Densus 88 Bekali Guru BK Surabaya Tangkal Radikalisme di Kalangan Pelajar

Ahmad Fairozi, M.Hum.

23/06/2026

2
Min Read

Harakatuna.com. Surabaya — Satgaswil Jawa Timur Densus 88 Antiteror Polri menjadi narasumber dalam kegiatan sosialisasi pencegahan paham radikal dan terorisme yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya di Convention Hall Siola, Surabaya, Jumat (19/6/2026).

Kegiatan bertema “Membangun Karakter Toleran dan Menangkal Paham Radikal pada Pelajar Surabaya Melalui Bimbingan Konseling” tersebut diikuti 63 Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMP Negeri se-Kota Surabaya. Sosialisasi digelar sebagai upaya memperkuat kapasitas tenaga pendidik dalam mendeteksi dini, mencegah, serta menangkal penyebaran paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) yang berpotensi menyasar kalangan pelajar.

Dalam pemaparannya, narasumber dari Satgaswil Jawa Timur Densus 88 AT Polri, Kompol Dani Teguh Wibowo, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi informasi telah membawa masyarakat hidup di dua ruang sekaligus, yakni ruang nyata dan ruang digital. Menurutnya, kemajuan teknologi memang membuka banyak peluang positif, namun juga dimanfaatkan pihak tertentu untuk menyebarkan propaganda, termasuk narasi intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme.

“Media sosial dan game online saat ini menjadi salah satu kanal yang kerap dimanfaatkan untuk menyebarkan paham intoleransi, radikalisme, hingga ekstremisme yang menyasar anak-anak dan remaja. Karena itu, penguatan literasi digital dan pengawasan aktivitas digital peserta didik menjadi sangat penting,” ujarnya.

BACA JUGA  Densus 88 Perkuat Deteksi Dini Cegah Terorisme di Lombok Barat

Ia menambahkan, peran guru, sekolah, dan keluarga menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, serta inklusif bagi perkembangan peserta didik. Guru BK dinilai memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan siswa dan dapat mengenali perubahan perilaku yang berpotensi menjadi indikator awal adanya paparan konten negatif.

“Guru BK tidak hanya berfungsi sebagai pendamping akademik, tetapi juga berperan dalam membangun karakter, menanamkan nilai toleransi, memperkuat wawasan kebangsaan, dan menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Satgaswil Jawa Timur juga mengapresiasi sejumlah sekolah yang mulai menerapkan pembatasan penggunaan gawai di lingkungan pendidikan sebagai langkah preventif untuk meminimalkan dampak negatif teknologi digital terhadap pelajar. Melalui kegiatan ini, para Guru BK diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam membangun generasi muda yang toleran, kritis, serta memiliki daya tangkal terhadap berbagai bentuk pengaruh negatif di ruang digital.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, lancar, dan interaktif. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama sesi berlangsung serta berkomitmen memperkuat peran sekolah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari pengaruh radikalisme dan terorisme.

Leave a Comment

Related Post