lembaga Studi Agama dan Nasioalisme (LeSAN).


Like it? Share with your friends!

1
73 shares, 1 point

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.