Harakatuna.com. Jakarta – Menteri Agama (Menag) menegaskan pentingnya peran pemikiran Islam yang inklusif dalam menghadirkan solusi nyata atas berbagai persoalan bangsa, mulai dari kemiskinan, ketimpangan sosial, krisis moral di era digital, hingga pemberdayaan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Menteri Agama saat memberikan sambutan dalam agenda IKALUIN Award 2026 yang digelar di Jakarta.
Menurut Menag, pengabdian terhadap bangsa tidak cukup diwujudkan melalui gagasan dan wacana semata, tetapi harus diterjemahkan menjadi kerja nyata yang memberikan dampak bagi masyarakat.
“Memberdayakan bangsa berarti mengambil tanggung jawab untuk hadir di tengah masyarakat, membawa solusi konkret, dan menjadi agen perubahan yang mencerahkan,” ujar Menteri Agama.
Dalam kesempatan itu, Menag juga menyoroti fenomena yang terjadi di sejumlah negara, di mana agama dan nasionalisme kerap diposisikan sebagai dua hal yang saling bertentangan. Padahal, menurutnya, pengalaman Indonesia justru menunjukkan bahwa keduanya dapat berjalan beriringan.
Ia menegaskan bahwa pemikiran para ulama, cendekiawan, serta alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta telah melahirkan kesadaran bahwa membela tanah air merupakan bagian dari manifestasi keimanan dan bentuk nyata pengabdian kepada agama.
Sejalan dengan hal tersebut, Kementerian Agama terus memperkuat implementasi moderasi beragama sebagai strategi menjaga persatuan dan harmoni sosial di tengah keberagaman.
Menag menekankan bahwa moderasi beragama tidak dimaknai sebagai upaya mengurangi nilai ajaran agama, melainkan mengembalikan praktik keberagamaan kepada prinsip jalan tengah yang adil, proporsional, dan seimbang.
“Moderasi beragama bukan berarti memoderasi agama, tetapi menghadirkan cara beragama yang moderat, adil, dan membawa kemaslahatan,” tegasnya.
Secara khusus, Menag berpesan kepada para alumni UIN Jakarta agar terus mengambil peran strategis di tengah masyarakat sebagai penggerak perdamaian dan penguat kohesi sosial.
“Para alumni UIN Jakarta harus tampil sebagai jangkar perdamaian, penguat persatuan, dan penjaga harmoni di tengah masyarakat,” pesannya.
Dalam kesempatan yang sama, Menag juga memberikan apresiasi atas penyelenggaraan IKALUIN Award 2026 yang dinilai sebagai langkah positif untuk memberikan penghargaan kepada alumni yang telah menunjukkan dedikasi dan kontribusi nyata.
Menurutnya, penghargaan semacam ini tidak hanya menjaga tradisi keteladanan, tetapi juga membangun standar moral dan etika yang kuat bagi generasi penerus.
“Atas nama Menteri Agama dan Pemerintah Republik Indonesia, kami mengucapkan selamat dan terima kasih. Karya nyata Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian adalah pilar-pilar penting, penyangga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta penjaga keluhuran budaya Indonesia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Menag menyampaikan empat pesan penting bagi alumni UIN Jakarta.
Pertama, melakukan rekontekstualisasi ilmu dengan menghapus sekat antara ilmu-ilmu keislaman dan keilmuan modern. Menurutnya, lulusan bidang keagamaan perlu memahami perkembangan teknologi dan dunia digital, sementara lulusan sains dan teknologi juga perlu memiliki kedalaman spiritual.
Kedua, alumni didorong untuk tampil di panggung global dengan membawa gagasan moderasi beragama yang lahir dari tradisi intelektual Ciputat.
Ketiga, Menag mengajak alumni untuk aktif menulis serta terlibat dalam forum nasional dan internasional guna menghadirkan solusi atas persoalan bangsa dan kemanusiaan.
Keempat, potensi besar alumni UIN Jakarta, baik dari jumlah maupun kualitasnya, harus dioptimalkan menjadi kekuatan sosial dan ekonomi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Menutup sambutannya, Menteri Agama berharap UIN Jakarta terus menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban, sekaligus melahirkan alumni yang semakin solid, mandiri, dan terus memberikan kontribusi bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

















Leave a Comment