32.6 C
Jakarta

Kaum Radikal Sasar Generasi Milenial Melalui Internet

Artikel Trending

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Bullshit Para “Pembela” Islam

Sejak Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta, Rabu, 19 November 2014, para pembela Islam tidak bisa hidup tenang sampai hari ini. mereka semakin radikal. Radikalisme...

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Daftar Daerah yang Tegas Menolak Kehadiran Rizieq Shihab dan FPI

Gelombang penolakan atas keberadaan organisasi Front Pembela Islam menjalar kemana-mana, utamanya pasca kedatangan Rizieq Shihab ke Indonesia dari pelariannya atas kasus hukum yang menimpa....

Jangan Sampai Mendewa-dewakan Mereka yang Mengaku Keturunan Nabi

Gelar “habib” (jamaknya “habaib”) menjadi pembeda antara keturunan Nabi Saw. dan selain beliau. Sakralitas gelar habib tak kalah menarik dibandingkan dengan predikat nabiyullah yang...

Budaya Akademik dan Etos Kerja Dalam Islam

Islam sebagai agama yang kaffah tentu mengatur secara komprehensif segala aktifitas manusia dari mulai bangun tidur samapai tidur kembali. Sebagai agama yang kaffah, Islam...

Revolusi Akhlak HRS vs Revolusi Akhlak Syekh Abu ‘Ala ‘Afifi

Era pandemi Covid-19 hingga menjelang akhir tahun 2020 ini belum nampak akan berakhir. Meskipun adanya perubahan, situasi dan kondisi saat ini pasca pulangnya Habib...

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baleho. Suasana damai tenan, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Harakatuna.com. Jakarta – Generasi milenial menjadi satu di antara target pencekokan paham-paham radikal. Pecekokan itu dilakukan melalui interaksi pergaulan yang terjalin.

Pengamat Terorisme, Amir Mahmud mengatakan cara membuat pencekokan paham radikal tanpa disadari meresap dalam pemahaman seseorang.

“Melalui fase pergaulan atau interaksi menyebabkan paham-paham tanpa disadari masuk,” kata Amir dalam Obrolan Virtual Tribunnews, Kesaksian Eks Napi Terorisme : Bagaimana Radikalisme Merenggut Hidupku, Sealsa (8/9/2020).

“Ini sesuatu yang menenangkan atau bisa dikatakan masuk secara soft,” tambahnya.

Pihak-pihak pemberi pemahaman eksklusifisme itu membuat kegiatan teror itu menjadi hal yang menggiurkan. “Hasilnya, pencarian buku-buku tertentu yang membuat orang itu enjoy. Kalau saya melihat dunia pendidikan tidak pernah mengajarkan kekerasan,” ujar Amir.

Ditambah lagi, perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi komunikasi bisa memicu penanaman pengaruh radikalisme semakin tidak terkontrol. Menurut Amir, itu lantaran teknologi tersebut menyajikan kemuduhan akses informasi. “Ini sebenarnya ada proses yang hari ini banyak kalangan-kalangan milenial yang berada di masa transisi,” terang dia.

“Tidak tahu apakah ini baik atau buruk karena serba instan. Menerina informasi internet dengan serta merta,” tambahnya.

Kaum Muda Jadi ‘Ladang’ Doktrinasi Paham Radikal

Ketua Pemuda Muhammadiyah, Sunanto atau akrab disapa Cak Nanto tidak menyangkal generasi muda menjadi sasaran terbesar penyebaran pengaruh radikalisme.

“Para generasi muda saat ini berada di tengah kebimbangan, di tengah situasi psikologi generasi muda, itu menjadi ladang bagi doktrinasi paham-paham yang ekstrem,” urai dia.

“Ruang yang belum mapan, tingkat kedewasaan yang belum memadahi, itu menjadi ladang bagi doktrinasi paham radikalisme,” tegasnya.

Selain itu, Cak Nanto menilai ada perubahan yang drastis di lingkungan sosial generasi muda saat ini.

“Dulu banyak tokoh-tokoh agama yang berkonsentrasi mengajarkan agama.
Lingkungan di sekitarnya tercipta oleh tingkat keagamaan dan kebangsawanan yang luar biasa,” tutur dia.

“Banyak tokoh agama sekarang beralih ke politik politik,” tambahnya.

Akhirnya, generasi muda mencoba mengisi ruang kosong itu dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. “Kiai pembimbingnya, kiai Google atau media sosial. Tidak banyak tokoh masyarakat yang berkonsentrasi menjadi pendidik maupun penengah diantara persoalan-persoalan kebangsaan,” tandasnya.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Lembaga Penyiaran Harus Mampu Perkuat Ideologi Bangsa

Harakatuna.com. Jakarta – Digitalisasi penyiaran harus mampu meningkatkan peran lembaga penyiaran dalam membangun ketahanan budaya dan ideologi bangsa. “Dengan kelebihan sistem digitalisasi dapat menjangkau wilayah...

Dosakah Pemeran dan Penyebar Video Asusila Mirip Gisel?

Akhir-akhir ini sedang viral tentang beredarnya video asusila yang menyangkut nama seorang artis Indonesia. Dalam video tersebut terdapat adegan intim yang dilakukan seorang laki-laki...

Memanas Lagi, ISIS Tewaskan Delapan Orang di Irak Utara

 Harakatuna.com. Baghdad-Sedikitnya delapan orang, termasuk lima petugas keamanan, tewas pada Sabtu dalam serangan kelompok teror Daesh/ISIS di Provinsi Saladin utara Irak, menurut sumber militer. "Serangan...

Mitigasi Bahaya Narasi Konservatisme Agama di Media Sosial

Akhir-akhir ini, konservatisme agama kian menguat di media sosial. Dalam konteks ini, jika kita ikuti perkembangan yang ada, konservatisme agama menguat karena dipantik oleh...

Agenda Kegiatan: Kuliah Umum Kajian Timur Tengah UIN Yogyakarta

✨ Kuliah Umum Kajian Timur Tengah Pascasarjana UIN sunan Kalijaga Yogyakarta ✨ 📚 “Perubahan Pemikiran & Politik di Timur Tengah: Tumbuh Kembang Wahhabisme & Kerajaan...

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Raja Salman dan Erdogan Buka Babak Baru Melalui Dialog

Harakatuna.com. Ankara - Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz dan Presiden Turki Tayyip Erdogan sepakat memperbaiki hubungan bilateral dan menyelesaikan berbagai masalah lewat dialog. Kedua pemimpin itu berbicara melalui...

Jangan Sampai Mendewa-dewakan Mereka yang Mengaku Keturunan Nabi

Gelar “habib” (jamaknya “habaib”) menjadi pembeda antara keturunan Nabi Saw. dan selain beliau. Sakralitas gelar habib tak kalah menarik dibandingkan dengan predikat nabiyullah yang...