Kisah-Kisah Gus Nadir di Australia: Dari Ukhuwah hingga Etika

Kisah-kisah Gus Nadir mencerminkan karakter seorang santri yang selalu menghormati perbedaan, serta mengutamakan etika, adab, dan akhlak pada sesama


1
78 shares, 1 point

Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir adalah orang Indonesia yang menjadi pengajar senior di Monash Law School, Monash University Australia. Peraih dua gelar doktor yang berkiprah di Australia ini juga merupakan kiai muda NU, yang sejak 2005 dipercaya menjadi  Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Nahdlatul Ulama di Australia dan New Zaeland.

Latar belakang pendidikan formal dan non-formal yang kaya, ditambah pengalaman panjang menjadi pengajar di kampus kelas dunia hingga pengasuh pesantren di Bogor, membuat sosok Gus Nadir kaya pandangan segar yang relevan diresapi umat saat ini. Di buku ini, Gus Nadir menghadirkan cerita-cerita yang dialaminya sendiri selama di Australia. Lewat tokoh bernama Kiai Ujang, Gus Nadir mengajak kita menelusuri berbagai topik keislaman di Negeri Kanguru tersebut.

Dikisahkan, Kiai Ujang adalah seorang santri yang mendapatkan beasiswa kuliah di Australia. Ia datang ke Australia pada masa ketika Islam sering disalahpahami dan dianggap sama dengan kekerasan, yakni setelah peristiwa serangan terhadap menara kembar World Trade Centre di New York pada 9 September 2002. Di sinilah, sebagai santri, Ujang bertekad berjihad di Australia. Bukan dengan senjata atau kekerasan, namun dengan dakwah yang didasari kasih sayang dan perdamaian.

Kearifan menyikapi perbedaan menjadi bekal bagi Ujang sebelum memulai perjalanan panjang belajar di Australia. Hal ini, didapatkan Ujang dari sosok Haji Yunus, seorang penjual martabak alumni pesantren Lirboyo yang sudah ia anggap sebagai guru spiritual. Sebelum terbang ke Australia, Haji Yunus berpesan untuk selalu menghargai perbedaan dan selalu mengedepankan akhlak dan kasih sayang pada sesama. “Setelah belajar ilmu fiqih perbandingan mazhab di bangku kuliah sebagai bekal pertama, inilah bekal kedua yang dibawah Ujang merantau ke Australia; mazhab cinta!”

Baca Juga:  Meneladani Pancasila (dan) Mengamalkannya

Pandagan tersebut tepat mengingat negara yang dituju Ujang adalah negara sekuler. Penduduk Australia bebas memilih agama apa pun, bahkan bebas memilih tidak beragama. Presentase umat Islam di Australia pada 2011 hanya sekitar 2,2% atau 476.291 jiwa. Segelintir umat Islam tersebut berasal dari berbagai etnik dan bangsa, dari Lebanon, Turki, Pakistan, Fiji, dan Indonesia. Penting bagi Ujang selalu menghargai berbagai bentuk perbedaan yang akan ditemuinya.

Perjalanan Ujang di Negeri Kanguru pun dimulai. Buku menyajikan kisah demi kisah selama Kiai Ujang di Australia. Dari sana, kita diajak bertualang menyelami berbagai topik seputar umat Islam di Australia, dari soal dakwah, pembangunan tempat ibadah, persaudaraan umat, hubungan dengan non-muslim, ketersediaan makanan halal, hingga praktik ibadah seperti salat, puasa, hingga berkurban.

Terkait ukhuwah Islamiah di Australia, Ujang melihat tantangan di tengah keberagaman suku dan bangsa, dengan kultur dan praktik ritual keislaman serta orientasi politik yang juga berbeda-beda. Umat Islam di Australia cenderung terbagi-bagi dalam komunitas asal negara masing-masing. Muslim dari Indonesia membuat pengajian sendiri, begitu juga Muslim dari negara-negara lain. Bahkan, masjid-masjid dibangun berdasarkan etnik tertentu.

Misalnya, Masjid Darra di Brisbane yang dibangun komunitas Pakistan. Takmir dan imam masjid pun dari Pakistan. Muslim dari etnik lain pun merasa kurang nyaman, sehingga masing-masing membangun masjid sendiri-sendiri. Pada gilirannya, ini menimbulkan persoalan kontroversi pendirian masjid di Australia. Di samping itu, kadang juga terjadi gesekan antar kelompok Islam akibat perbedaan penafsiran ayat.

Gus Nadir melihat, perpecahan di kalangan umat Islam tersebut sebenarnya tak hanya terjadi di Australia, namun juga di Indonesia, bahkan merata di bebagai penjuru dunia. Ia menekankan, sesungguhnya Islam mengimbau umat untuk senantiasa menjaga ukhuwah. Karena kaum Mukminin itu bersaudara, bagaikan susunan bangunan yang kukuh, yang harus saling menguatkan satu dengan yang lain.

Baca Juga:  Merapikan Pemikiran Bertrand Russell

Wujud ukhuwah di antaranya adalah dijunjungnya etika dan akhlak. Dalam sebuah kisah, Gus Nadir menceritakan ketika Ujang bersama jamaah mendapatkan undangan makan di rumah seorang dokter dari Makassar yang sedang menempuh studi di University of Queensland. Sang dokter menjamu jamaah dengan soto makassar. Namun, saat makan bersama, salah seorang jamaah mempertanyakan tempat membeli daging soto tersebut.

Sebab daging bukan dibeli dari halal buthcer, namun dari Coles Supermarket, seorang langsung ustaz melarang jamaah memakan hidangan tersebut. “Kang, saya tidak mungkin tega memasak dan menghidangkan daging babi untuk kawan-kawan pengajian. Yang saya sajikan ini daging sapi, hanya saja belinya di Coles Supermarket, apa saya salah?” tanya dokter sembari menahan air mata pada Ujang.

Di sinilah, Kiai Ujang kemudian menekankan pentingnya kita berbaik sangka pada tuan rumah. “Kalau daging babi ya jelas haram. Tapi kalau daging sapi yang dijual di Coles Supermarket, itu kan masih khilafiyah, ada yang membolehkan, ada yang mengharamkan. Pada titik ini, etika harus didahulukan ketimbang perbedaan fiqih,” kata Kiai Ujang, seperti dikisahkan Gus Nadir.

Kisah-kisah yang dituangkan Gus Nadir lewat sosok Kiai Ujang di buku ini mencerminkan karakter seorang santri yang selalu menghormati perbedaan, serta mengutamakan adab, etika, dan akhlak pada sesama.

Kesadaran menghormati perbedaan dan menjunjung tinggi etika serta akhlak makin langka kita temui dalam kehidupan dewasa ini, baik sesama umat Islam maupun dalam konteks hidup berbangsa. Di tengah menguatnya fenomena saling menyalahkan dan mencaci karena perbedaan, buku ini menghadirkan renungan-renungan cerdas yang bisa mengetuk kesadaran kita untuk kembali menguatkan persaudaraan, kasih sayang, dan penghargaan pada sesama. Wallahu a’lam..


Like it? Share with your friends!

1
78 shares, 1 point

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
1
Tidak Suka
Lucu Lucu
1
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
1
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
3
Suka
Al Mahfud

penulis, bergiat di Paradigma Institute (Parsit) Kudus