28.5 C
Jakarta
Array

Asal-Usul Budaya Tadarus

Artikel Trending

Asal-Usul Budaya Tadarus
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Asal-Usul Budaya Tadarus

Tadarus merupakan salah satu istilah yang terambil dari bahasa Arab –yang notabene sebagai bahasa sumber ajaran Islam- dan sudah menjadi kata baku dalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), tadarus diartikan sebagai pembacaan al-Quran secara bersama-sama saat bulan puasa. Uniknya istilah yang sudah mengakar kuat di bumi Nusantara dan sudah menjadi budaya bagi Muslim Indonesia ini tidak ditemukan dalam literatur Islam baik yang klasik maupun kontemporer. Menarik untuk ditelisik asal-usul istilah tadarus ini.

Kata tadarus awal mulanya terambil dari penggalan hadis yang pernah disampaikan Nabi Muhammad saw dalam Shahîh Muslim, Sunan Abî Dâwûd, dan musnad Ahmad bin Hanbal melalui jalur sahabat Abu Hurairah ra:

((وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ))

Tidaklah suatu kaum berkumpul di masjid untuk membaca, dan saling mempelajari al-Quran di antara mereka melainkan rasa ketenangan akan turun di hati mereka, rasa kasih sayang akan menyelimuti mereka dan para malaikat mengelilingi mereka serta Allah swt akan menyebut-nyebut mereka di kalangan para malaikat.  

Berasal dari kata dasar darasa yang berarti belajar, kata tadarus –yang dalam bahasa Arab berbentuk kata benda abstrak atau kata kerja yang dibendakan- sudah mendapat imbuhan berupa huruf tâ’ di depan kata serta imbuhan huruf alif di tengah kata.

Dua imbuhan huruf ini mempunyai fungsi tambahan makna pekerjaan yang dikerjakan oleh dua pihak. Sehingga kata tadarus berarti saling mempelajari. Orang yang mempelajari sesuatu tentu ia akan membacanya secara berulangkali. Kemudian darasa dan tadarus mengalami penyempitan makna menjadi membaca saat obyeknya disandarkan pada al-Quran. Hingga kemudian terserap dalam bahasa Indonesia, seperti halnya juga kata daras dan mendaras dalam KBBI diartikan dengan membaca al-Quran keras-keras untuk berlatih melancarkan bacaan.

Selanjutnya tadarus al-Quran sudah menjadi budaya yang umumnya dilakukan di masjid sebagaimana keterangan hadis yang telah lewat. Meskipun terkadang juga budaya tadarus juga bisa dilaksanakan di rumah. Lalu mengapa budaya tadarus al-Quran ini sangat melekat dengan bulan Ramadan? Sampai-sampai istilah tadarus hampir tidak pernah terdengar di sebelas bulan Hijriah lainnya.

Barangkali pertama kali yang terbersit di benak kita adalah karena Ramadan merupakan bulan al-Quran. Bisa jadi demikian, sebab al-Quran pertama kali diturunkan di bulan Ramadan atau lebih tepatnya saat lailatul kadar (QS al-Baqarah [2]: 185 & QS al-Qadr [97]: 1). Selain itu ternyata budaya tadarus al-Quran pada bulan Ramadan, orang pertama kali yang melakukannya adalah Baginda Nabi Besar Muhammad saw bersama malaikat Jibril di tiap tahunnya (HR. Muslim dari Ibnu Abbas). Bahkan tadarus tersebut dilangsungkan pada tiap malam Ramadan (HR. al-Bukhari dari Abdullah bin Abbas).

Jadi Nabi Muhammad dengan Jibril sekali setiap tahun bertadarus al-Quran di bulan Ramadan kecuali pada tahun terakhir sebelum beliau saw wafat, tadarus dilakukan hingga dua kali (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah). Oleh karenanya budaya tadarus al-Quran sudah seharusnya terus dilestarikan oleh setiap insan yang mengaku sebagai umat Muhammad saw. Semoga kita diberi kekuatan untuk meneladani kedekatan beliau saw dengan al-Quran. Amin []

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru