32.1 C
Jakarta

Sikap Islam: Melawan Para Pembenci Pemimpin yang Sah dalam Negara

Artikel Trending

KhazanahOpiniSikap Islam: Melawan Para Pembenci Pemimpin yang Sah dalam Negara
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Penistaan terhadap pemimpin suatu negara dan pelecehan lainnya yang melibatkan unsur SARA lainnya bukan lagi menjadi hal yang sulit untuk ditemui dalam realita kehidupan maupun bermedia sosial belakangan ini. Didasari dari berbagai faktor menjadikan manusia dengan mulutnya maupun jemarinya bebas untuk menyampaikan pendapat, penghinaan maupun sanjungan dari cara pandang pribadi yang kadang tanpa disertai dasar dan bukti. Bagaimana Islam menyikapinya?

Seperti yang kita ketahui baru-baru ini salah satu oknum menyerupakan presiden Indonesia Joko Widodo dengan Yesus Kristus “Tuhan dalam keyakinan kaum Nasrani”. Mengapa di saat banyak pihak sibuk menghadapi berbagai persoalan yang mendera bangsa, sebagian golongan malah berpemikiran, berucap dan menulis ujaran kebencian, pelecehan dan penistaan dengan nafsu yang ada dalam hati dan pikiran mereka, yang seolah-olah terlihat dari objek dengan apa yang mereka ucapkan hanya bersandarkan pada keburukan dari yang mereka utarakan.

Mungkin sebagian orang menilai penulis menuliskan hal demikian beranggapan sebagai seorang Jokower Pendukung Jokowi“. Padahal jika boleh mengungkapkan hal tersebut adalah sebuah bentuk pertanyaan, bagaimana sikap Islam saat seseorang yang secara jelas dipilih menjadi seorang pemimpin yang sah dilecehkan?

Kebencian inilah yang harus dibereskan dan dibenahi oleh para dai-dai dan lembaga keagamaan yang dipercaya oleh berbagai golongan untuk ikut andil menyebarkan Islam yang rahmat dengan penuh kasih sayang. Bukan malah sebaliknya seperti sebagian pihak yang dikenali sebagai ustaz mualaf yang hanya menyajikan perbandingan agama berkonsep ujaran penistaan agama.

Bukan pula seperti orang yang baru mengenal hijrah dan ikut berargumentasi maupun berhujah hanya dengan akal dan nafsu tanpa berlandaskan ilmu agama yang memenuhi sebagai ‘alim atau orang yang berilmu.

Jika diruntut kembali, fenomena ini terjadi karena adanya rasa benci kepada kalangan tertentu yang dalam aspek pemerintahan tak puas akan kinerja, dan dalam aspek keyakinan menyimpan beragam dendam kebencian. Serta salahnya memilih seorang guru dalam bidang agama, di mana banyak ditemui banyak orang mengakui seseorang sebagai guru, ustaz maupun sebutan yang lain hanya dalam waktu singkat tanpa meneliti sanad keilmuan seseorang yang memang pantas dijadikan sebagai seorang guru.

Latar Belakang Pelecehan Pemimpin Negara

Perbedaan pilihan politik menjadi hal yang wajar dalam kehidupan bernegara. Tetapi dalam realitanya kehidupan bernegara seakan-akan terpecah karena hanya perbedaan pilihan politik hingga di kemudian waktu menjadikan beberapa orang membenci pilihan politik terpilih yang bukan menjadi pilihan segelintir orang. Tak hanya faktor perbedaan politik, tetapi tak puas akan kinerja pimpinan membuat segolongan orang membabi buta munjudge dan melecehkan pimpinan mereka dengan berbagai stigma.

BACA JUGA  Radikalisme Islam? Tidak, Itu Adalah Perusakan Agama

Tak ayal peristiwa seperti ini menjadikan kehidupan bernegara terkesan tak harmonis. Semua ajaran agama, terkhusus dalam Islam sendiri tak pernah mengajarkan untuk mencela pemimpin yang sah. Kalaupun ada kesalahan dan rasa tak puas akan kinerja bisa diatasi dengan musyawarah untuk mencari sebuah solusi. Bukan malah sebaliknya di mana banyak orang tak puas akan sebuah kinerja maupun kebijakan malah hanya memberikan makian, celaan hingga berujung provokasi dan fitnah belaka.

BACA JUGA  Muhammadiyah dan Sikap Tidak Berlebihan Menghadapi Taliban

Hal yang lebih lucu lagi dan menjadi perhatian adalah sebagain golongan malah mengumpulkan massa untuk menggeruduk ataupun berdemonstrasi tanpa arah, mencaci maki pemimpin yang sah hingga mengancam pemimpin yang sah dengan kata-kata bernada ancaman ataupun sumpah serapah yang ada.

Tak hanya sampai demikian, adapula sebagian pihak memanasi suatu isu dalam negara yang ada dengan menyebar hoax dan fitnah sebagai bentuk kebencian akan suatu kekuasaan atau pemerintahan. Sungguh ironis memang sebagian orang yang kadang hanya masyarakat biasa hingga yang menjadi publik figur ikut berkomentar menarasikan suatu fenomena yang terjadi dalam negeri namun hanya berisi cacian, penistaan, penyebaran hoax maupun ujaran kebencian dan fitnah yang lain.

Menghidupan Cahaya Ajaran Islam

Dalam diri manusia terdapat gumpalan darah yang disebut dengan hati, pangkal atau penentu perbuatan manusia tergolong baik atau tidak. Hati, menjadi sarang godaan setan dalam mempengaruhi tingkah laku manusia, tak hanya tekanan dari bisikan setan yang gampang bersarang dalam hati tetapi nafsu juga menjadi pendorong manusia untuk melakukan kemaksiatan.

Di sinilah pentingnya kita untuk kembali mengidupkan cahaya dari norma agama dalam kehidupan bersosial secara nyata maupun maya di mana kita harus senantiasa menjunjung marwah etika sesuai dengan ajaran kebajikan yang diajarkan agama, terlebih Islam yang menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Di lain sisi kita mempunyai sosok panutan atas segala pengucapan dan tingkah laku yang mencerminkan menjadi manusia yang baik. Memanusiakan manusia bukan hanya soal tolong-menolong, tetapi pula adalah sikap untuk menghargai hak-hak manusia yang satu dengan yang lain.

Adapun saat menemui sebuah ketidakpuasan terhadap suatu kebijakan maupun kinerja seorang pemimpin negara, hendaknya dilakukan sebuah musyawarah untuk mencapai sebuah solusi yang memang dibutuhkan untuk menciptakan sistem bernegara yang harmonis. Ketidakpuasan akan sebuah kebijakan pasti akan selalu ada tetapi tak sepatutnya kita sebagai orang yang memegang norma agama malah melontarkan fitnah, makian maupun celaan. Bukankah itu sikap Islam sebenarnya. Coba renungkan!

Hilal Mulki Putra
Bernama Hilal Mulki Putra, lahir pada 10 Juni 2020, pernah nyantri di Pondok Pesantren Chasanah Tlogopucang (2013-2016) asuhan KH. Abdul Jalil kemudian melanjutkan nyantri kembali di Pondok Pesantren Sunan Plumbon Krajan, Tembarak Temanggung (2016-2019) asuhan KH. M. Abdul Hakim Cholil, S.Ag. Saat ini penulis merupakan seorang mahasiswa di Institut Agama Islam Nahdhatul Ulama (INISNU) Temanggung dan aktif sebagai tenaga wiyata kependidikan di MI Ma’arif 2 Tlogopucang. Di sela-sela kesibukan aktif menulis berbagai jenis artikel di beberapa media.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru