30.3 C
Jakarta

Menelisik Sejarah Gerakan Islamisme di Indonesia

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuMenelisik Sejarah Gerakan Islamisme di Indonesia
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF
Judul Buku: Radikalisme, Terorisme, dan Islamisme, Penulis: M. Mujibuddin, Penerbit: IRCiSoD, Cetakan: I, 2022, Tebal: 188 halaman, ISBN: 978-623-5348-08-7, Peresensi: Sam Edy Yuswanto.

Harakatuna.com – Kita tentu telah sama-sama memahami bahwa Islam merupakan agama rahmatan lil ‘alamiin, atau agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Dengan kata lain, agama Islam hadir untuk memberikan kemaslahatan atau kebaikan-kebaikan bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

Islam mengajarkan kepada para penganutnya agar memiliki sikap toleransi yang tinggi, termasuk kepada mereka yang tidak satu keyakinan (beda agama) dengan kita. Dengan orang-orang nonmuslim kita tetap diajarkan untuk berbuat kebaikan. Dengan catatan selama mereka tidak berusaha memerangi kita tentu saja.

Penting direnungi bersama bahwa Islam sebagai mayoritas di negara Indonesia tidak bisa bergerak semaunya karena hal itu sudah diatur dalam undang-undang negara. Peraturan ini mengindikasikan bahwa negara harus benar-benar netral dalam mengatur seluruh elemen yang ada di Indonesia.

Negara tidak diperbolehkan condong ke arah satu agama saja karena akan menyakitkan bagi yang lainnya. Kenetralan negara ini juga dibutuhkan untuk menghalau tumbuh-kembangnya radikalisme agama (halaman 100).

Menurut M. Mujibuddin, tujuan radikalisme agama tidak lepas dari faktor ideologis. Radikalisme agama menolak Pancasila yang saat ini digunakan sebagai basis ideologi negara Indonesia. Mereka menginginkan syariatisasi Pancasila dengan memperjuangkan hasil sidang BPUPKI yang mencantumkan tujuh kata. Tujuan ini kemudian diaktualisasikan melalui beberapa agenda. Dalm hal ini, Iqbal Ahnaf menjelaskan terdapat tiga model gerakan: reformasi, refolusi; ketiga, revolusi.

Gerakan reformasi dilakukan untuk mengubah sistem yang ada ke bentuk syariah secara gradual. Gerakan revolusi dilakukan dengan cara mengubah sistem secara keseluruhan dan dengan cara cepat. Sedangkan refolusi merupakan perpaduan keduanya, yaitu perubahan yang dilakukan pelan-pelan, akan tetapi tujuannya dengan mengubah seluruh sistem yang ada (halaman 101).

Gerakan Islam Transnasional

Gerakan Islam transnasional harus selalu kita waspadai bersama. Menurut M. Mujibuddin, masuknya gerakan Islam transnasional di Indonesia menjadi ancaman tersendiri bagi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ancaman ini berupa perubahan cara pandang (world view) masyarakat Indonesia terhadap berbangsa dan bernegara.

BACA JUGA  Pengakuan Mantan Ekstremis dan Agama Teroris

Misalkan, selama ini masyarakat kita sudah bisa mengaplikasikan semangat Pancasila, seperti gotong royong, saling membantu, toleransi, dan lain sebagainya, namun kemudian berubah menjadi sikap eksklusif terhadap orang/kelompok lain.

Meskipun Pancasila tidak diajarkan secara terus-menerus kepada setiap generasi, namun budaya masyarakat sudah menncerminkan demikian. Sebab, Pancasila adalah intisari dari semua kultur masyarakat Indonesia.

Ketika Islam masuk di Indonesia, Islam menyesuaikan nilainya dengan kultur masyarakat. Bahkan, Islam tidak kesulitan untuk memasukkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, sebab kultur tersebut sudah mencerminkan Islam itu sendiri. Meskipun ada yang tidak sesuai, para ulama dulu tidak akan menyebut ini “salah atau benar”, namun menyebut ini “baik dan kurang baik” (halaman 68).

Selanjutnya tentang Islamisasi. Dalam buku ini penulis menguraikan bahwa Islamisasi adalah terminologi yang dijelaskan oleh Bassam Tibu untuk menguraikan adanya gerakan kelompok Muslim yang menjadikan Islam sebagai ideologi (Tibi, 2016), yakni memosisikan Islam sebagai ideologi yang bisa disejajarkan dengan ideologi-ideologi lain, seperti komunisme, kapitalisme, sosialisme, dan ideologi besar lainnya.

Pemahaman ini berbeda dengan Islam, tanpa isme, yang berkonotasi agama. Dengan kata lain, Islam yang dimaksud oleh Tibi adalah agama itu sendiri, sedangkan islamisme adalah ideologi politik yang mengusung Islam sebagai basis ideologi.

Sejarak gerakan islamisasi di Indonesia telah dimulai sejak awal kemerdekaan bangsa ini. Gerakan seperti ini sempat macet pada era Orde Baru lantaran rezim yang otoriter sehingga gerakan islamisme sulit untuk berkembang. Namun, ketika tirai demokrasi dibuka, gerakan ini muncul ke permukaan dengan beragam bentuk dan tujuan. Pada akhirnya, kelompok-kelompok yang selama Orde Baru bersembunyi, kemudian muncul ke permukaan (halaman 72).

Buku kumpulan esai yang mengulas seputar radikalisme, terorisme, dan islamisme karya M. Mujibuddin ini layak kita apresiasi dan penting untuk dibaca oleh semua kalangan, sebagai salah satu upaya atau bentuk membentengi diri dari beragam aliran serta ideologi yang berseberangan dengan ajaran Islam itu sendiri.

Sam Edy Yuswanto
Sam Edy Yuswanto
Bermukim di Kebumen, tulisannya dalam berbagai genre tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional, antara lain: Koran Sindo, Jawa Pos, Republika, Kompas Anak, Jateng Pos, Radar Banyumas, Merapi, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, dll.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru