25.2 C
Jakarta

Teroris MIT dan Polusi Akhlak

Artikel Trending

Bangkitnya MIT menghentak kita. Publik kembali dikagetkan dengan aksi pembantaian keji kepada satu keluarga yang dilakukan oleh Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora, di Dusun Lima Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat 27 November 2020.

Berdasarkan laporan yang dihimpun oleh beberapa media, alasan pembunuhan karena warga tidak memenuhi permintaan anggota MIT yang meminta makanan dan beberapa lainnya kepada warga. Aksi pembunuhan yang menewaskan empat orang sekaligus itu terjadi pada 09.00 WITA.

Empat tubuh bergelimpangan. Disamping api yang membara, yang melahap enam rumah tua dan satu Pos Pelayanan Gereja Bala, tubuh-tubuh tak berdosa mati secara nista. Yati mati karena dipenggal. Sementara Naka, Pedi  dan Pinus digorok lehernya. Pedi juga dibakar oleh anggota teroris MIT yang durhaka.

Naka dan Pedi adalah bapak dan anak. Sedang Yasa adalah mertua dari keduanya. Sementara Pinus seorang menantu. Penduduk kampung yang awalnya hidup harmonis dan bahagia mendadak menangis sesedih-pedihnya lantaran kajadian keji yang menimpa keluarga Naka, yang dilakukan anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Pada Sabtu (28/11/2020), para korban dimakamkan dengan diiringi tangis  biru dan ibadah penghiburan di rumah korban. Kita semua berdoa dan berbela sungkawa kepadanya.

Pendeta, Pendeta Arnianto Mpapa, yang biasanya menemani mereka, tertatih pergi untuk melihat keadaan kampung jamaatnya. Namun nahas ia dapatkan, jamaat yang sejak dulu kala ia pimpin, telah tewas ditangan kotor jahat teroris MIT (Tirto, 28/11/2020). Sesuatu yang sebelumnya ia tidak pernah duga, tapi pada tanggal 27 November tercipta dan terlihat di depan mata.

MIT, Ali Kalora, dan Genealogisnya

Ali Kalora adalah anak ideologis Santoso atau Abu Wardah, pendiri MIT. Termasuk juga Mujahidin Indonesia Barat (MIB) pimpinan Abu Robban. Sementara MIT dan MIB adalah anak kandung dari Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Dan JAT merupakan pecahan dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan semuanya itu pecahan dari Jamaah Islamiyah (JI). Dan semua itu alumni dari Lintas Tanzim Aceh (LTA), yang diinisiasi oleh Dulmain.

Sejak gerakan Lintas Tanzim Aceh (LTA), berhasil dilumpuhkan, (tempat yang dulunya sebagai basis perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan sejak digunakan LTA sebagai pelatihan bagi para jihadis untuk persiapan pendirian  dan mendeklarasikan negara Islam), maka Santoso mengajak sejumlah kader untuk meneruskan perjuangannya di Poso. Di Poso inilah mereka kemudian, mendirikan MIT dan Ali Kalora menjadi anak didiknya.

Aksi mereka sejak 2012-2017 banyak mewarnai catatan hitam negara. Di antaranya, mereka menculik dua orang polres Poso yang sedang melintas di Dusun Tajamenka, melakukan aksi bom ke pos polisi di Kota Poso, melempar bom ketika Gubernur Sulawesi Selatan sedang berkampanye, dan menyerang Brimob yang berpatroli di Desa Kalora Poso (Abdul Jamil Wahab, 2019). Gerakan mereka disebut phantom cell structure (jaringan sel hantu) dan lone wolf terrorists (teroris yang bekerja sendirian).

Sebagaimana aksi Santoso, aksi yang dilakukan oleh Ali Kalora persis sama sebelum dihabisi aparat Tim Satuan Tugas Operasi Tinombala (gabungan TNI dan Polri) di hutan Tambora, Poso. Mereka ketika lapar dan kehabisan stok makanan akan turun dari tempat persembunyiannya, di hutan Poso. Lalu, secara brutal meminta kepada warga kecil makanan yang mereka miliki. Apabila mereka tidak mengindahkan alias tidak menuruti permintaannya, maka pemenggelan dan penggorokan leher menjadi gantinya. Seperti terjadi pada keluarga Naka, Pedi, Yasa dan Pinus kemarin itu.

Secara sengaja, anggota MIT lakukan bila warga menentang perintahnya. Bahkan apabila ada salah satu warga yang mencoba memata-matai gerak mereka, tidak bakalan panjang hidup warga tersebut. Hal itu persis seperti yang dilakukan anggota Islamic State of Iraq ad Syria (ISIS).

MIT dan Strategi Aksinya

Strategi yang mereka tancapkan, adalah ketakutan dan teror. Katika rakyat mengalami ketakutan bahkan termasuk aparat, mereka secara terbuka akan mengatakan bahwa mereka masih eksis, hidup dan tertawa menganga akibat aksi jahatnya yang bahkan aparat tidak bisa menjewer telinganya.

BACA JUGA  Islam sebagai Jalan Tengah dalam Bernegara

Keterlibatan MIT dalam terorisme sudah terendus sejak sekian lama. Ketika JAT kakak kandung dari MIT dicap dan dimasukkan kekelompok teroris oleh tentara Amerika–meski di Indonesia belum memasukkannya ke gerbong kelompok terorisme—mereka sering melakukan teror kepada publik luas di mana mereka mau.

Sebagaimana JAT, mereka sering melakukan teror dan bom di tanah air. Serangan terorisme pada 2010-2013,  turut melibatkan anggota atau mantan anggota JAT. Ada nama Ahmad Yosefa Hayat (Pino Damaryanto), anggota JAT adalah pelaku bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kota Solo, Jawa Tengah tahun 2011. Begitu juga Syarif, pelaku bom bunuh diri di masjid Polres Cirebon.

BACA JUGA  Menafsir Narasi Zulkifli M Ali, Ustaz Promotor Kiamat

Mereka terus bermetamorphosis. Setalah sebagian besar tokoh-tokoh ampuhnya ditangkap dan dipenjara, bahkan dihukum mati, tapi organisasi mereka tetap hidup, tidak mati. Mereka terus tumbuh dan melakukan teror demi teror meski tidak tertib atau terkoordinasi. Yang mereka bidik sebenarnya bukanlah rakyat biasa, melainkan aparat dan sebagiannya yang berlainan agama, dan yang terakhir ini dilakukan bila kondisi politik di Timur Tengah makin runcing.

Pembidikan kepada aparat menjadi yang utama buat mereka, sebab mereka menganggapnya dialah yang bertanggungjawab atas pengukuhan negara bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Mereka seperti ISIS, JI, HTI, JAT, dan JAD, MIT tetap konsisten menyerukan pemberlakuan syariat Islam di Indonesia. Mereka juga menolak segala produk buatan manusia, seperti Undang-Undang, Pancasila, dan sistem olahan manusia lainnya di Republik Indonesia yang dinilai berasal dari masyarakat Barat yang kafir. Fokus mereka adalah memperjuangkan tegaknya syariat Islam (tatbiqust asy-syari’ah).

Tujuan yang hendak dicapai mereka adalah mendirikan daulah/khilafah Islamiyyah di Indonesia. Bila gerakan dibendung oleh aparat dan ormas lainnya, maka mereka akan mengatakan, “kalau ormas dan agama lainnya bisa menjalankan semua keinginannya termasuk syariatnya dengan bebas, dan dilindungi oleh negara, maka kelompoknya harus diberi kebebasan yang sepadan pula”. Dengan demikian, mereka akan memperjuangkan dan mempraktikkan bahkan menegakkan Din al Islam, di bawah kepemimpinan yang satu: yaitu Khilafah Islamiyyah (Muchid, dalam Asnawati, 2015).

Dengan begitu, segala ideologi yang dianggapnya bertentangan dengan Islam, yang tidak ada di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, seperti demokrasi, liberalisme, komunisme dan lainnya, menurut mereka harus ditumpas karena akan membawa kepada kesesatan dan kekafiran (Abdul Jamil Wahab, 2019). Bahkan Pancasila yang terdapat butir-butir keislamannya, yang menjadi ideologi Indonsia harus diganti, karena ideologi Pancasila tidak menjamin tegaknya syariat Islam.

Maka tidak tidak heran bila mereka, seperti peristiwa di Sigid, bukan hanya agama Kristiani semata yang dijadikan sasaran. Tetapi Islam yang bagi mereka tidak sejalan. Adalah seperti ormas radikal yang lain, mereka tidak hanya menebar teror lewat wacana tetapi langsung dalam praktik kekejian.

Tetapi, ormas-ormas ekstrim yang sebagian besar manabur paham kekerasan lewat wacana dan tuturan adalah tidak kalah pentingnya untuk diwaspadai. Penebaran paham ekstrim, literais, kaku dan keras, meski dibungkus dengan slogan revolusi akhlak, tetapi variasinya tetap sama: yaitu menebar polusi akhlak radikal dan politik Islam yang berpotensi mengganti pilar kenegaraan dan kebangsaan di Indonesia.

Kendati, kita, mungkin juga Anda, dan muslim seluruh Dunia, kiranya harus menebar bagaimana Islam: ajaran yang ramah, toleran, tawadu’ dan adil sebagai pijakan untuk mempertabatkan manusia dan nilai keagamaan kita. Jika itu didalami dan dilakukan, percayalah bahwa perilaku kekerasan, teror, dan praktik keras nirmanusiawi tidak mungkin ditemukan dan dikerjakan, sebagaimana yang terjadi di Sigid, lalu.

Semoga keluarga korban, diberikan ketabahan. Dan Yati, Naka, Pinus, dan Pedi diterima di sisiNya. Dimasukkan ke syurga. Amin.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru