KH. Munawwir: Sang Guru Pencetak Generasi Qur’ani

Ahmad Fairozi, M.Hum.

28/05/2026

3
Min Read

Harakatuna.com – Dilansir dalam buku Sanad Al-Qur’an di Nusantara, disebutkan bahwa beliau merupakan sang guru para qari, yakni KH. Munawwir bin KH. Abdullah Rosyad. Mbah Kyai Munawwir, begitulah para santri memanggil beliau. Dengan kesederhanaannya, beliau hidup di tengah ketenangan, kerukunan, serta keistikamahan, dan tentu dengan keberkahan Al-Qur’an.

Beliau dijuluki sebagai “Al-Qur’an berjalan” karena kesetiaannya terhadap Al-Qur’an. Beliau banyak berguru kepada para pakar pembelajaran Al-Qur’an. Pertama kali, beliau belajar bersama ayahnya sendiri, yakni KH. Abdullah Rosyad. Dalam proses pembelajaran saat itu, terdapat kisah bahwa beliau diberi hadiah sebesar Rp2,50 oleh ayahnya dengan syarat mampu khatam nderes Al-Qur’an dalam waktu satu minggu. Hal itu menjadi bentuk penghargaan untuk menambah semangat dalam belajar Al-Qur’an maupun ilmu lainnya.

Tak berhenti sampai di situ, selain mempelajari ilmu qira’at, beliau juga mendalami berbagai ilmu lain. Beliau berguru kepada KH. Abdullah, Syaikhona Khalil, KH. Sholeh Darat, dan KH. Abdurrahman dari Magelang. Dengan semangat dan kegigihan dalam menimba ilmu, pada tahun 1888 M beliau memutuskan melanjutkan perjalanan ke Haramain, baik di Makkah maupun Madinah.

Tentu sangat banyak guru beliau di sana, dan salah satu guru qira’ah sab’ah beliau adalah Syekh Yusuf Hajar. Dalam perjalanan menuju Haramain, terdapat kisah menarik ketika beliau bertemu seorang laki-laki tua. Orang tersebut meminta berjabat tangan dengan Mbah Yai Munawwir, lalu beliau memohon doa agar menjadi seorang penghafal Al-Qur’an sejati. Setelah ditelusuri, sosok laki-laki tua tersebut diyakini sebagai Nabi Khidir a.s., sebagaimana yang pernah disampaikan Mbah Yai Arwani Kudus.

KH. Munawwir dikenal sebagai seorang ahli dalam bidang qira’ah sab’ah, khususnya pada bacaan qira’ah Imam ‘Ashim riwayat Imam Hafsh. Sanad qira’ah Imam ‘Ashim yang beliau miliki tersambung hingga Nabi Muhammad saw.

Kufah pada masa itu menjadi pusat perkembangan qira’ah sab’ah. Posisi Imam ‘Ashim di kawasan Kufah menjadikan madzhab qira’ah beliau berkembang pesat melalui guru-gurunya, salah satunya Abdurrahman Al-Sulami. Beliaulah yang menjadi imam qira’ah di kawasan Kufah sejak dikirimkannya salinan Mushaf Utsmani.

Jika melihat catatan sejarah, pada awal masuknya Islam, mobilitas kaum Muslim dari Haramain, Damaskus, Kufah, hingga Basrah sudah sangat tinggi. Kota Kufah kemudian berkembang menjadi pusat beberapa madzhab qira’at sab’ah, salah satunya qira’ah Imam ‘Ashim. Dalam sejarah, banyak syekh qira’ah sab’ah yang masyhur berasal dari Kufah.

Dalam sejumlah data disebutkan bahwa pakar qira’ah sab’ah di Nusantara pada abad ke-20 di antaranya adalah KH. Munawwir dari Krapyak, Yogyakarta dan KH. Munawwar dari Gresik. Mereka inilah yang kemudian mengembangkan kajian ilmu qira’ah sab’ah di Nusantara.

Tentu tak perlu diragukan lagi bahwa Mbah Munawwir memiliki sanad yang tersambung hingga Rasulullah saw., yang berasal dari Allah swt. melalui perantaraan Malaikat Jibril a.s.

Riyadhah merupakan salah satu bentuk ketekunan beliau terhadap Al-Qur’an. KH. Munawwir pernah menjalani riyadhah selama tiga tahun dengan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu tujuh hari tujuh malam. Kemudian beliau melanjutkan dengan khatam dalam waktu tiga hari tiga malam. Setelah itu, beliau mampu khatam sehari semalam secara berturut-turut selama tiga tahun.

Riyadhah terakhir yang beliau jalani adalah mengkhatamkan Al-Qur’an selama 40 hari berturut-turut tanpa berhenti hingga mulut beliau berdarah karenanya.

Masyaallah, sungguh keteladanan, kesetiaan, dan ta’dzim beliau terhadap Kalamullah sangat tidak diragukan lagi. Tak heran jika beliau sangat masyhur dengan julukan “Al-Qur’an berjalan” serta sang guru pencetak generasi Qur’ani. Semoga kita semua dapat diakui sebagai santri beliau dan senantiasa memperoleh keberkahan dari Almaghfurlah KH. Munawwir bin KH. Abdullah Rosyad.

Oleh: Binti Khabibatur Rahma.

Leave a Comment

Related Post