Judul Buku: Iran and Pakistan: Security, Diplomacy and American Influence, Penulis: Alex Vatanka, Penerbit: I.B. Tauris (Imprint dari Bloomsbury Publishing), Cetakan: Edisi Pertama, Tahun Terbit: 2017, Tebal: xiv + 272 halaman, ISBN: 978-1784533175 (hardcover), Peresensi: Narendra Pranata Limandoko.
Harakatuna.com – Hari-hari ini, arah geopolitik global tengah ketar-ketir. Di tengah perang terbuka antara AS dan Iran yang telah mengguncang stabilitas kawasan selama berminggu-minggu, justru Pakistan muncul sebagai titik temu yang tidak terhindarkan. Islamabad bukan saja menjadi lokasi diplomasi, tetapi menjelma menjadi panggung utama di mana konflik global dipaksa untuk mencari jeda.
Sejak awal April, setelah eskalasi militer yang melibatkan serangan langsung, blokade Selat Hormuz, dan efek berantai terhadap ekonomi global, kedua pihak akhirnya menyepakati gencatan senjata sementara selama dua minggu, sebuah jeda rapuh yang dimediasi oleh Pakistan. Namun jeda ini jauh dari stabil. Ketegangan tetap tinggi, pelanggaran terus terjadi, dan isu-isu mendasar, dari sanksi, program nuklir, hingga konflik Lebanon, masih menjadi ganjalan utama dalam negosiasi.
Yang lebih signifikan, pertemuan tingkat tinggi antara pejabat tinggi AS dan Iran di Islamabad hari ini menandai salah satu kontak paling serius sejak Revolusi Iran 1979. Fakta bahwa kedua negara yang selama puluhan tahun bermusuhan kini “dipaksa” duduk dalam satu orbit diplomatik, dan itu terjadi di Pakistan, bukanlah kebetulan geopolitik. Ia adalah refleksi dari sesuatu yang lebih dalam: bahwa Pakistan sejak lama berada di posisi unik sebagai penghubung, sekaligus medan tarik-menarik kepentingan global.
Di titik inilah buku Iran and Pakistan: Security, Diplomacy and American Influence karya Alex Vatanka menemukan relevansinya. Apa yang ditulis Vatanka satu dekade lalu seolah mendapatkan konfirmasi empirik hari ini: bahwa hubungan Iran-Pakistan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu beroperasi dalam bayang-bayang kekuatan yang lebih besar. Bahkan dalam momen paling krusial, ketika perang dan damai dipertaruhkan, relasi keduanya kembali diposisikan sebagai bagian dari konfigurasi global yang lebih luas.
Dengan kata lain, apa yang sedang terjadi di Islamabad saat ini bukan hanya peristiwa diplomatik, tetapi juga pembuktian atas tesis utama Vatanka: bahwa Iran dan Pakistan tidak sepenuhnya bebas menentukan arah hubungan mereka sendiri. Mereka adalah aktor regional yang terus bergerak dalam tekanan, negosiasi, dan batas-batas yang ditentukan oleh struktur kekuasaan global.
Dari sini, pembacaan terhadap buku ini menjadi tidak lagi sekadar akademik, melainkan mendesak. Untuk memahami mengapa Pakistan menjadi mediator, mengapa Iran tetap bernegosiasi di tengah konfrontasi, dan mengapa AS bersedia masuk dalam format yang tidak sepenuhnya dikendalikannya, kita harus kembali pada fondasi relasi Iran-Pakistan itu sendiri, hubungan yang sejak awal tidak pernah sederhana, dan tidak pernah sepenuhnya otonom.
Dua dimensi utama inilah yang akan diulas: pertama, tentang bagaimana relasi Iran–Pakistan terbentuk dalam sejarah yang kompleks dan tidak pernah murni; dan kedua, tentang bagaimana kekuatan eksternal, terutama AS, secara sistematis membentuk, membatasi, dan mendistorsikan hubungan tersebut hingga hari ini.
Antara Retakan Ideologi dan Kepentingan Strategis
Dalam membaca buku Iran and Pakistan: Security, Diplomacy and American Influence, Alex Vatanka sejak awal menolak godaan untuk menyederhanakan hubungan Iran-Pakistan sebagai sekadar relasi dua negara Muslim bertetangga yang “secara alamiah” seharusnya harmonis. Justru sebaliknya, ia membangun argumen bahwa sejak kelahirannya, hubungan ini tidak pernah benar-benar berdiri di atas fondasi yang murni, melainkan selalu disusun oleh kepentingan strategis yang lebih luas bahkan sejak momen paling simbolik sekalipun.
Ketika Iran menjadi negara pertama yang mengakui Pakistan pada 1947, dan ketika Mohammad Reza Shah Pahlevi menjadi kepala negara pertama yang berkunjung ke Islamabad, relasi yang terbangun tampak seperti solidaritas alamiah dunia Muslim. Namun, Vatanka membaca momen ini bukan sebagai ekspresi idealisme, melainkan sebagai kalkulasi geopolitik awal: dua negara baru yang mencari posisi dalam tatanan global pasca-kolonial.
Pada fase awal ini, kedekatan Iran-Pakistan diperkuat oleh kesamaan orientasi politik. Keduanya berada dalam orbit Barat selama Perang Dingin, bahkan tergabung dalam arsitektur keamanan anti-komunis. Tetapi bagi Vatanka, kesamaan ini bukanlah fondasi permanen, melainkan konfigurasi sementara yang ditentukan oleh konteks global. Sejak awal, relasi ini bukan tujuan, melainkan alat. Ia bahkan secara tegas menyatakan bahwa tidak pernah ada fase di mana kedua negara benar-benar memandang hubungan bilateral sebagai “tujuan itu sendiri”, melainkan selalu sebagai sarana untuk mencapai kepentingan strategis yang lebih besar.
Retakan mulai tampak jelas setelah Revolusi Iran, peristiwa yang tidak hanya mengganti rezim di Teheran, tetapi juga mengubah orientasi ideologis Iran secara radikal. Dari monarki pro-Barat menjadi republik Islam revolusioner, Iran keluar dari orbit lama yang sebelumnya juga dihuni Pakistan. Di titik ini, banyak analisis cenderung berhenti pada penjelasan sektarian: Iran sebagai negara Syiah, Pakistan sebagai negara dengan mayoritas Sunni. Namun Vatanka justru menghindari reduksi ini. Ia tidak menafikan adanya ketegangan sektarian, tetapi menolak menjadikannya sebagai variabel penentu.
Sebaliknya, yang ia tampilkan adalah realitas yang jauh lebih kompleks: bahkan di tengah perbedaan ideologis yang tajam, kerja sama tetap berlangsung. Pakistan termasuk negara yang cepat mengakui rezim baru Iran pasca-Revolusi, dan dalam berbagai fase konflik regional, dari perang Iran-Irak hingga dinamika Afghanistan, kedua negara tetap menemukan ruang untuk berkolaborasi, meskipun sering berada di sisi yang berbeda secara taktis. Hubungan mereka, dengan demikian, tidak pernah benar-benar putus; ia hanya berubah bentuk, menyesuaikan tekanan zaman.
Di sinilah kekuatan utama analisis Vatanka: ia menunjukkan bahwa hubungan Iran–Pakistan tidak bisa dipetakan dalam kategori biner seperti “sekutu” atau “musuh”. Relasi ini lebih menyerupai spektrum yang terus bergerak: kadang mendekat, kadang menjauh, tetapi selalu dalam orbit kepentingan strategis. Bahkan dalam isu-isu paling sensitif seperti Afghanistan, kedua negara bisa sekaligus bekerja sama dan bersaing, tergantung pada konfigurasi kekuatan regional saat itu.
Lebih jauh, Vatanka juga menggarisbawahi bahwa faktor-faktor seperti keamanan perbatasan, insurgensi di wilayah Baluchistan, hingga kepentingan energi dan ekonomi sering kali jauh lebih menentukan daripada narasi identitas keagamaan. Dalam praktiknya, negara bertindak berdasarkan kalkulasi stabilitas dan kepentingan nasional, bukan solidaritas teologis. Ini menjelaskan mengapa, meskipun terdapat ketegangan Sunni–Syiah, kedua negara tetap melakukan operasi bersama melawan kelompok militan di perbatasan, serta menjaga hubungan diplomatik yang relatif stabil dalam jangka panjang.
Dengan demikian, subteks yang dibangun Vatanka menjadi jelas: hubungan Iran-Pakistan sejak awal adalah relasi yang “tidak pernah murni”. Ia bukan persaudaraan ideologis, bukan pula rivalitas permanen, melainkan sebuah hubungan yang terus dinegosiasikan ulang oleh kebutuhan strategis. Kedekatan historis mereka bukan jaminan harmoni, sebagaimana perbedaan ideologis mereka bukan jaminan konflik. Untuk memahami Iran-Pakistan, kita tidak bisa terjebak dalam narasi identitas atau sejarah semata. Kita harus melihatnya sebagai relasi yang sejak awal dibentuk oleh kepentingan sehingga rentan berubah.
AS dan Batas Kedaulatan Iran-Pakistan
Jika pada bagian sebelumnya Alex Vatanka menunjukkan bahwa hubungan Iran-Pakistan tidak pernah berdiri di atas fondasi yang murni, maka pada titik ini ia membawa pembaca pada lapisan yang lebih dalam: bahwa ketidakmurnian tersebut bukan hanya hasil dari dinamika internal kedua negara, melainkan juga akibat dari hadirnya kekuatan eksternal yang secara konsisten membentuk, membatasi, bahkan mendistorsikan arah hubungan mereka. Kekuatan itu tidak lain adalah United States.
Dalam konstruksi analisis Vatanka, AS merupakan variabel penentu yang menjelaskan mengapa hubungan keduanya sering tampak ambigu, tidak konsisten, dan sulit diprediksi. Sejak era Perang Dingin, Pakistan menempatkan dirinya sebagai mitra strategis Washington, pilihan yang bukan hanya memberi keuntungan militer dan ekonomi, tetapi juga mengikat arah kebijakan luar negerinya. Sebaliknya, pasca Revolusi Iran, Iran justru mendefinisikan dirinya dalam posisi antagonistik terhadap AS, menjadikan resistansi terhadap Washington sebagai bagian dari identitas politiknya.
Dua orientasi yang berseberangan ini menciptakan sebuah ketegangan struktural yang tidak bisa dihindari. Iran dan Pakistan bukan hanya berhadapan satu sama lain sebagai negara bertetangga, tetapi juga sebagai aktor yang bergerak dalam orbit geopolitik yang berbeda. Dalam banyak kasus, kedekatan atau jarak antara Teheran dan Islamabad tidak ditentukan oleh kebutuhan bilateral mereka semata, melainkan oleh sejauh mana masing-masing harus menyesuaikan diri terhadap posisi AS.
Di sinilah Vatanka menawarkan pembacaan yang tajam: hubungan Iran–Pakistan sering kali bukan cerminan dari apa yang mereka inginkan, tetapi dari apa yang “diizinkan” oleh konfigurasi kekuatan global. Pakistan, misalnya, berulang kali berada dalam posisi dilematis ketika harus menyeimbangkan hubungan dengan Iran tanpa mengorbankan kemitraannya dengan Washington.
Proyek-proyek strategis seperti kerja sama energi dengan Iran kerap tertunda atau dibatalkan bukan karena tidak relevan secara ekonomi, melainkan karena tekanan politik eksternal. Sebaliknya, Iran melihat Pakistan tidak pernah sepenuhnya dapat dipercaya, karena kedekatannya dengan AS membuka kemungkinan penetrasi kepentingan Washington di kawasan yang sensitif bagi Teheran.
Namun, yang membuat analisis ini semakin menarik adalah kenyataan bahwa kedua negara tidak sepenuhnya pasif. Vatanka tidak menggambarkan Iran dan Pakistan sebagai sekadar korban dari hegemoni AS, melainkan sebagai aktor yang juga mencoba memanfaatkan situasi tersebut. Pakistan, misalnya, kerap memainkan peran sebagai “jembatan” antara Iran dan Barat, memanfaatkan posisinya untuk memperoleh keuntungan diplomatik. Iran pun, dalam berbagai kesempatan, tetap menjaga jalur komunikasi dengan Islamabad sebagai bagian dari strategi untuk menghindari isolasi total.
Meski demikian, ruang manuver ini tetap terbatas. Dalam isu-isu krusial seperti Afghanistan, proliferasi nuklir, dan penanganan kelompok militan, bayang-bayang AS hampir selalu hadir, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebijakan Pakistan di Afghanistan, misalnya, tidak bisa dilepaskan dari kepentingan Washington, sementara Iran memandang kawasan tersebut sebagai bagian dari perimeter keamanannya sendiri. Ketika kedua kepentingan ini bertemu, hubungan Iran-Pakistan pun menjadi arena tarik-menarik yang tidak pernah benar-benar selesai.
Implikasi dari kondisi ini sangat mendalam: kedaulatan regional yang sering dibicarakan dalam retorika politik ternyata memiliki batas yang nyata. Iran dan Pakistan mungkin tampak sebagai dua kekuatan regional dengan kapasitas untuk menentukan arah masing-masing, tetapi dalam praktiknya, keputusan strategis mereka kerap harus dinegosiasikan dengan realitas kekuatan global. Kedaulatan, dalam konteks ini, bukanlah kebebasan absolut, melainkan ruang sempit yang harus terus diperjuangkan di tengah tekanan eksternal.
Dengan demikian, Vatanka tidak hanya menulis tentang hubungan bilateral, tetapi juga tentang struktur kekuasaan global yang membentuknya. Ia memperlihatkan bahwa untuk memahami Iran-Pakistan, kita tidak cukup melihat Teheran dan Islamabad saja; kita juga harus melihat Washington sebagai aktor yang, secara langsung maupun tidak, ikut menentukan bagaimana kedua negara ini berinteraksi.
Dan pada akhirnya, di sinilah letak kekuatan sekaligus kegelisahan buku ini: bahwa hubungan Iran-Pakistan bukan sekadar cerita tentang dua negara, tetapi tentang bagaimana kedaulatan itu sendiri menjadi relatif ketika berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar. Bayang-bayang AS, dalam pembacaan Vatanka, bukanlah latar belakang, tetapi struktur yang membentuk keseluruhan cerita Iran dengan Pakistan. Namun, benarkah demikian? Silakan baca bukunya sendiri.

















Leave a Comment