Harakatuna.com. Pangkalpinang – Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Pangkalpinang bekerja sama dengan Densus 88 Antiteror Polri menggelar sosialisasi wawasan kebangsaan dan pencegahan paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) bagi anak binaan, di Aula LPKA Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (23/6/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya preventif untuk memperkuat pemahaman kebangsaan sekaligus mencegah penyebaran paham-paham yang bertentangan dengan nilai persatuan dan kesatuan bangsa di lingkungan pembinaan. Mewakili Kepala LPKA Pangkalpinang, Kepala Seksi Pembinaan Didik Setiawan membuka kegiatan dengan menekankan pentingnya penguatan karakter kebangsaan di tengah derasnya arus informasi digital yang dapat memengaruhi pola pikir generasi muda.
“Di tengah derasnya arus informasi saat ini, benteng pemikiran anak-anak harus diperkuat. Kegiatan ini sangat krusial sebagai langkah preventif untuk mencegah berkembangnya paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme di lingkungan LPKA,” ujar Didik.
Ia juga mengajak seluruh anak binaan untuk mengikuti kegiatan dengan serius serta menanamkan nilai-nilai cinta tanah air, nasionalisme, dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Densus 88 Antiteror Polri, Ipda Hariyadi, mengingatkan bahwa kelompok radikal dan teroris saat ini semakin gencar menyasar anak-anak dan remaja melalui berbagai platform digital.
“Sasaran utama para pelaku teror adalah aparat dan warga sipil. Untuk melancarkan aksinya, mereka mulai merekrut anak-anak dan remaja melalui media sosial dan game online,” kata Hariyadi.
Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi informasi harus disikapi secara bijak agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin menyebarkan ideologi kekerasan dan kebencian. Sementara itu, anggota Tim Densus 88, Romi, menjelaskan bahwa anak-anak dan remaja, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pembinaan, merupakan kelompok yang rentan menjadi sasaran doktrinasi kelompok radikal karena faktor lingkungan dan kondisi sosial.
Menurutnya, peningkatan literasi digital menjadi salah satu langkah penting untuk membentengi generasi muda dari pengaruh negatif di ruang siber. “Anak-anak harus lebih waspada terhadap berbagai bentuk komunikasi di dunia maya yang mengarah pada ajakan, propaganda, atau pemahaman yang menyimpang dari nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya.
Kepala LPKA Pangkalpinang, Simamora, menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin antara LPKA dan Densus 88 dalam memberikan edukasi kepada anak binaan. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat karakter kebangsaan sekaligus membekali anak binaan dengan pemahaman yang benar tentang pentingnya menjaga persatuan dan toleransi.
“Melalui sosialisasi ini, kami berharap anak-anak binaan tidak hanya mengetahui, tetapi juga memahami dan mampu menjadi pribadi yang nasionalis, toleran, serta siap kembali ke masyarakat dengan perilaku yang lebih baik,” kata Simamora.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Melalui program ini, LPKA Pangkalpinang menegaskan komitmennya dalam memperkuat pembinaan karakter dan wawasan kebangsaan sebagai bagian dari upaya mencegah penyebaran paham radikal yang dapat mengancam keutuhan bangsa.

















Leave a Comment