24.6 C
Jakarta

Mengobati Hati yang Terluka (Bagian XXXIV)

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Bullshit Para “Pembela” Islam

Sejak Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta, Rabu, 19 November 2014, para pembela Islam tidak bisa hidup tenang sampai hari ini. mereka semakin radikal. Radikalisme...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Jangan Sampai Mendewa-dewakan Mereka yang Mengaku Keturunan Nabi

Gelar “habib” (jamaknya “habaib”) menjadi pembeda antara keturunan Nabi Saw. dan selain beliau. Sakralitas gelar habib tak kalah menarik dibandingkan dengan predikat nabiyullah yang...

Orang Madura yang merantau ke Jakarta biasanya naik bus di Terminal Wiraraja Sumenep sampai Terminal Bungurasi Surabaya. Dari terminal menuju ke Stasiun Pasar Turi lalu menempuh perjalanan panjang selama dua belas jam ke Stasiun Pasar Senen.

Abah dan Ummi mengantar Diva di Terminal Wiraraja. Diva merantau ke Jakarta dalam rangka kuliah. Prestasi Diva sebagai juara satu Sayembara Menulis Nasional dulu mengantarkannya meraih beasiswa kuliah di kampus UIN Syarif Hidayatullah. Di antara jurusan yang tersedia dipilihlah jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) pada Fakultas Ushuluddin. Tafsir memang favorit Diva, semenjak sebelum dan lebih-lebih saat belajar di pesantren. Apalagi, orangtuanya, termasuk Abah, sangat mendukung putrinya menjadi penafsir hebat seperti M. Quraish Shihab, sampai Abah mengimpikan anaknya punya karya tafsir seperti Tafsir Al-Mishbah.

Abah mengagumi pemikiran M. Quraish Shihab. Setiap kali mengajar Tafsir al-Jalalain karya al-Mahalli dan as-Suyuthi, Abah sering mengutip Tafsir Al-Mishbah. Ingin Abah berjumpa dan belajar langsung kepada Quraish Shihab, tapi seakan sulit karena tanggung jawab mengasuh pesantren yang meminta Abah lebih banyak di Madura. Saat tahu Diva dapat beasiswa belajar di Jakarta, Abah berpesan kepada Diva, “Nak, jika Diva berjumpa dengan M. Quraish Shihab, sampaikan salam takdim dan hormat Abah kepada beliau.”

Perantauan ini salah satu cara Diva melupakan masa kelam yang amat pahit. Ingin rasanya menghapus semua tanpa tersisa, tapi belum bisa. Seakan hati ini terus terpaut dengan pesantren yang beberapa hari ditinggalkan. Bahkan, bayang-bayang menara dan semburat senja masih kuat dalam ingatan. Perjalanan ini adalah perjalanan melupakan.

Saat kaki melangkah masuk pintu Terminal Wiraraja, sosok lelaki yang tak asing wajahnya berdiri mematung tanpa sepatah kata pun. Dialah Fairuz yang datang mengantarkan perjalanan Diva ke Jakarta. Ingin Fairuz mengucapkan sepatah kata, tapi di sana ada Abah dan Ummi. Diva menatap sejenak. Ummi memandang Diva aneh, tapi karena belum tahu wajah Fairuz, Ummi tanya, “Ada apa, Nak?”

“Tidak, Ummi.” Diva mengalihkan pura-pura tidak tahu.

Seperti orang yang terlantar melihat Fairuz dengan muka kusut, sedih, dan putus pengharapan. Fairuz memotivasi dirinya sendiri dengan pesan Emma’ untuk bersabar menerima setiap kenyataan pahit, termasuk pahitnya patah hati. Diva melangkah pelan seakan kakinya terjerat cinta yang tetap terikat. Abah dan Ummi menarik tangan Diva untuk lari masuk ke dalam bus, karena bus menderu-deru berangkat. Khawatir ketinggalan bus.

Dicium tangan Abah dan Ummi. Diva digoncang dilema memilih cinta orangtua dan cinta Fairuz. Orangtua mencintainya sejak mengandung sampai tidak berujung, bahkan tidak menuntut balasan atas jasa yang telah ditorehkan. Sementara, Fairuz orang yang baru datang, tapi membawa cinta yang suci. Mencintai tanpa menyakiti. Inginya selalu membahagiakan, termasuk membahagiakan mengintip binar senja yang indah.

Dua pilihan yang berat. Tidak mau Diva memilih, namun maunya menyatukan keduanya sehingga tercipta cinta yang indah antara cinta orangtua dan cinta kekasih idaman. Tapi, caranya gimana?, desisnya.

Bus bergerak dan menghilang di belokan jalan. Biasanya Diva duduk di dekat jendela mobil. Untuk saat ini, Diva memilih duduk di tengah, karena tidak kuat melihat wajah Fairuz di balik jendela. Diva pasrah dengan keputusan terbaik Tuhan, sekalipun sama-sama tersakiti, sama-sama melupakan pada akhirnya, dan sama-sama mengenang masa indah yang sudah-sudah.

Maafkan aku, Fairuz. Perjalanan ini adalah perjalanan mengobati. Mengobati hati yang terluka. Diva membatin dalam-dalam.

Fairuz berkata dalam hatinya: Sejauh kau pergi, jika memang kita jodoh, pada akhirnya kau akan kembali.

Tiada kata yang terucap. Hanya hati yang berbicara. Malaikat menjadi saksi seberapa besar tangan Tuhan berperan di antara harapan melupakan dan mencintai. Dua hal ini memang terkesan berlawanan, tapi bila Tuhan berkehendak, maka Kun fa yakun-Nya akan membingkai indah, sehingga sulit akal merasionalkan.

* Tulisan ini diambil dari buku novel “Mengintip Senja Berdua” yang ditulis oleh Khalilullah

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Rouhani Tuduh Israel Bunuh Pakar Nuklir Fakhrizadeh

Harakatuna.com. Taheran - Presiden Iran Hassan Rouhani tuduh Israel membunuh pakar nuklir Mohsen Fakhrizadeh. Pembunuhan itu semakin meningkatkan ketegangan di wilayah Timur Tengah dan lebih luas...

Agenda Kegiatan: Virtual Learning Desain

🏅VIRTUAL LEARNING DESIGN Batch#4🏅 ( Selasa-Rabu-Kamis, 1-2-3 Desember 2020 ) Kelas On Line/virtual menjadi New Normal di bidang Learning, Coacing, bahkan Training. Dengan pemberlakuan PSBB, proses...

Menggeser Paradigma Mayoritas-Minoritas Dalam Beragama

Konflik antar umat beragama kembali memanas di India. Pasalnya, pengesahan Amandemen Undang-Undang Kewarganegaraan India (CAB) pada Desember 2019 lalu dinilai diskriminatif terhadap umat muslim...

Kearifan Lokal Dapat Dijadikan Sarana Mencegah Paham Radikalisme

Harakatuna.com. Jakarta - Indonesia sejak masa lalu sudah memiliki beragam kearifan lokal. Hampir tujuh ribu tahun sebelum masehi, Indonesia sudah mewarisi nilai – nilai...

Mengapa Tidak Ada Basmalah di Awal Surat At-Taubah, Ini Penjelasannya?

Salah satu yang menjadi pertanyaan ketika membaca Al-Quran adalah mengapa di semua surat Al-Quran terdapat basmalah. Sedangkan disurat At-Taubah sendiri tidak ada basmalahnya. Berawal...

Kuatkan Pilar Kebangsaan Untuk Pencegahan Paham Radikalisme

Harakatuna.com. Surakarta-Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) bekerja sama dengan website Harakatuna menggelar seminar Nasional di Aula Red Chilies Hotel, Lantai 5. Jalan Ahmad Yani, Surakarta,...

Peran Sunan Giri dalam Islamisasi Indonesia Timur

Judul: Jaringan Ulama dan Islamisasi Indonesia Timur, Penulis: Hilful Fudhul Sirajuddin Jaffar, Penerbit: IRCiSoD, Cetakan: Oktober 2020, Tebal: 132, Peresensi: Willy Vebriandy. Bagaimana islamisasi Nusantara...

Yordania Khawatirkan Kondisi Palestina yang Semakin Terancam

Harakatuna.com. Amman - Kerajaan Yordania khawatir hubungan Arab Saudi dengan Israel yang mulai "mesra" dapat mengancam hak pengelolaannya atas Masjid al-Aqsa, salah satu situs tersuci Islam di...