Aktivitas Membaca dan Hal yang Seringkali Luput

Permasalahan demi permasalahan dalam aktivitas membaca acapkali hadir dan menghantui bagi kalangan pembaca itu sendiri.


0
15 shares

Kemarin, 17 Mei 2019 merupakan Hari Buku Nasional. Peringatan Hari Buku Nasional memang tak semeriah hari-hari besar nan penting lainnya, misalnya, Hari Pendidikan Nasional dan Hari Pers Nasional. Padahal, Hari Buku Nasional tak kalah berartinya dengan hari-hari penting lainnya. Terlebih dalam kondisi saat ini dimana, secara umum, minat baca dan menulis warga Indonesia sangat rendah. Padahal, membaca dan menulis merupakan salah satu tonggak untuk mencapai Indonesia maju.

Untuk itu, sudah selayaknya Hari Buku Nasional kemarin patut kita refleksikan dalam konteks kekinian, terutama untuk menumbuhkan semangat atau budaya membaca dan menulis.

Perlu ditegaskan kembali bahwa kebanyakan dari kita semua tentu saja sudah mengetahui dan paham akan anjuran maupun keistimewaan dari aktivitas bernama membaca. Hal tersebut kemudian terlengkapi dengan adagium-adagium seperti: membaca merupakan jendela dunia hingga membaca adalah upaya untuk membuka cakrawala. Kendati demikian, tidak sedikit masih saja ada orang-orang yang mendapati kesulitan dalam membaca. Dalam hal ini adalah benturan dengan pelbagai aktivitas yang seringkali membuat orang merasa tidak ada waktu untuk membaca.

Tidaklah salah dari hal tersebut, saya pun menyadarinya. Tak ayal ketika kemudian banyak lembaga yang melakukan survei terhadap kemampuan literasi di banyak negara yang ada di dunia. Hingga keberlanjutannya, mereka menyajikan data-data statistika berupa angka matematis yang memperlihatkan fakta yang terjadi. Meski demikian, kita berhak tidak sepakat atas data-data yang telah tersaji. Kita berhak mempertanyakan akan data-data tersebut: diperoleh dari mana? Apa parameter yang dibuat? Atau pertanyaan-pertanyaan yang lainnya.

Dalam konteks Islam, kewajiban dari membaca, salah satunya tidak lain dan tidak bukan adalah tatkala Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu untuk pertama kalinya melalui perantara Malaikat Jibril saat bertafakur di Gua Hira berupa Iqra’ yang berarti Bacalah! Kita harus memahami bahwasannya membaca dalam hal ini tidak hanya sebatas membaca secara tekstual, melainkan kontekstual. Membaca bukan sekadar membaca buku atau bahan bacaan yang lainnya. Membaca juga berkaitan dengan membaca realitas yang berada di sekitar atau bahkan hal-hal yang terjadi pada hamparan alam semesta.

Baca Juga:  Literasi Media dan Konten Edukatif, Kunci untuk Dunia Maya Damai

Pembacaan Teks
Dalam jurnal Tashwirul Afkar Edisi No. 22 Tahun 2007 ada esai yang cukup menarik kaitannya dengan aktivitas membaca. Esai yang berjudul Mencurigai Teks, Menelanjangi Mitos tersebut merupakan karya dari Achmad Munjid. Salah satu pesan penting yang disampaikan oleh Mundjid dalam tulisan tersebut adalah bahwasannya membaca bukanlah aktivitas yang dilakukan dengan takzim untuk mendengarkan suara kebenaran. Lanjut ia, membaca berarti memiliki tujuan mencurigai setiap prasangka yang diselundupkan di balik teks.

Dengan kata lain, dalam hal ini—membaca merupakan proses pencarian dan pemaknaan secara mendalam dari apa yang tersaji pada sebuah teks hingga bagaimana seorang pembaca juga perlu memperhatikan kontekstualisasi. Ini tidak terlepas dari hakikat dari sebuah teks—terus bergerak dan merupakan pengungkap dari apa yang tersembunyi. Pembacaan harusnya bukan untuk mempertahankan dan memperjuangkan dari apa kebenaran yang termaktub dalam teks.

Ach Dhofir Zuhry dalam bukunya berjudul Peradaban Sarung (Elex Media Komputido, 2018) melalui salah satu esai yang termaktub di dalamnya, sedikit banyak menjelaskan persoalan mengenai membaca. Pengasuh Sekolah Tinggi Filsafat Al Farabi Malang tersebut dalam esai berjudul Sowan dan Cium Tangan menjelaskan—ada transformasi dan transisi yang dilalui oleh seorang pembaca. “…dari reading menuju misreading, dari misreading menuju reading berikutnya, dari reading berikutnya menuju misreading selanjutnya, begitu seterusnya. Karena tak ingin salah mengerti, maka harus membaca lagi, dan terus membaca, membaca sambil berkaca pada isi yang dibaca” (hlm. 28-29).

Lebih lanjut ia kemudian menjelaskan perkataan yang pernah disampaikan oleh filsuf Mulla Shadra berupa ittihad al-‘aqil wal ma’qul (kesatuan antara subjek yang berpikir dengan objek yang dipikirkan). Pada serangkaian proses transformasi maupun transisi itulah bagi Dhofir, merupakan proses harakah jauhariyyah atau gerak substatif dalam diri yang paling diri.  “…membaca secara makroskopis sering menjebak pembaca pada salah baca, dan pasti salah mengerti, akan tetapi membaca secara mikroskopis, justru melahirkan gelombang tanya yang tak kunjung reda” (hlm. 29).

Baca Juga:  Melanjutkan Tradisi Menulis Masyayikh

Sakralisasi Teks
Permasalahan demi permasalahan dalam aktivitas membaca acapkali hadir dan menghantui bagi kalangan pembaca itu sendiri. Di jagat dunia maya, sering ditemukan pembaca yang notabene baru membaca satu buku, kemudian seolah-olah menjadi orang yang paling intelektual maupun menguasai atas apa yang disampaikannya. Padahal yang demikian, bisa jadi justru kekeliruan demi kekeliruan banyak lahir dan sama sekali ia tidak mengetahuinya.

Hal selanjutnya yang kemudian muncul tentu saja adalah berupa sakralisasi teks. Hal tersebut ditengarai oleh sikap pembacaan berupa tekstual. Dalam anggitan Umberto Eco melalui Interpretation and Overinterpretation (Cambridge University Press, 1992)—teks yang semula merupakan benda berkekuatan gaib bisa membuat kenyataan yang semula tak terbatas kemudian menjadi terbatasi. Teks kemudian dipahami sebagai sesuatu yang utuh atau otonom.

Dalam pembahasan Karlina Supelli, melalui esai berjudulkan Ancaman terhadap Ilmu Pengetahuan (2017) itu berkait mengenai ancaman pada keberadaan keilmuan. Terkait mengenai sakralisasi teks, dalam pemaparan Karlina erat kaitannya mengenai fundamentalisme. Bagi Karlina, hal tersebut merupakan salah satu wabah yang mengancam keberadaan ilmu pengetahuan. Sumber pengetahuan yang hanya sebatas literal teks yang ada, menolak pelbagai perspektif keilmuan seperti: linguistik, hermeneutika teks atau bahkan fenomenologi.

Pada akhirnya apa yang terhampar dalam sebuah teks bukanlah sesuatu yang diam. Dibaca oleh seorang pembaca kemudian selesai begitu saja. Tetapi, teks agaknya perlu dibaca terus-menerus atau bahkan berulang-ulang. Pembacaan yang sedemikian rupalah yang diharapkan dalam aktivitas membaca. Bagaimana setiap pembaca mampu mendayagunakan akal budi hingga mengaktifkan imajinasi. Tidak lain, salah satunya adalah sebagai bentuk reproduksi pengetahuan.

Semoga saja aktivitas membaca kita tidak sekadar pada tekstual saja. Allahuma…

*Oleh: Joko Priyono. Menempuh Studi di Jurusan Fisika Universitas Sebelas Maret sejak 2014. Menulis Buku Manifesto Cinta (2017) dan Bola Fisika (2018).


Like it? Share with your friends!

0
15 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Joko Priyono