30.8 C
Jakarta

Kemasukan Air Saat Mandi, Batalkan Puasanya?

Artikel Trending

Asas-asas IslamFikih IslamKemasukan Air Saat Mandi, Batalkan Puasanya?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Puasa Ramadan adalah kewajiban bagi setiap muslim yang mampu menjalankannya. Dan tentunya ketika sedang menjalankan puasa, harus menjaga dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa. Diantaranya adalah kemasukan sesuatu melalui Jauf (lubang pada tubuh seperti mulut dan telinga). Lantas apakah kemasukan air saat mandi membatalkan puasanya..? baik secara sengaja maupun sengaja.

Menurut keterangan Ulama Madhab Syafi’iah yang termaktub dalam kitab Iantut Thalibin karya Abu Bakar Syato. Diterangkan apabila kemasukan air saat puasa ada tiga hukumnya, membatalkan secara mutlak, batal apabila berlebihan dan tidak membatalkan secara mutlak. Abu Bakar Syato menuliskan

والحاصل أن القاعدة عندهم أن ما سبق لجوفه من غير مأمور به، يفطر به. أو من مأمور به ولو مندوبا لم يفطر. ويستفاد من هذه القاعدة ثلاثة أقسام: الاول: يفطر مطلقا بالغ أو لا وهذا فيما إذا سبق الماء إلى جوفه في غير مطلوب كالرابعة، وكانغماس في الماء لكراهته للصائم وكغسل تبرد أو تنظف. الثاني: يفطر إن بالغ، وهذا فيما إذا سبقه الماء في نحو المضمضة المطلوبة في نحو الوضوء. الثالث: لا يفطر مطلقا، وإن بالغ، وهذا عند تنجس الفم لوجوب المبالغة في غسل النجاسة على الصائم وعلى غيره لينغسل كل ما في حد الظاهر.

BACA JUGA  Hukum Memperpanjang Sholat Untuk Menunggu Makmum

Artinya: “Kaidah menurut ulama adalah, air yang tidak sengaja masuk ke dalam rongga tubuh dari aktivitas yang tidak diperintah, bisa membatalkan puasa, atau dari aktivitas yang diperintah meski anjuran sunah, maka tidak membatalkan. Dari kaidah ini, bisa diambil tiga pembagian hukum.

3 Hukum Kemasukan Air Saat Mandi

Pertama, membatalkan secara mutlak, baik berlebih-lebihan atau tidak (dalam menggunakan air). Ini berlaku dalam permasalahan masuknya air dalam aktivitas yang tidak diperintah. Seperti basuhan ke empat, menyelam ke dalam air, karena makruh bagi orang berpuasa, dan mandi dengan tujuan menyegarkan atau membersihkan badan.

Kedua, membatalkan jika berlebih-lebihan, ini berlaku dalam aktivitas seperti berkumur yang dianjurkan ketika melakukan wudu.

Ketiga, tidak membatalkan secara mutlak meski berlebih-lebihan. Ini berlaku ketika mulut terkena najis karena wajibnya berlebih-lebihan dalam membasuh najis bagi orang berpuasa dan lainnya, agar anggota zhahir terbasuh”. (Lihat, Ianah at-Thalibin, juz 2, hlm 265)

Dari pendapat ini, dengan jelas apabila seseorang mandi karena menjaga kebersihan dan untuk mencari kesegaran apabila salah satu lubang Jauf-nya kemasukan air maka puasanya menjadi batal secara mutlak. Wallahu A’lam Bishowab.

Ahmad Khalwani
Ahmad Khalwani
Penikmat Kajian keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru