34 C
Jakarta

Pesawat Tak Berawak Serang Tanker Iran, Tiga Orang Kapal Tewas

Artikel Trending

AkhbarInternasionalPesawat Tak Berawak Serang Tanker Iran, Tiga Orang Kapal Tewas
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

DAMASKUS – Setidaknya tiga orang tewas dalam serangan terhadap kapal tanker bahan bakar Iran di lepas pantai Suriah . Demikian laporan kelompok pemantau konflik Suriah, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR).

“Sedikitnya tiga orang tewas, termasuk dua anggota awak, dalam serangan itu, yang memicu kebakaran,” kata Rami Abdel Rahman, kepala pemantau perang yang berbasis di Inggris itu seperti dikutip dari Al Arabiya, Minggu (25/4/2021).

Sebelumnya, kantor berita negara SANA mengutip kementerian perminyakan yang mengatakan api meletus setelah apa yang diyakini sebagai serangan pesawat tak berawak dari arah perairan Lebanon.

“Api itu padam,” katanya.

SOHR tidak dapat mengatakan apakah itu serangan pesawat tak berawak atau rudal yang ditembakkan dari kapal perang.

Tidak segera jelas siapa yang berada di balik serangan di dekat kilang Banias di provinsi pesisir Tartus yang dikuasai rezim Damaskus itu.

“Ini serangan pertama terhadap sebuah kapal tanker minyak, tetapi terminal Banias telah menjadi sasaran di masa lalu,” ungkap kepala SOHR Rami Abdel Rahman.

Mungkinkan Tanker Iran Jadi Korban Bahan Peledak di Lepas Pantai?

Awal tahun lalu, Damaskus mengatakan para penyelam telah menanam bahan peledak di pipa lepas pantai kilang Banias tetapi kerusakan itu tidak menghentikan operasi.

BACA JUGA  30 Tahanan Palestina Gelar Aksi Mogok Makan Sebagai Respon atas Penahanan Israel

Israel telah melakukan ratusan serangan udara di Suriah sejak 2011, sebagian besar menargetkan pasukan Iran dan Hizbullah Lebanon serta pasukan sekutu pemerintah Suriah.

Pada hari Kamis, serangan Israel menewaskan seorang perwira Suriah di timur Damaskus, sebagai pembalasan nyata atas rudal yang ditembakkan beberapa jam sebelumnya dari Suriah menuju situs nuklir rahasia di Israel selatan.

Sebelum perang Suriah, negara itu relatif menikmati otonomi energi, tetapi produksinya anjlok selama perang, mendorong pemerintah untuk mengandalkan impor hidrokarbon.

Sanksi Barat atas pengiriman minyak Suriah, serta tindakan hukuman AS terhadap Iran, telah memperumit impor ini.

Produksi minyak Suriah sebelum perang adalah 400.000 barel per hari (bpd). Tapi itu kini hanya 89.000 barel per hari pada tahun 2020, menteri perminyakan Suriah mengatakan pada bulan Februari, di mana hingga 80.000 berasal dari daerah Kurdi di luar kendali pemerintah.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru