34 C
Jakarta

Teror FPI-HTI: Sang Penjahat Kampus, Pemerintah, dan Umat Islam

Artikel Trending

Milenial IslamTeror FPI-HTI: Sang Penjahat Kampus, Pemerintah, dan Umat Islam
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Ada yang menarik dalam buku Ayik Heriansyah, Dakwah Deradikalisasi, yang saya resensi Ahad (21/3) kemarin, yaitu judul ke-38: “Radikal Abal-abal”. Apa yang Ayik uraikan mengingatkan saya pada Ali Imron, saudara teroris Amrozi bin Nurhasyim, pelaku Bom Bali I. Ali Imron mengatakan, bahwa dari sebagian pengacau NKRI, ada yang tingkat radikalnya nanggung. Tidak berkelas, tidak berani mati, dan sekadar tebar provokasi. Kita dapat membaca bahwa yang ia maksud ialah: teror FPI-HTI.

Sebagai eks-teroris kelas tinggi di Indonesia, Ali Imron tahu persis bahwa yang ia dkk perangi adalah pemerintah. Thaghut, dalam bahasa mereka. Mereka tidak ada kepentingan dengan kampus atau bahkan umat Islam secara umum. Fokusnya adalah meruntuhkan pemerintahan, mengganti sistem ke-thaghut-an, barulah kampus dan umat Islam ada dalam genggaman mereka. Mereka, meminjam bahasa Ayik, radikal karena ideologi an sich, bukan karena kepentingan pribadi atau pragmatisme.

Sekuat apa pun Ismail Yusanto benci dengan pemerintah, dengan membuat konten hujatan-cercaan-fitnah di YouTube, maka itu saja keberaniannya. Begitu pula dengan Habib Rizieq. Sedalam apa pun ia menganggap rezim Jokowi zalim dan komunis, maka hanya begitu ukuran nyalinya. Paling mentok berani menghujat atau memobilisasi umat—adu massa. Mustahil mereka mengebom, meneror, atau membunuh musuhnya. Pada penjara saja ciut, apalagi pada bom. Kecut.

Beda kelas dengan Amrozi cs yang bahkan saat hendak dieksekusi, ketakutan tidak tampak di wajahnya. Atau berbeda dengan Aman Abdurrahman, yang walaupun mendekam lama di penjara, kelakuannya tetap kalem dan santai. Apakah Aman pernah berontak di persidangan? Tidak ada rekam jejaknya. Orang seperti Amrozi atau Aman adalah potret radikalis sejati, pemberani, konsisten. Kendati kita tahu bahwa mereka berada di jalan yang salah, paling tidak kita bisa apresiasi kejantanannya.

Teror FPI-HTI, kendati tidak main bom, justru sangat memuakkan. FPI bermain dengan emosi umat dan mengulik pemerintah. HTI bermain di kampus, merusak generasi penerus, terutama di kampus umum. Meski nanggung, teror FPI-HTI itu terjadi terus-menerus.

Teror FPI-HTI yang Nanggung

Apa ‘terus-menerus’ yang dimaksud? Kita bisa merujuk itu dalam kasus-kasus (f)aktual. Habib Rizieq, Imam Besar FPI, berdrama di persidangan. Ia tidak berkenan ikut sidang online dan menganggapnya sebagai bentuk diskriminasi dari aparat dan pemerintah. Mengaku didorong, direndahkan dan dihinakan. Saat persidangan terjadi, ia malah salat. Saat hakim bertanya, ia malah bungkam, dan katanya sedang berzikir. Lalu bersama Munarman cs, drama sidang berujung walk out.

Boleh jadi banyak yang tidak tahu, bahwa ini bukan pertama kali Habib Rizieq berdrama. Bukan Habib Rizieq namanya kalau tidak ribet dan menyusahkan. Pernah kabur ke Arab Saudi dengan alasan penyelesaian disertasi, padahal aslinya menghindari panggilan polisi. Setelah di Saudi, dramanya berlanjut seolah ia dapat mandat dari Nabi untuk melawan Jokowi. Setelah pulang, ia terus memprovokasi. Rezim zalim, komunis, neo-liberal, dkk, adalah produk narasi provokatifnya.

BACA JUGA  Terbongkar! Sekolah-Pesantren Khilafatul Muslimin; Mendoktrin Khilafah, Membenci Pancasila

HTI juga berjalan dalam siasat yang sama nanggungnya. Mohammad Basyuni, Guru Besar Biotenologi Kehutanan Universitas Sumatra Utara (USU), mungkin tidak banyak tahu bahwa ternyata ia pernah menjadi bagian internal HTI. Kita bisa melihat rekam jejaknya dalam sebuah Halaqah Islam & Peradaban yang diselenggarakan HTI DPD I Sumut, di Amaliun Food Court, empat tahun lalu. Saat itu, Basyuni menjabat sebagai Ketua Lajnah Khusus Intelektual HTI Sumut.

Provokasi yang Basyuni bawa ialah bahwa NKRI tengah mengalami penjajahan gaya baru. Ia mengatakan, bahwa sejak jauh hari, HTI sudah mengabarkan perihal bahaya komunisme, neo-liberalisme dan neo-kapitalisme. “Mari kita kembalikan sistem ideologi yang dianut Islam,” ungkapnya, seperti dalam pemberitaan Koran Waspada.

Keradikalan FPI nanggung dengan caranya sendiri: hanya bernyali provokasi umat dengan pemerintah. Sementara HTI tidak kalah nanggung karena sekalipun pemerintah telah mereka thaghut-kan, mereka tetap makan gaji dengan menjadi PNS. Kasus Habib Rizieq dan Mohammad Basyuni hanya satu sampel kasus dari kejahatan atas kampus, pemerintah, dan umat Islam secara umum. Anehnya, kenapa kita sebagai umat diam padahal teror FPI-HTI terus membodohi?

Kita Tidak Boleh Diam!

Kampus harus kita selamatkan dari orang-orang HTI yang ingin jadi pengacau negeri sambil tetap makan gaji. Negara harus juga kita lindungi dari dedengkot FPI yang suka menebar kebencian, fitnah, sambil berlagak seolah paling keras menjaga Islam. Sementara, kita sendiri, umat Islam, harus selamat dari teror FPI-HTI. Jika tidak, kampus akan rusak, negara akan pecah, dan umat Islam saling bertengkar gara-gara para penjahat tersebut.

Tidak ada dari kita yang berakal sehat akan membela terorisme. Tetapi kita tidak bisa fokus pada satu titik dengan meyakini teroris hanyalah mereka MIT di Poso atau separatis di Papua. Para jihadis takfiri jutru lebih jelas sebagai musuh karena mereka ambil sekat dengan kita, juga tidak berkepentingan dengan siapa pun. Mereka hanya memusuhi negara thaghut, dan tidak sekali pun berniat menjadi PNS. Musuh kita yang kelabu adalah mereka yang berbaur; di kampus, di pemerintahan, atau jadi tokoh masyarakat.

Apakah kita hendak mendiami ini semua? Tidak boleh. Kita wajib bersuara bahwa penjahat kampus, penjahat pemerintah, dan penjahat umat Islam masih berkeliaran dengan bebas. Tidak seperti teroris tulen yang mendekam di penjara, teror FPI-HTI mengelabui kita dengan keahliannya masing-masing. Belang dan licik seperti ular, dan menggigit ganas seperti serigala. Sembari menikmati fasilitas negara, teror FPI-HTI menzalimi dunia akademik, negara, serta kita semua.

Masih tetap diam dan tidak percaya? Keterlaluan.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru