Menulis Esai Boleh Apa dan Bagaimana Saja


Esai dalam bayanganku semasa SMA itu serupa artikel ilmiah. Berpenampilan akademis-sangar, membahas hal sungguhan penting, bahasanya taat pada aturan, tidak puitis, penceritaannya kaku. Pendeknya, menjemukan pembaca. Aku SMA tak pernah serius membaca buku esai apalagi punya esais kesukaan. Meski begitu beberapa kali nekat ikut lomba esai. Seringnya kalah, tapi pernah sekali waktu menang.

Kalau kutimbang-timbang sekarang, itulah satu-satunya esai yang agak enak dibaca yang kutulis saat SMA. Esai yang keseluruhan tubuhnya berbahan dasar dua hal saja, pengalaman dan data-data pendukung yang kuakses dari internet. Aku belum menyangkutkan esai dengan sumber berupa koran, majalah, apalagi buku.

Dulu itu, aku tak mengerti kalau esai juga bagian dari sastra. Kata temanku, sastra itu seni berkata-kata. Di kemudian hari pengertian itu kuamini. Kalau prosa (cerpen, novel, puisi) itu karya sastra fiksi, maka esai adalah sastra berjenis kelamin nonfiksi. Esai bukan cerpen atau novel atau puisi tapi mengambang di antara semua itu. Esai itu cerita. Ia boleh liris dan puitis. Esai juga boleh apa dan bagaimana saja. Tergantung si esais.

Aku membaca ulang Inilah Esai (Muhidin M. Dahlan, 2017) untuk bertemu apa itu esai. Gus Muh –sapaan karib Muhidin— mengutip Michel de Montaigne (1533-1592) yang memberi definisi esai dengan satu kata. Percobaan. Aku sungguh sepakat dengan Montaigne. Menulis esai itu anggaplah coba-coba-seru. Kamu tidak perlu serius mendakwa esai itu tulisan yang muncul dari buah pikiran berlian dan penulisnya sudah pasti sungguhan cerdas. Dakwaan begitu itu akan membuatmu ketakutan sendirian di pojok waktu. Menurutku, esai itu justru tulisan paling tak serius dibanding jenis sastra lainnya.

Baiklah. Supaya tidak membingungkan, kita kutip lagi Inilah Esai. Esai itu bagian dari sastra dari jurusan nonfiksi yang dengan lagak sombongnya hendak mengomentari segala hal dan tentang apa saja (hlm. 12). Lebih lanjut, jika esai diandaikan laiknya gaya hidup, maka gaya hidup yang tak linier, banyak kejutan, penuh percobaan, dan tak lupa senang-senang. Pokoknya esai itu lentur.

Begini, untuk membangun imaji soal apa dan bagaimana esai, kita kutip saja Ignas Kleden (2004, hlm. 463). Kutipan perlu lurus dan menyeluruh dengan gubahan sesukaku. Dengan membaca sajak kita dapat terserap ke dalam suasana puitis, dan dengan membaca karya ilmiah kita berkutat dengan analisis tentang suatu objek penelitian. Dalam dua kegiatan itu, sang penyair dan ilmuwan jadi tidak penting, karena yang pokok adalah karyanya.

Baca Juga:  Duta Santri sebagai Agen Penggerak Literasi

Membaca esai, sebaliknya, cenderung membuat kita teringat pada penulisnya, karena gerak-gerik, mimik dan gestikulasi, demikian pun kegembiraan dan rasa jengkel akan muncul dalam kalimat-kalimatnya. Membaca esai adalah menghadapi teks dan sekaligus penulisnya. Kalau puisi mengubah obyektivitas menjadi subyektivitas dan karya ilmiah mengubah yang sebaliknya. Esai takzim pada keduanya.

Memasak Esai

Seperti sudah tersebut di atas bahwa esai itu coba-coba. Maka apa yang ditulis dan bagaimana seseorang menulis esai itu bisa sah-sah saja. Penulis pemula biasanya menulis esai dengan segala tema dan membahasnya secara mendasar saja. Sementara penulis yang sudah agak matang biasanya akan menentukan salah satu atau dua tema sebagai spesialisasinya. Di sini, kita sebaiknya memosisikan diri sebagai pemula. Pemula biasanya penasaran dan geram dan marah dan tak puas dan senang mengomentari segala hal. Kecamuk itulah yang harus kita sikapi dengan menuangkannya dalam sebentuk esai.

Sejatinya segala hal bisa menjadi tema esai, entah itu politik, budaya, sosial, sains, ilmu pengetahuan, agama, bahasa, modernisasi, korupsi, kebijakan publik, makanan, hari-hari besar, dan lain-lainnya. Tema “Buku” yang digagas panitia Solo Membaca malahan bermaksud mengalami perkenalan sungguh mendasar dengan esai. Kita tidak akan terkungkung pada esai-esai kampanye-provokatif-sok literer yang mengagung-agungkan pentingnya membaca buku, tapi lebih jauh lagi. Bagaimanapun juga, aku yakin betul siapapun yang menulis esai pada mulanya mengalami keterpukauan dengan buku dan dengan para penulisnya.

Sekian orang yang akhirnya senang mencoba-coba memasak esai tidak mungkin tidak terpengaruh dengan buku. Pada mulanya mereka adalah pembaca buku sebelum penulis. Buku-buku yang terbaca pasti menjejak dalam upaya coba-coba menulis esai, sekecil apapun jejak itu. Esais pemula hampir bisa dipastikan pernah menulis soal pengalamannya membaca buku, bagaimana buku-buku itu mempengaruhi pilihan-pilihan di hidupnya, bagaimana buku itu akhirnya juga mempengaruhi gaya tulisannya.

Tema buku dan/atau soal literasi itu melulu seksi bagi banyak media. Sebab ia sejenis kalimat syahadat dalam dunia tulis-menulis. Ia mula. Di Subrubrik Mimbar Mahasiswa Solopos, sejauh pengamatan saya waktu kuliah, dari tahun ke tahun selalu saja muncul tulisan soal buku dan/atau literasi. Seringnya malah jadi babak panjang karena para mahasiswa berebut saling balas tulisan. Ohya, satu jalan cenderung mudah dalam menulis esai itu  bisa dilakukan dengan membalas esai yang sudah ada. Beberapa anak LPM Kentingan mengalami itu di Mimbar Mahasiswa Solopos.

Sekilas Judul dan Awal Tulisan

Baca Juga:  Meneladani Semangat Literasi dari Para Pewaris Nabi

Judul esai itu satu hal yang sungguh penting. Mula-mula adalah judul yang membuat sekian pembaca memutuskan akan membaca atau melewatkan esai begitu saja. Keterampilan menyusun judul sama pentingnya dengan keterampilan menyusun esai jadi tulisan bercerita yang asyik dibaca. Judul yang baik menurutku itu judul yang mengecoh, lain dari kebiasaan, tapi tak menyimpang dari keseluruhan tulisan. Lebih-lebih aku suka judul esai yang puitis. Setiap orang punya kesukaan tersendiri soal ini.

Setelah judul, kita bersemuka dengan paragraf paling awal dari esai. Kalau judul itu gerbang, paragraf awal itu pintu masuk rumah. Penulis esai sungguhan perlu bersiasat dalam paragraf permulaan ini. Kita akan cerap paragraf awal esai dari dua penulis berbeda nasib.

Pertama. Seorang tabib Yunani bernama Hippokrates mengawali naskah ilmu pengobatannya dengan sebuah keluhan. “Hidup begitu singkat, padahal penguasaan keterampilan menuntut banyak waktu,” tulisnya. Orang-orang Romawi menerjemahkan ungkapan itu menjadi ars longa, vita brevis. Ars, selain keterampilan, bisa pula berarti seni. Tak heran setelahnya banyak yang memakai ujaran itu sebagai glorifikasi. Mereka menegakkan kepala dan melentingkan punggung dan berkokok seperti ayam: “Seni itu panjang, hidup itu pendek!” Itulah paragraf mula esai Dea Anugrah yang judulnya Vita Brevis, Facebook Longa (2019, hlm. 104).

Kedua. “Kau sudah punya pacar belum?”

Pertanyaan pamanku yang lama merantau itu membuatku risih. Sudah niat ke tanah Jawa untuk mencari ilmu, malah disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar asmara.

“Yang penting rajin salat dan taat agama”

Amboi! Orang tuaku justru lebih parah. Mereka berdua memang tidak membahas pacar-memacari. Tapi yang dibahas malah kriteria-kriteria suami ideal yang laik menyandingku. Paragraf mula esai Nisa’ul’Afifah yang diberi judul Keluarga Melarangku Kawin dengan Lelaki Jawa (2018, hlm. 55).

Baca Juga:  Cara Berburu Ide, Belajar dari Pengalaman

Iseng Mengirim ke Media

Status mahasiswa itu sungguh menguntungkan. Saat-saat di mana hidup terasa baik-baik saja dan kita bebas belajar dan mencoba segala hal tanpa perlu terlalu takut mengalami risiko-risiko. Masa-masa baik itu selaiknya digunakan pula untuk coba-coba menulis lalu mengirim esai ke media-media.

Beberapa media menyediakan rubrik khusus untuk mahasiswa. Di Harian Solopos ada Subrubrik Mimbar Mahasiswa yang tayang setiap selasa.  Mimbar Mahasiswa juga ada di detik.com. Harian Tribun Jateng punya Forum Mahasiswa. Belakangan Harian Jawa Pos juga menggagas rubrik Suara Kampus. Mumpung masih mahasiswa, keberadaan rubrik-rubrik itu sungguh sayang terlewatkan. Aku tidak menyarankan kamu buru-buru menulis. Pada awalnya baca saja dulu dan ikuti dan cermati tulisan-tulisan yang tersiar di rubrik-rubrik tersebut. Selanjutnya, dari hasil amatan dan pembacaan itu, aku yakin satu esai bisa kamu tulis dalam sekali duduk.

Selain rubrik-rubrik khusus mahasiswa, kamu bisa juga mencoba rubrik-rubrik yang diperuntukkan umum. Berikut ini pendataanku terhadap media-media daring yang menerima esai dari kontributor. Saluransebelas.com, Berdikaribook.red, Basabasi.co, Kelung.com, Ideide.id, Langgar.co, Locita.co, Qureta.com, Geotimes.co.id, Buruan.co, Kurungbuka.com, Harakatuna.com, Alif.id, Islami.co, Detik.com, Beritagar.id, Kibul.in, Mojok.co, Voxpop.id, dan masih banyak lainnya. Masing-masing media tersebut memiliki ciri khusus yang berlainan satu dengan lainnya. Kalau kamu ingin esaimu dimuat di sana, kenali esai-esai yang sudah terpacak sebelumnya.

Konon, penulis esai yang baik itu yang tak buru-buru menulis saat tak punya cukup bahan. Aku mengenal penulis esai sebagai pembaca dan pembelajar tekun dan sabar, yang  kemudian menuliskan apa-apa yang telah dibaca dan meramunya dengan pengalaman atau percakapan dengan orang lain menjadi esai yang citarasanya pas. Penulis esai tak serta-merta menghasilkan esai yang baik menurut sekian pembaca atau malah lebih dulu tak menarik minat redaktur untuk menerbitkannya. Kendatipun demikian, penulis esai itu sudah seharusnya tak malu-malu menunjukkan tahapan demi tahapan berpikir melalui tulisannya yang mula-mula adalah buruk lantas berangsur-asur jadi lebih mendingan. Tsah!

Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lainnya.


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
1
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.