25.7 C
Jakarta

The Santri dalam Gugatan FPI dan FSI

Artikel Trending

Milenial IslamThe Santri dalam Gugatan FPI dan FSI
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Jakarta – The Santri, adalah film tentang Santri yang dirilis oleh PBNU dengan sutradara Livi Zheng. Pasalnya, film ini diproyeksikan untuk mengangkat nilai-nilai ‘kesantrian’ yang beberapa tahun terakhir ini menjadi trending topik di Indonesia. Predikat santri abad ini menjadi medali emas yang direbut oleh semua kalangan. Termasuk menantu Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Hanif Alathas juga mengklaim dirinya sebagai Santri sekaligus Ketua Umum Front Santri Indonesi (FSI).

Ketua umum PBNU, Said Aqil Siraj, berharap film ini menjadi salah satu anugerah atas perjuangan Santri di Nusantara selama ini. Oleh karenanya, The Santri menceritakan seputar Hari Santri Nasional (HSN) yang di dalamnya tercermin darah perjuangan Santri untuk kemerdekaan republik ini. Namun demikian, dengan beberapa catatan, Front Santri Indonesia (FSI) menghimbau para Santri dan masyarakat Indonesia secara umum untuk tidak menonton film tersebut.

Berdasarkan pengakuan direktur eksekutif produsernya, The Santri merupakan film yang diinisiasi PBNU melalui NU Channel bekerja sama dengan sutradara Livi Zheng dan Ken Zheng serta penata musik Purwacaraka. Imam Pituduh mengatakan bahwa film tersebut memuat nilai-nilai Santri dan tradisi pembelajaran di Pondok Pesantren. Sisi-sisi kemandirian, kesederhanaan serta toleransi dan kecintaan terhadap tanah air juga akan ditampilkan.

Imam menegaskan bahwa film yang dirampungkannya nantinya bisa dinikmati oleh semua kalangan. Film tersebut dapat menyentuh seluruh elemen usia, suku, ras, dan agama. “Nilai-nilai tersebut adalah khazanah bangsa yang wajib dilestarikan, agar dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Agar dunia aman, damai, adil, dan makmur serta beradab,” ungkap Imam Pituduh dikutip dari laman nu.or.id.

Imam menambahkan bahwa The Santri menonjolkan cerita milenial dengan pilihan bintang artis milenial yang memiliki follower jutaan. Di samping itu, film tersebut menggunakan alur maju mundur, yang mencerminkan kisah dan realitas sejarah serta visi masa depan bangsa Indonesia,” lanjutnya.

The Santri dalam Gugatan

Seiring dengan diluncurkannya trailer resminya, The Santri menuai kontroversi bahkan penolakan beberapa kalangan. Kelompok yang menolak keras rancena penerbitan film tersebut adalah Front Santri Indonesia (FSI) yang diplopori oleh menantu Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, Hanif Alathas. Penolakan FSI tersebut secara serentak diedarkan melalui selebaran poster kepada beberapa media cetak dan online di tanah air pada Minggu (15/9).

BACA JUGA  Menteri Agama dan Bahasa Arab; Antara Tuntutan dan Kebencian

Bersamaan dengan aksi penolakan FSI, Juru Bicara Front Pembela Islam (FPI) yang juga Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212, Slamet Maarif telah mengonfirmasi bahwa FSI dan Hanif memang menolak penayangan film The Santri.

Selain itu, penolakan juga datang dari Sekretaris Umum DPP FPI Munarman. Pihaknya juga mengirim poster penolakan melalui Luthfi Bashori. Luthfi mengharap kepada jamaahnya dan para santri pada umumnya agar tidak menonoton film The Santri yang akan tayang pada Oktober mendatang. Sebab, menurutnya film tersebut tidak sesuai dengan syariat Islam serta tidak mengandung tradisi pesantren Ahlussunah wa al-Jamaah.

“Film ini tidak mendidik. Cenderung liberal. Ada akting pacaran, campur aduk laki perempuan dan membawa tumpeng ke gereja,” tutur Luthfi, pengasuh Pesantren Ribath Al Murtadla Al Islami Singosari, Malang, Jawa Timur.

Keterangan Produser Film The Santri

Setelah penolakan tersebut menjamur di media sosial, direktur eksekutif produser film ini perlu menyampaikan klarifikasi kepada publik. Imam Pitudu menanggapi penolakan ini dengan serius. Melalui situs nu.or.id pihaknya meluruskan bahwa film yang sedang dalam proses perampungannya, dinilai sangat layak untuk semua kalangan.

Menurut Imam, sebelum memberi tanggapan dan apalagi menyatakan penolakan, harusnya terlebih dahulu mencerna muatan film tersebut secara utuh. Berdasarkan analisa tim Harakatuna.com, film The Santri memiliki muatan sebagaimana berikut:

The Santri mengangkat nilai-nilai kaum Santri dan tradisi pembelajaran di Pondok Pesantren yang berbasis kemandirian kesederhanaan, toleransi serta kecintaan terhadap tanah air.

The Santri dipersembahkan sebagai wahana untuk menginformasikan dan mengkomunikasikan keberadaan dunia santri dan pesantren yang memiliki pemahaman tentang Islam yang ramah, damai dan toleran dengan komitmen cinta tanah air, serta anti terhadap radikalisme dan terorisme.

The Santri memotret kehidupan keberagamaan dan komunitas lintas iman, kemudian mempromosikannya kepada publik.

The Santri berfokus pada suasana di sebuah Pondok Pesantren yang sedang mempersiapkan perayaan Hari Santri. Seorang guru menjanjikan bahwa enam orang santri terbaik akan diberangkatkan dan bekerja di Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan bahwa Santri dan pesantren sangat apresiatif terhadap santrinya serta mensupport untuk melanjutkan pendidikannya sekalipun keluar negeri. (Fay)

Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru