28.3 C
Jakarta

Serial Pengakuan Mantan Napiter (XLXX): Eks Napiter Syaiful Arif Dapat Umrah Gratis dari Polres Lamongan

Artikel Trending

KhazanahInspiratifSerial Pengakuan Mantan Napiter (XLXX): Eks Napiter Syaiful Arif Dapat Umrah Gratis...
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Terorisme masih belum tuntas di negeri ini. Masih banyak bangsa yang terpapar paham menyesatkan itu dan belum hijrah ke jalan yang benar. Bangsa ini dibutakan dengan paham yang jelas-jelas bertentangan dengan misi agama yang menjunjung tinggi kemanusian dan perdamaian.

Meski begitu pemerintah tidak berhenti bergerak untuk melakukan deradikalisasi. Baik deradikalisasi dalam bentuk seminar di beberapa wilayah ataupun deradikalisasi melalui tulisan di media sosial. Intinya pemerintah terus bergerak untuk mengentaskan terorisme di negeri ini.

Salah seorang yang pernah terpapar terorisme adalah Syaiful Arif. Ia adalah warga Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro. Setelah bertobat, ia mendapat umrah gratis dari Polres Lamongan. Ia merasa bahagia, karena ini baru pertama kali ia mendapat hadiah berangkat ke tanah suci.

Saking gembiranya, Syaiful merasa kesulitan mengungkapkan dengan kata-kata. Ia kesulitan untuk berkomentar karena ini merupakan momen yang sangat membahagiakan bagi dirinya. Ini, bagi Syaiful, termasuk rezeki yang tidak terduga (min haitsu la yahtasib). Ini termasuk program dari kepolisian yang bagus dan disa diaplikasikan kepada manta napi teroris yang lain.

Program pemberian umrah gratis bagi mantan napi teroris yang dilakukan oleh pihak kepolisian setempat penting diapresiasi. Karena, dengan cara inilah beberapa mantan napiter tidak bakal kembali lagi ke paham yang sebelumnya. Mereka akan memilih hijrah, seperti yang telah dilakukan oleh Syaiful itu.

Saling memberi termasuk bagian dari ajaran Islam untuk mengubah benci menjadi benar-benar cinta. Perhatikan saja pesan Kanjeng Nabi: ”Tahadu tahabbu, saling beri hadiah, maka akan menumbuhkan benih-benih cinta”. Ini merupakan konsep yang disarankan oleh Islam yang sudah banyak dilupakan. Bukankah banyak pendakwah yang memaksa kehendaknya sendiri untuk diterima oleh orang lain, sedang dia belum mengerti kebutuhan mereka?

Ada satu pesan dari Husein Ja’far Al-Hadar, seorang dai milenial, bahwa jangan berbicara Tuhan itu ada kepada orang yang kelaparan. Kasih mereka makan dulu, kenyangkan perutnya. Baru sampaikan Tuhan itu ada. Pasti orang itu akan membenarkan ucapannya. Pesan Husein ini berkaitan erat dengan apa yang dilakukan pihak kepolisian yang membiayai Syaiful melaksanakan umrah karena ia benar-benar membutuhkannya.[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini disadur dari cerita mantan napi teroris Syaiful Arif yang dimuat di media online Detik.com

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru