Mencetak Generasi Toleran

Jika semenjak dini sudah dicekoki ajaran-ajaran yang tidak ramah perbedaan, maka setelah beranjak dewasa, akan tumbuh menjadi pribadi yang intoleran.


0
3 shares

Dulu ketika penulis ikut kegiatan buka bersama di mushola kampung, kebetulan duduk berdampingan dengan anak-anak kecil usia lima tahunan. Mereka dengan ceria bercanda, sembari menunggu waktu berbuka puasa –meskipun mereka tidak berpuasa. Begitu masuk waktu berbuka, salah satu anak membaca doa sebelum makan Allahumma bariklana ….. Mendengar doa tersebut, anak lainnya mencoba untuk meluruskan: doanya bukan begitu, tapi cuma bismillah. Pun, salah satu orang tua yang tengah berada di situ, mengatakan hal yang sama.

Penulis terdiam sejenak, lalu berpikir bahwa ternyata hal-hal semacam ini menjadi masalah besar oleh sebagian orang. Dengan niat baik untuk mencairkan suasana, penulis pun menambahkan, bahwa kedua doa tersebut benar dan boleh dibaca, yang salah itu kalau sebelum makan tidak membaca doa.

Sekelumit pengalaman penulis tersebut, menjadi bukti bahwa ternyata klaim kebenaran masih kuat terasa dalam masyarakat kita. Bahwa seakan-akan dunia hanya hitam-putih; benar-salah. Apalagi jika bicara soal ajaran agama, antar muslim kerap merasa diri paling benar, sehingga menyalahkan muslim lainnya. Padahal, amalan yang dilakukan keduanya memiliki landasan dalil yang kuat.

Perspektif keagamaan anak kecil tadi tentu mereka dapat dari lingkungan belajar anak. Yang dimaksud lingkungan belajar di sini bisa berarti taman kanak-kanak maupun tempat pendidikan al-Qur’an. Karena kedua anak tersebut berasal dari lembaga pendidikan non-formal yang berbeda, hasil yang muncul pun berbeda. Satunya memiliki perspektif bahwa dalam beragama, bid’ah adalah keniscayaan, sehingga selama hal itu tidak menyalahi syariat Islam, maka dibolehkan. Adapun satunya, beranggapan bahwa apapun yang diada-adakan setelah Rasul Saw. wafat, dikategorikan bid’ah dan wajib hukumnya ditinggalkan. Tidak ada bid’ah yang baik.

Sementara anak yang nota bene berada pada usia emas, dengan mudah didoktrin dengan ajaran apapun. Jika semenjak dini sudah dicekoki ajaran-ajaran yang tidak ramah perbedaan, maka setelah beranjak dewasa, akan tumbuh menjadi pribadi yang intoleran. Pada akhirnya, ia melihat diri sebagai seseorang yang suci dan pemahaman keagamaannya paling benar, sementara yang berbeda dengannya pasti salah.

Baca Juga:  Merumuskan Hubungan Ideologi Nasional dan Agama (Bagian 4-Habis)

Maka dari itu, begitu anak masuk usia Sekolah Dasar (SD), guru mesti memahami psikologi mereka. Bahwa pada usia SD, ada masa di mana peserta didik menjadikan guru sebagai teladan paling berpengaruh dalam hidupnya –sampai-sampai orang tua pun kalah. Apapun yang dikatakan dan dilakukan guru, mereka serap sebagai keteladanan dalam hidup.

Kosasih Djahiri (1999) dalam seminar Center for Indonesian Civic Education (CICED) menjelaskan bahwa strategi yang mesti diterapkan pendidik, terutama di kelas adalah; (1) membina dan menciptakan keteladanan, (2) mempraktikkan pelajaran, dan (3) memotivasi peserta didik agar gairah belajar terus meningkat.

Implementasi dari poin pertama, dengan menata kelas atau sekolah supaya mendukung pembelajaran. Misalnya kaitannya dengan toleransi, guru bisa memasang asesori berupa gambar kerukunan umat beragama di kelas. Di samping tata kelola kelas, proses belajar-mengajar juga mesti berorientasi pada kenyamanan peserta didik. Misalnya, cara-cara inovatif yang bisa menarik peserta didik untuk belajar giat. Dan yang terpenting adalah, keteladanan semua pihak yang terlibat dalam sekolah, baik itu guru, pimpinan sekolah, maupun tokoh unggulan. Semua itu mesti bisa memberikan teladan yang baik kepada peserta didik.

Poin kedua bisa diaplikasikan dengan cara mengajak peserta didik untuk melakukan praktikum setelah mempelajari teori. Misalnya, teori tentang kewarganegaraan, peserta didik bisa diajak untuk berbaur dengan masyarakat; misal dengan berkeliling di lingkungan sekitar sekolah. Sehingga, peserta didik bisa mengenal lingkungan mereka, dan juga masyarakat yang hidup bersama mereka.

Adapun yang terakhir adalah, memberikan motivasi kepada peserta didik. Ini tugas guru yang kelihatan sepele tapi praktiknya luar biasa sulit. Bahwa banyak peserta didik yang merasa bebas, begitu mendengar pengumuman pelajaran diliburkan atau hari libur nasional. Hal ini mengindikasikan bahwa peserta didik tidak bisa menikmati pembelajaran, dan gairah untuk belajar secara otomatis menurun. Karena itu, guru yang kreatif dan paham psikologi anaklah, yang mampu mengatasi persoalan ini.

Baca Juga:  Rilis Nama Ulama Plat Merah, dan  Puncak Runtuhnya Legitimasi Kementrian Agama

Sementara untuk mencetak generasi ramah perbedaan, guru mesti mampu memberikan pemahaman kepada peserta didik bahwa beda itu niscaya, dan kita hanya cukup mengelolanya, bukan menyeragamkannya. Tentu, cara terbaik untuk itu adalah dengan merujuk kepada teladan Nabi Agung Muhammad Saw. Beliaulah teladan sepanjang zaman, yang telah mampu mendidik umat manusia supaya dewasa dalammenghadapi perbedaan.

Dikisahkan, ada dua orang sahabat berjalan di padang pasir. Ketika itu telah memasuki waktu dzuhur, sementara mereka tidak menemukan air untuk berwudhu. Karena itu, mereka bertayamum lalu menunaikan shalat dzuhur. Belum lama berjalan, dan waktu dzuhur belum habis, mereka menemukan air. Salah seorang di antara mereka berwudu dan mengulangi shalatnya. Sementara seorang lainnya bergeming, karena merasa sudah shalat.

Ketika keduanya sampai kepada Rasulullah Saw., dan menceritakan kejadian tersebut, beliau berkata kepada orang yang tidak mengulangi shalatnya: Kamu sudah benar menjalankan sunnah. Cukuplah shalat yang sudah kamu lakukan. Sementara kepad orang yang mengulangi shalat setelah menemukan air, beliau berkata: Bagimu pahala dua kali. (Rahmat: 2007)

Secara tersirat, Rasulullah Saw. mengajarkan kepada para sahabat supaya menerima perbedaan sebagai rahmat. Beliau mengajarkan bahwa toleransi merupakan pangkal dari kehidupan masyarkat yang damai, dan merupakan obat mujarab dari potensi konflik yang kerap muncul dari perbedaan pendapat.

Dengan begitu, guru sebagai sosok teladan peserta didik, mesti mampu mentransfer ilmu dan nilai-nilai toleransi kepada peserta didik. Peserta didik, apalagi usia SD, amat mudah untuk diajari ini-itu, dan hal ini merupakan peluang besar bagi guru untuk menanamkan bibit-bibit toleransi kepada peserta didik, sehingga kelak bisa tumbuh menjadi warga negara yang baik dan memiliki andil dalam mempertahankan kedaulatan negara kesatuan Republik Indonesia.


Like it? Share with your friends!

0
3 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Imron Mustofa

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penulis lepas asal Kebumen, yang untuk sementara waktu berdomisili di Jogja.