27.8 C
Jakarta

Iran Mulai Pengayaan Uranium untuk Hadapi Israel

Artikel Trending

AkhbarInternasionalIran Mulai Pengayaan Uranium untuk Hadapi Israel
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Taheran – Iran menegaskan akan mulai memperkaya uranium hingga kemurnian 60%. Ini mereka lakukan pasca Teheran menuduh Israel menyabotase fasilitas nuklirnya. Langkah ini mereka ambil demi bersiap diri untuk hadapi Israel.

Langkah Iran ini akan membawa bahan fisil mendekati kemurnian 90% yang cocok untuk membuat senjata nuklir. Sehingga dari itu Iran memiliki alasan untuk tidak takut hadapi Israel yang mematikan itu.

Pengumuman ini muncul sebelum pembicaraan di Wina. Tujuannya adalah menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015 dengan kekuatan dunia. Maka dari itu Iran terus membenah diri untuk siap hadapi Israel bila terpaksa ada perang saudara.

Kesepakatan itu ditentang keras Israel, setelah mantan Presiden AS Donald Trump membawa AS keluar dari kesepakatan itu tiga tahun lalu.

Saat mengumumkan pengayaan uranium 60%, kepala perundingan nuklir Iran Abbas Araqchi. Pihaknya juga mengatakan Teheran akan memasang lebih dari 1.000 mesin sentrifugal di Natanz.

Natanz merupakan fasilitas nuklir yang mengalami ledakan pada Minggu. Ledakan ini kesohor milik Teheran sebagai tindakan sabotase Israel.

“Mulai malam ini, persiapan praktis untuk pengayaan 60% akan dimulai di Natanz, 60% uranium itu digunakan untuk membuat berbagai radiofarmasi,” papar laporan kantor berita semi-resmi Fars mengutip juru bicara Badan Nuklir Iran Behrouz Kamalvandi.

“Badan Energi Atom Internasional (IAEA), pengawas nuklir PBB, telah diberitahu tentang keputusan tersebut,” papar negosiator utama Iran kepada Press TV dari Wina.

Iran Bersiap Hadapi Israel

Seorang juru bicara IAEA mengatakan kepada Reuters, “Kami telah melihat laporan media yang Anda maksud. Kami tidak memiliki komentar untuk saat ini.”

Pekan lalu, Iran dan kekuatan global mengadakan apa yang mereka gambarkan sebagai pembicaraan “konstruktif” untuk menyelamatkan kesepakatan 2015.

Iran telah melanggar batas maksimal pengayaan uraniumnya sejak Trump memberlakukan kembali sanksi keras AS terhadap Teheran.

Kesepakatan itu telah membatasi Iran pada tingkat kemurnian pengayaan uranium heksafluorida, bahan baku sentrifugal, sebesar 3,67%, jauh di bawah 90% yang dibutuhkan untuk bahan baku bom atom.

BACA JUGA  Serangan Ukraina di Pasar Donetsk Tewaskan Dua Puluh Tujuh Orang

Iran dalam beberapa bulan terakhir telah meningkatkan pengayaan menjadi kemurnian 20%, tingkat di mana uranium dianggap sangat diperkaya dan merupakan langkah signifikan menuju tingkat senjata.

Pengayaan 35% secara umum merupakan tingkat yang dibutuhkan untuk menjalankan pembangkit listrik tenaga nuklir sipil.

Senjata Nuklir Masih Menjadi Andalan Iran dan Isrel

Hambatan terbesar untuk memproduksi senjata nuklir adalah mengumpulkan bahan fisil dalam jumlah yang cukup, baik uranium yang diperkaya 90%, atau plutonium untuk inti bom.

Salah satu tujuan utama dari kesepakatan 2015 adalah memperpanjang waktu yang dibutuhkan Iran melakukan pengayaan uranium 90%, jika mau, menjadi satu tahun dari sekitar 2-3 bulan.

Iran mengatakan tidak pernah berusaha mendapatkan atau mengembangkan senjata nuklir. Iran mengakui mencari teknologi nuklir untuk tujuan sipil di bidang kedokteran atau energi.

Badan intelijen Barat percaya Iran memiliki program senjata nuklir yang dihentikan pada 2003, meskipun musuh bebuyutan Israel percaya program itu berlanjut dalam beberapa bentuk dan melihat aktivitas nuklir Teheran sebagai ancaman eksistensial.

Diplomat tinggi Iran mengatakan sebelumnya pada Selasa bahwa ledakan di fasilitas bawah tanah Natanz yang dituduhkannya pada Israel adalah “pertaruhan yang sangat buruk” yang akan memperkuat posisi Teheran dalam pembicaraan untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir.

“Saya yakinkan Anda bahwa dalam waktu dekat sentrifugal pengayaan uranium yang lebih maju akan ditempatkan di fasilitas Natanz,” ujar Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif pada konferensi pers bersama rekannya yang berkunjung dari Rusia di Teheran.

Pembicaraan Nuklir akan Terus Berlanjut

Teheran mengatakan ledakan, yang memadamkan listrik di ruang produksi mesin sentrifugal. Kabarnya Israel telah melakukan sabotase terhadap semua mesin itu.

Iran berjanji membalas dendam insiden tersebut, yang tampaknya merupakan episode terbaru dalam perang rahasia yang telah berlangsung lama.

Presiden AS Joe Biden mengatakan Teheran harus melanjutkan kepatuhan penuh dengan pembatasan aktivitas pengayaan. Ini kemudian memandatkan kesepakatan, sebelum Washington dapat bergabung kembali dengan pakta tersebut.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru